Adaptasi, Pembiasaan Ramadhan Proteksi Terhadap Ketahanan Fisik dan Mental

30 Mar 2024, 09:45:49 WIB Gaya Hidup
Adaptasi, Pembiasaan Ramadhan Proteksi Terhadap Ketahanan Fisik dan Mental

Keterangan Gambar : Lilis Nuraeni-Penulis Artikel.


Pinusnews.id - Tubuh kita sampai dengan batas toleransi tertentu dirancang sedemikian rupa untuk tetap adaptif dengan kondisi apapun. Namun kemanjaan fisik, hati dan pikiran membuat orang perlu adaftasi secara pelan-pelan dan bertahap. Di awal-awal melaksanakan ibadah puasa ramadhan sebulan penuh, seperti sahur dan beraktivitas kita membutuhkan adaptasi itu baik secara fisik, hati juga pikiran. 

Durasi kecepatan adaftasinya pun pada setiap orang berbeda-beda, tergantung sejauhmana fisik, hati dan pikiran itu siap menerimanya. Semakin ikhlas adaftasi semakin cepat. Karena terjadi keseimbangan yang harmonis antara hormonal, hati dan pikiran. Fisik, batin dan pikiran saling menerima, dan terjadi simpulan ikatan yang manis. Tubuh dan emosi (hati) , juga pikiran sama-sama relaksasi.

Tradisi puasa Senin Kamis dan puasa Nabi Daud (puasa selang-seling hari), merupakan pembiasaan yang efektif terhadap percepatan adaftasi menjalankan puasa ramadhan. Sebagian dari kita yang telah terbiasa melaksanakan kedua jenis puasa itu akan mudah beradaftasi dalam menjalankan Ramadhan sebulan penuh. Aktivitas dalam menjalankan puasa bukan lagi kendala. Sebab fisik, hati dan pikiran telah terbiasa menerima (enjoy) meskipun tentu ada sedikit perbedaan. Hanya sayang sebagian besar dari kita belum menyadari manfaat dari pembiasaan kedua jenis puasa tersebutl. Hingga sebagian dari kita awal menjalani puasa terasa berat. Maunya tidur melulu. 

Baca Lainnya :

Pembiasaan puasa sunah pun tentu sekaligus akan memberikan efek positif ganda, bukan hanya untuk ketahanan dan kesehatan fisik saja tetapi juga dapat mengantisipasi, melawan hawa nafsu. Hati, pikiran telah terbiasa istiqomah menjaga kesuciannya dari perbuatan buruk dan dapat memberikan energi positif bagi sekeliling.  

Terdapat pemahaman yang salah kaprah dan kesadaran yang “keblinger” dari sebagian kita dalam menyikapi makna puasa ramadhan. Seolah olah kita berusaha untuk menjaga hati, nafsu dan pikiran buruk pada saat Ramadhan saja. Seolah kita dianjurkan untuk menjadi dermawan, peduli, manusiawi pada saat Ramadhan saja. Padahal berbuat baik dan menghindar dari kebatilan itu adalah perkara keseharian, alias bukan situasional. 

Namun Allah SWT maha mengetahui, sangat paham perkara tabiat kita, bahwa manusia mudah tegelincir melakukan perbuatan buruk, dan sulit (harus dipaksa berbuat baik). Maka iming-iming pahala adalah motivasi. Pun efektivitas waktunya harus dikondisikan, dilock down. Ramadhan adalah bentuk isolasi spektakuler untuk upaya mempertahankan kekuatan fisik, hati dan pikiran. Mengembalikan kejernihan dan kesucian. 

Padahal ibadah itu bukan tujuan tetapi proses. Proses menuju ketahanan fisik, mental, dan pencapaian kesadaran untuk dekat engan tuhannya. Atas dasar tabiat manusia itu maka momen Ramadhan dijadikan pemaksaan, pemerkosaan yang positif untuk mensucikan diri. Fitrah manusia yang baik (tulus, suci) berusaha didesain, dan dikembalikan kepada basic nya. Dikembalikan secara paksa kepada naluri insan Kamil yang mulia yang telah Alloh SWT anugerahkan, meskipun dalam perjalanannya saling berebut dengan kebatilan. 

Idealnya pemaksaan positif tehadap diri dan masyarakat itu tak hanya hadir saat momen Ramadhan saja. Namun bagaimana menciptakan pembiasan menahan hawa nafsu baik secara personal maupun sistem yang menyangkut masyarakat banyak lebih diupayakan.

Contoh kebiasaan personal buruk yang dianggap biasa, yaitu gibah, dan yang menyangkut patologi masyarakat seperti pelacuran, perjudian terkondisikan, dan dibuat sistem.

Mengapa gibah, berbohong dan sebagainya. Penekanannya tidak dbolehkan ketika bulan puasa. Mengapa pada bulan-bulan yang lain kita tidak membiasakan untuk diskusi ilmu, untuk memberi makna positif terhadap budaya ngobrol di masyarakat kita. Mengapa anjuran dan operasi penutupan tempat-tempat maksiat ditekankan untuk ditutup hanya pada ramadhan saja. 

Jika asumsi dan kesadaran demikian terus berlangsung situasional saja maka akhlak peradaban umat muslim sulit untuk bergerak menuju kebermaknaan, sedangkan berbuat baik itu tuntutan hidup sehari-hari. (Lilis Nuraeni).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment