- 282 Ruang Kelas yang Hilang: Potret Kesenjangan Infrastruktur SMP di Cianjur
- Presiden Prabowo: Tertibkan Kawasan Hutan SecaraTegas, Transparan, dan Akuntabel
- Sanroh BAZNAS Cianjur: Menyegarkan Hati, Mengokohkan Amanah
- Sekolah di Ujung Kampung: Janji Bupati Cianjur untuk Pendidikan yang Layak
- SADA JABAR, Aplikasi Baru Permudah Program Pemprov Jabar Lebih Tepat Sasaran
- 3.500 Beasiswa untuk Masa Depan: Janji Nyata Disdikpora Cianjur demi Pendidikan yang Merata
- Rembug Warga di Cidamar: Bupati Cianjur Ajak Masyarakat Jaga Alam, Dukung Pembangunan
- Langkah Cepat Disdikpora Cianjur demi Masa Depan Siswa SMP Swasta SCBC Naringgul
- Estafet Kepemimpinan, Diskominfo Cianjur Perkuat Sinergi dan Kebersamaan
- BKAD Cianjur Perkuat Pelayanan Publik melalui Budaya Kerja BerAKHLAK
Wali Keturunan Pajajaran

Keterangan Gambar : Lukisan imajiner Sunan Gunung Jati Cirebon.
Pinusnews.id - Seandainya hidup Syarif Hidayatullah semata mata untuk dunia, ia tidak akan menjadi ulama penyebar Islam. Tahta raja daerah di Mesir tinggal ia lanjutkan dari Syarif Abdullah ayahnya. Namun waliyulloh bernama kecil Raden Insan Kamil ini memilih berlayar jauh ke tanah Sunda ke Cirebon memenuhi keinginan Rara Santang ibunya melanjutkan penyebaran agama Islam Sang Walangsungsang sebagai kakak dari orang tuanya.
Walangsungsang dan Rara Santang adalah putra Prabu Siliwangi Raja Pajajaran dari prameswari Nay Subanglarang.
Setelah berlayar jauh penuh liku liku ditengah lautan, ia pun tiba di Cirebon diantar kapal Adipati Keling perampok yang kemudian takluk dan masuk Islam. Saat itu tatar Sunda masih kokoh dikuasai Prabu Siliwangi kakeknya. Bersama Sunan Ampel, Raden Insan Kamil juga merintis berdirinya Kesultanan Banten, dan untuk mempermudah dakwah, Sunan Gunung Jati menikahi Nyi Mas Kawungaten putra Sang Surosuwan Raja Banten. Sang Surosowan juga putra Prabu Siliwangi dari permaisuri Kentringmanik Mayang Sunda.
Baca Lainnya :
- Bey Machmudin: Jaga Kerukunan untuk Jawa Barat yang Damai dan Nyaman
- Vihara Tridharma Bagikan 700 Paket Sembako di Bojongherang Cianjur
- Geng Motor di Cianjur Diduga Membakar Tiga Motor
- Bupati Herman Menunaikan Salat Idul Fitri Bersama Masyarakat di Masjid Agung Cianjur
- Kado Ulang Tahun Kebun Raya Cibodas Ke 172, Bunga Bangkai Kembali Mekar
Kendati berbeda pilihan keyakinan dengan cucunya, Prabu Siliwangi memberikan nama Sri Manggana kepada Sunan Gunung Jati ketika dinobatkan menjadi Sultan Cirebon kedua. Tidak itu saja, satu kapal pasukan Pajajaran diberikan kepada Cirebon untuk mengabdi.
Sunan Gunung Jati Cirebon atau Syeh Syarif Hidayatullah, Raden Insan Kamil, bergelar Sultan Mahmud Sultan Cirebon menjadi bagian dari majelis Walisongo periode emas, yang turut mendirikan Kesultanan Demak dengan Raden Fatah sebagai Sultannya. Wali sejamannya adalah Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga dan Sunan Muria. Ia wafat tahun 1568 M, kedudukannya di majelis Walisongo digantikan Sultan Hasanuddin Banten / Pangeran Sabangkingking putranya.
Salah satu peninggalan Sunan Gunung Jati Cirebon adalah pesantren Amparan Jati. Di pesantren ini pernah "mondok moek" Rd. Aria Wangsagoparana anak Raja Talaga yang setelah masantren ditugaskan menyebar Islam sekitar Subang. Selain itu Rd. Jayasasana putra Aria Wangsagoparana juga santri pesantren Amparan Jati Cirebon. Oleh Pangeran Karim Sultan Cirebon ia kemudian ditugaskan menjaga tapal batas Kesultanan Cirebon di Cianjur. Jayasasana kelak dikenal dengan gelar Rd. Aria Wiratanu I Bupati Cianjur (1677-1691) terkenal dengan sebutan Dalem Cikundul. (Luki Muharam R).











