Mudik dan Thanksgiving Day

13 Apr 2024, 13:35:48 WIB Nasional
Mudik dan Thanksgiving Day

Keterangan Gambar : Penulis artikel Lilis Nuraeni.


Pinusnews.id - Mudik sebagai tradisi masyarakat Indonesia yang berurat akar memberikan banyak makna dan manfaat. Selain sebagai jembatan silaturahmi mengeratkan hubungan emosional dengan orang-orang terdekat, kangenan dengan sanak keluarga, mudik memberikan efek manfaat ekonomi.

Pemudik dari kota kembali ke desa, daerah kelahiran atau tempat dibesarkan masing-masing dengan membawa pundi-pundi uang. Selama hampir setahun bekerja di kota, banting tulang, saatnya untuk berbagi terhadap keluarga, sahabat yang nota bene kehidupan di desa jauh lebih sederhana, bahkan banyak yang kekurangan. Sebab sektor pekerjaan di desa terbatas, dominan di sektor pertanian (tradisional) yang pada umumnya tidak memberikan kecukupan pemenuhan kebutuhan hidup.

Meskipun merantau di kota tak selamanya berhasil memperoleh pekerjaan yang layak, mengumpulkan materi yang cukup dan berlimpah. Namun setidaknya agenda mudik dapat membawa hasil, memperlihatkan siapa "aku" bahwa merantau suatu upaya memperbaiki nasib untuk lebih baik dari kehidupan sebelumnya ketika di desa.

Baca Lainnya :

Sanak keluarga di desa pun bahagia ketika melihat sanak saudara, sahabat berhasil menjadi perantau. Membawa kabar, memperlihatkan perubahan tingkat kesejahteraan. Memperoleh kehidupan lebih baik, terutama dalam aspek ekonomi.

Namun dari semua itu esensi mudik adalah "rasa memiliki, rasa cinta terhadap daerah dan keluarga masing-masing." Betapa mudik itu penuh perjuangan, macet di semua alur jalan ditempuh tanpa kenal lelah, yang penting bisa pulang ke kampung halaman.

Tradisi mudik tidak hanya dimiliki masyarakat negara berkembang seperti Indonesia. Tidak pula halnya dimiliki oleh masyarakat penganut agama Islam. Masyarakat negara maju-pun seperti Amerika Serikat memiliki adat budaya mudik seperti "thankgiving". Perayaan Thanksgiving esensinya sama seperti mudik saat perayaan Idul Fitri, silaturahmi dengan sanak saudara, tetangga dan ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam sebuah kisah nyata yang difilmkan oleh raksasa industri film dunia, Holywood, mengisahkan seorang pria paruh baya Amerika Serikat menempuh perjalanan ribuan kilometer demi untuk bertemu keluarga. Ia pulang kampung dengan kereta api. Masyarakat Amerika Serikat (Amerika Utara), melakukan "mudik" saat merayakan "thanksgiving" pada 24 November. Perayaan thanksgiving adalah perayaan atas pengucapan rasa syukur mendapat hasil pertanian yang baik, melimpah. Saat thanks giving masyarakat berkumpul dengan sanak keluarga. Keluarga dari kota pulang untuk berkumpul bersama merayakan thanksgiving tersebut.

Pria yang akan pulang kampung tersebut selama perjalanan terlihat begitu suka cita. Ia tak henti ngobrol dengan teman seperjalanannya, pasangan suami istri yang satu daerah/distrik (setara kabupaten di Indonesia) yang sama.

Pria itu bercerita tentang masa kecilnya, orang tuanya dan saudara-saudara yang menyayanginya. Ia begitu rindu bertemu mereka. Sudah beberapa tahun ia tidak pulang karena kesibukan pekerjaan. Maka thanksgiving kali ini ia menyempatkan pulang.

Tak terasa sudah lebih setengah perjalanan ditempuh, sebelum kereta api menuju stasiun terakhir. Pasangan suami isteri sudah berkemas, merapikan barang-barang bawaannya. Sementara pria itu terlihat gelisah. Berkali-kali menengok jendela. Tatapannya menjadi kosong. Ia terlihat begitu sedih.

Pasangan suami isteri rupanya melihat perubahan mimik wajah dari pria itu. Yang tiba-tiba terlihat begitu sedih. "Saya tunggu kehadiran tuan di desa kami. Masih banyak yang ingin kami ceritakan."

"Kita akan memanggang kalkun yang lezat bersama-sama dengan anggur buah plum," pria itu cuma mengangguk tiada satu bunyipun keluar dari mulutnya. "Mengapa tuan kelihatan bersedih, kampung halaman kita tinggal beberapa kilometer lagi."

Sebenarnya pria paruh baya itu sudah tidak memiliki keluarga. Ia hanya berfantasi pulang kampung untuk mengobati kerinduan terhadap keluarga dan kampung halamannya. Ia membeli tiket dan oleh-oleh untuk keluarga tercinta. Namun ia kebingungan ketika menyadari perjalanannya menuju tempat ia dibesarkan sudah hampir berakhir. Ia tidak memiliki siapapun di desa.

Pasangan suami isteri itu menawarkan untuk singgah dan merayakan Thanksgiving bersama. Pria itu sedikit terobati duka gundahnya. Ia memiliki lagi kerabat baru, teman perjalanan. (Penulis artikel: Lilis Nuraeni).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment