Menembus Paradox Eksistensial: Dari Agrabinta ke Takokak

13 Apr 2026, 07:39:32 WIB PERISTIWA
Menembus Paradox Eksistensial: Dari Agrabinta ke Takokak

Keterangan Gambar : Ketua Partai Solidaritas Indodesia, DPD Kabupaten Cianjur, Anggarda Giri Rajati bersama para Pengurus, saat berada di Agrabinta dan Takokak.


Pinusnews.id - Meskipun sama-sama berbatasan dengan Sukabumi, jarak dan kondisi geografinya sangat berbeda sehingga kedua wilayah serumpun ini hidup dalam realitas politik yang berbeda. Perjumpaan kami dengan kader PSI di kedua desa menambah dimensi politis bahwa warga desa bergulat antara harapan akan perubahan dan kenyataan struktur politik yang jauh.

Perjalanan ke pelosok biasanya cuma soal jalan rusak, pantai sepi, atau makan ikan segar. Tapi perjalanan saya ke Agrabinta dan Takokak yakni dua kecamatan di Kabupaten Cianjur yang secara administratif berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi namun letaknya jauh terpencar mengundang renungan lain. Agrabinta berada sekitar 130 km di selatan Kota Cianjur, dekat sekali dengan Samudra Hindia dan dilintasi jalur Lintas Selatan. Di sana pantai berpasir hitam memanjang 22 km dengan kandungan pasir besi tinggi. Takokak justru terletak di bagian tengah Cianjur dan baru dimekarkan dari Kecamatan Sukanagara pada 1983, kecamatan ini menjadi tapal batas antara Cianjur dan Sukabumi namun tidak memiliki jalur utama. Jaraknya yang jauh membuat kedua wilayah yang "serumpun administrasi" ini punya lanskap, budaya dan akses politik yang sangat berbeda. Dari sinilah saya mulai merenungkan bagaimana paradoks eksistensial bisa menjelaskan dinamika politik di level lokal.

Agrabinta: Hitamnya Pasir, Gelora Laut dan Aliran Sungai

Baca Lainnya :

Agrabinta menunjukkan bagaimana wilayah pinggir bisa memancarkan daya hidup sekaligus ketidakpastian. Kecamatan ini dulu satu dengan Kecamatan Leles, tetapi kini telah dimekarkan menjadi dua. Letaknya sekitar 130 kilometer dari Kota Cianjur dan hanya sekitar 2 kilometer dari Samudra Hindia. Wilayahnya terdiri atas pantai, dataran rendah dan perbukitan dengan lembah curam tanpa akses dengan ketinggiannya antara 0–300 meter di atas permukaan laut. Sungai besar seperti Cibuni, Cidahon, Cisokan dan anak-anak sungainya membelah wilayah ini. Pantai sepanjang 22 km ditutupi pasir hitam dengan kandungan besi tinggi. Inilah tempat di mana alam tampak luas, indah sekaligus rawan dimana gelombang Laut Selatan terkenal ganas dan potensi tsunami pasti membayangi.

Pantai Lugina

Pantai Lugina, dekat muara Sungai Cidahon, menjadi ikon wisata Agrabinta. Dari jalan lintas selatan yang besar, pantai ini bisa dicapai sekitar 15 menit. Hamparan pasir hitam yang landai berpadu dengan ombak besar khas laut selatan. Di tepi pantai berdiri sebuah bungker tua peninggalan Belanda yang dikenal warga sebagai Gedong Peuteng. Keunikan alam dan sejarah ini mengundang wisatawan, namun jaraknya yang jauh dari pusat kota membuat pembangunan infrastruktur tersendat. Ini menciptakan paradoks bahwa pesona alam besar tetapi akses lemah, sehingga warga sering merasa terpinggirkan dalam pengambilan kebijakan.

Takokak: Dataran Tinggi Perbatasan dan Semangat Komunitas

Jika Agrabinta adalah laut dan pasir, Takokak adalah perbukitan, sawah dan udara sejuk. Kecamatan ini baru dimekarkan pada 1983 dari Kecamatan Sukanagara dan berada di Cianjur bagian tengah. Takokak berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukabumi. Walau sama-sama berbatasan dengan Sukabumi, jarak antara Takokak dan Agrabinta sangat jauh ditambah untuk menempuhnya harus menyusuri jalan menanjak dan menurun melalui sejumlah kecamatan lain. Takokak terdiri atas sembilan desa seperti Bungbangsari, Hegarmanah dan Pasawahan. Ia merupakan wilayah pertanian dengan udara dingin, banyak warga menggantungkan hidup pada tanaman hortikultura. Karena terpencil dan terpisah dengan akses utama, kami menyadari warganya sering merasa luput dari arus informasi politik. Namun semangat komunitas kuat, pertemuan kami dengan kader PSI menjadi ruang diskusi sekaligus hiburan.

Menautkan Perjalanan dengan Politik Eksistensial

Selama perjalanan, kami bertemu kelompok warga dan kader Partai PSI di kedua kecamatan. Mereka berkumpul di halaman rumah, berdiskusi, meminta APK dan bercerita tentang harapan akan perubahan. Kehadiran partai politik di kampung terpencil mengingatkan bahwa meskipun banyak warga pesimis dan jenuh terhadap politik nasional, mereka tetap mencari tempat untuk merasa diwakili. 

Mencari Makna

Semua orang pernah bertanya, Apa arti hidup ini? Filsafat eksistensial yang sering dibicarakan para pemikir seperti Camus atau Sartre berbicara tentang hal ini, tetapi dalam bahasa rumit. Sederhananya, mereka mengatakan bahwa dunia ini tidak selalu memberi jawaban siap pakai. Kita bisa merasa kecil di hadapan alam atau peristiwa besar. Namun justru karena tidak ada aturan baku, kita punya kebebasan untuk menentukan arah hidup bahkan menjawab pertanyaan dasar tersebut. Kebebasan ini bisa menakutkan karena berarti kita harus bertanggung jawab sendiri. Tapi inilah kesempatan untuk menciptakan makna lewat tindakan kita sehari-hari, begitu juga di politik.

Di desa, saya melihat hal ini jelas. Warga Agrabinta dan Takokak tidak menunggu jawaban dari luar, mereka membangun desa, memperbaiki jalan, dan saling membantu dalam rembuk warga. Mereka mungkin tak memakai istilah "eksistensial", tetapi mereka paham bahwa hidup punya arti ketika mereka bekerja bersama dan mendukung satu sama lain. Kami pun memahami bahwa mereka kuat secara komunitas.

Mengikuti Arus atau Punya Suara Sendiri?

Pernahkah kita ikut ramai-ramai tanpa berpikir? Dalam banyak hal, manusia mudah terbawa arus seperti ikut karena semua orang ikut. Di sisi lain, kita juga punya dorongan untuk mencari kebersamaan dan identitas. Sering kali kita mendukung tokoh atau partai yang sejalan dengan nilai kita karena ingin merasa menjadi bagian dari sesuatu. Perjalanan ini mengingatkan saya bahwa kita perlu menyeimbangkan keduanya. Tidak salah ikut dalam kelompok, asal kita tetap kritis dan tahu apa yang diperjuangkan. Kader kami di Agrabinta dan Takokak tetap punya pandangan sendiri dan berdialog tentang banyaknya alasan bergabungnya mereka ke PSI. Dalam perbincangan dengan mereka, muncul tema-tema eksistensial dimana mereka mencari arti dari partisipasi politik dan identitas kampung mereka. Ada rasa cemas karena janji perubahan sering tak ditepati, jenuh tapi mereka tetap ingin bertindak. Ini cocok dengan gagasan eksistensial bahwa kebebasan hadir bersama kecemasan, namun makna mesti diciptakan melalui tindakan, bukan dihadiahi oleh sistem.

Refleksi: Memaknai Politik dari Pinggir

Pengalaman menyusuri Agrabinta dan Takokak memperlihatkan bahwa paradoks eksistensial bukan sekadar teori tetapi ia nyata di jalan-jalan desa. Warga di Agrabinta hidup di tengah keindahan yang terisolasi. Ombak besar dan sungai yang melimpah menjanjikan sumber daya, tapi jalan dan layanan publik terbatas. Mereka merindukan kehadiran negara namun juga curiga terhadap janji-janji politik yang sering datang hanya saat pemilu. Warga Takokak di dataran tinggi merasakan perasaan serupa, mereka menjaga kebersamaan desa tetapi juga ingin akses yang lebih baik menuju kota.

Ketika dihadapkan pada ketidakpastian, masyarakat mudah terpikat oleh narasi sederhana. Di media nasional kita sering melihat wacana "pemimpin kuat" yang menawarkan solusi instan. Namun perjalanan ini membuat kami yakin bahwa perubahan sejati justru berasal dari pengakuan akan kompleksitas yang diselesaikan secara tuntas. Politik yang sehat harus membuka ruang bagi warga untuk menciptakan makna sendiri, bukan memaksakan identitas homogen. Ini berarti memperkuat pendidikan, partisipasi lokal, dan jembatan infrastruktur antara pusat dan pinggiran.

Perjalanan melintasi kedua wilayah ini menjadi metafora tentang pentingnya menjembatani jarak baik jarak geografis maupun jarak antara gagasan politik dan kenyataan hidup. Dengan memahami paradoks eksistensial di balik perilaku politik, kita mungkin lebih bijak dalam merespons kecemasan kolektif, membangun solidaritas autentik, dan menolak godaan jalan pintas otoritarian dari petualang politik.

Penulis: Anggarda Giri Rajati-Ketua Partai Solidaritas Indonesia- DPD Kabupaten Cianjur.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment