- Disiplin Sekolah Cianjur: Visi Tegas Ipan Sopandi dalam Larangan Motor dan HP Siswa
- Sinergi Kampus dan Desa: KKN UIN Bandung Wujudkan Pembangunan Partisipatif di Cianjur
- Metty Triantika: Gentengisasi Peluang Emas Ekonomi Lokal di Tengah Peningkatan Kualitas Hidup
- Bulog Cianjur Capai 78% Target Penyerapan Gabah: Komitmen Kuat untuk Kesejahteraan Petani
- Gubernur bersama Menteri PKP Resmikan Program Bedah Rumah, Total 40.000 Unit di Jabar
- Proyek Geothermal Gunung Gede Pangrango: Ancaman Lingkungan vs Ketahanan Energi Nasional
- Presiden Prabowo dan Presiden Putin Perkuat Kerja Sama Energi, Antariksa, hingga Pendidikan
- Transformasi Digital Cianjur: Pelatihan AI ASN untuk Layanan Publik yang Lebih Baik bagi Masyarakat
- Wagub Erwan Lantik Anggota BPSK Jabar 2026-2031
- Respons Kilat Camat Mande Selamatkan Pengguna Jalan dari Bahaya Tanah Licin di Bobojong
Parenting pada Anak
Oleh: Siti Nurasiah, Mahasiswa Semester 7 Prodi Hukum Keluarga Islam STAI Al-Azhary Cianjur

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Sumber: genmuslim.id)
Pinusnews.id- Sebagaimana kita ketahui saat ini miris melihat tingginya tingkat kenakalan pada anak, tidak hanya sekedar kenakalan biasa namun sudah tahap kriminal dan tindak pidana. Berbagai perilaku negatif atau menyimpang yang dilakukan oleh sebagian anak usia 18 tahun kebawah, kadang kala berdalih bahwa dirinya terhasut atau ikut-ikutan saja, terlebih lagi menurut mereka itu adalah suatu hal yang bisa dibanggakan.
Kalau kita amati, mereka acapkali mengatakan bahwa perilaku ini hanya sekedar menunjukkan sesuatu sebagai simbol keberanian mereka. Karena hal itu pula, tentu perilaku negatif pada anak merupakan fenomena yang memprihatinkan, menurut penulis perilaku kenakalan anak yang melebihi batas wajar sangatlah mengkhawatirkan bagi generasi muda dan penerus bangsa. Sayangnya, tidak semua orang tua mengetahui bagaimana bersikap terhadap perubahan anaknya. Melihat fenomena tersebut penulis mengajak kepada para pembaca, siapa yang sebenarnya salah? peran yang harus kita lakukan di generasi Alpha yang serba instan dan modern ? Mari kita bahas.
fakta menyedihkan bahwa tingkat kejahatan yang dilakukan pada anak akhir-akhir ini cukup tinggi Hal ini menjadi pertanyaan, apa yang menjadi penyebab terjadinya kenakalan anak yang masih dibawah umur ?
Baca Lainnya :
- YPLHI Cianjur Lakukan Aksi Nyata Gerakan Penyelamatan Pohon
- Bupati Herman Suherman Buka Festival dan Expo KORMI Cianjur 2023
- Kemensos Paparkan Capaian dan Isu Bidang Daya Sosial
- Mulai 1 Januari 2024, Vaksinasi COVID-19 Tetap Gratis Untuk Kelompok Rentan
- Presiden Jokowi Tekankan Seluruh Pihak Kawal Kesiapan Pelaksanaan Pemilu 2024
kalau kita membahas tentang kenakalan anak, tentu tidak terlepas dari dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal
1. Faktor internal : yang dimaksud dengan faktor internal disini ialah keluarga, keluarga mempunyai peran yang sangat fundamental dalam memberikan pemahaman, pendidikan, pengajaran kepada anak. Orang tua dikatakan sebagai role model dari si anak, mereka akan dengan mudah meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang tua.
Mengapa demikian dikatakan orang tua sangat berperan dan sangat menentukan tumbuh kembang si anak ?
Perlu diketahui berbagai macam cara dapat dilakukan, diantaranya :
1. Pada usia 12 bulan- 6 tahun, pentingnya melakukan stimulasi, stimulasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk merangsang kemampuan dasar Si Kecil, meliputi perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial anak. Hal itu bisa melalui bermain, belajar, atau interaksi sosial, yang dapat membantu anak mengembangkan keterampilan dan kapasitasnya.
2. Usia 7- 13 tahun dalam tahap ini anak akan memasuki dunia pendidikan dasar, sebenarnya dalam dunia pendidikan untuk anak, peran yang penting tidak hanya terletak pada orang tua, namun juga guru, komite sekolah, pengambil kebijakan, serta masyarakat juga berperan penting. Pada usia tersebut anak akan lebih bisa berinteraksi sosial kepada orang lain (sebaya),anak cenderung lebih ingin diperhatikan, mendapat pujian atas apa yang telah dilakukannya, tumbuh minat terhadap sesuatu, selain itu emosi anak mudah berubah. Maka dari itu berilah pengajaran dan pemahaman kepada si anak mengenai perilaku yang baik dan buruk, berilah pemahaman mengenai sebab akibatnya. Hal ini tentunya akan membuat anak berusaha untuk mengoreksi dirinya apabila ia salah. Selain itu orang tua haruslah menjadi pendengar bagi si anak. Pemberian gadget pada anak sangat mempengaruhi perilaku anak, maka dari itu sebagai orang tua haruslah tegas, berilah kebijakan penggunaan nya. Digunakan hanya ketika memang dibutuhkan.
3. Usia 14-18 tahun
Pada usia yang bisa dikatakan remaja ini yang mencolok perbedaannya terletak bentuk fisik, diusia ini perkembangan anak usia 14 tahun, laki-laki maupun perempuan mereka sudah memasuki masa pubertas. Semakin bertambahnya usia, perkembangan otak anak juga meningkat yang tentu saja akan memengaruhi cara berpikir atau perkembangan kognitifnya. Peran orang tua di sini adalah untuk menjelaskan agar anak bisa memahami pola pikir orang di sekitarnya sehingga tidak keluar dari batasan. Kemudian orang tua juga dapat mengarahkan pada minat dan bakat anakanak, berikan anak dukungan dari segi moril dan materil. Hal lain yang sebaiknya sudah dipersiapkan orang tua adalah ketika anak sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Berikan edukasi seks yang tepat sehingga anak tahu batasan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
2. Faktor eksternal, hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal seperti
a. Pergaulan (teman), ketika anak sudah memasuki tahap ini, orang tua harus peka terhadap pergaulannya, karena banyak kejadian kenakalan anak disebabkan karena lingkungan pergaulan yang kurang baik. Sehingga anak dengan mudah terhasut oleh teman se pergaulannya. Maka dari itu diperlukan ketegasan orangtua dalam memberikan pengarahan kepada si anak agar tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif.
b. Lingkungan tempat tinggal, lingkungan tempat tinggal mempengaruhi terhadap perilaku anak, maka dari itu penting orangtua melihat situasi dan kondisi lingkungan sekitar, bilamana lingkungan tersebut tidaklah baik, maka sebaiknya menghindari bahkan mencari tempat yang jauh lebih aman dan nyaman.
c. Gadget, yang paling berbahaya mengenai banyak nya kenalan pada anak itu disebabkan oleh tontonan yang tidak baik, tidak hanya itu penggunaan gadget tentunya sangat mudah dalam meng akses segala sesuatu, bilamana penggunaan gadget ini berdampak negatif pada si anak, dirasa orangtua harus melakukan kebijakan dan tindakan tegas dalam penggunaan nya. Bagaimanapun penggunaan gadget tentunya mempunyai sisi positif dan negatif nya, tinggal bagaimana kita menggunakan kemajuan teknologi dengan sebaik-baiknya.
Kesimpulan
Dilihat dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa mengenai kenakalan anak hingga pada tahap kriminal dilatarbelakangi oleh banyak faktor, untuk memecahkan masalah tersebut memang peran penting ada pada pendidikan orang tua, namun tidak cukup dengan itu. Untuk bisa menciptakan generasi emas pada anak, peranan keluarga, mayarakat, sekolah dan pemerintah sangat berpengaruh. Dari segi keluarga, keluarga tentunya menjadi garda terdepan dan suport system bagi anak, sedangkan peran masyarakat untuk anak ialah masyarakat sebagai ujung tombak pencegahan kekerasan terhadap anak, masyarakat haruslah sadar dengan fenomena kenakalan anak, menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari kejahatan. Peran sekolah terhadap anak, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang mempunyai disiplin yang baik, memberikan pembelajaran emosional, pengembangan bakat pada anak, perolehan pendidikan akhlak. Kemudian peran pemerintah ialah sebagai fasilitator.

Artikel ini ditulis oleh Siti Nurasiah Mahasiswa Semester 7 Prodi Hukum Keluarga Islam STAI Al-Azhary Cianjur











