- Proyek Geothermal Gunung Gede Pangrango: Ancaman Lingkungan vs Ketahanan Energi Nasional
- Presiden Prabowo dan Presiden Putin Perkuat Kerja Sama Energi, Antariksa, hingga Pendidikan
- Transformasi Digital Cianjur: Pelatihan AI ASN untuk Layanan Publik yang Lebih Baik bagi Masyarakat
- Wagub Erwan Lantik Anggota BPSK Jabar 2026-2031
- Respons Kilat Camat Mande Selamatkan Pengguna Jalan dari Bahaya Tanah Licin di Bobojong
- Menembus Paradox Eksistensial: Dari Agrabinta ke Takokak
- Ironi Pendidikan Cianjur: Sekolah Retak dan Tanpa Toilet
- Peletakan Batu Pertama Pembangunan Sekolah Khusus SLB Bina Asih Cianjur Resmi Dimulai
- Jejak Sejarah Istana Cipanas: Istura Kembali Mengundang Rakyat
- Program Orang Tua Asuh Kepala Sekolah: Langkah Inspiratif Bupati Cianjur untuk Pendidikan Merata
James Riady di Gunung Padang: Harapan, dan Etika Warisan Nusantara

Keterangan Gambar : Foto istimewa.
Pinusnews.id - Kunjungan James Riady ke Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, jauh dari sekadar kunjungan biasa. Menjejakkan kaki tiba dengan helikopter dan menembus lereng-lereng terjal yang jarang dijamah wisatawan, langkahnya langsung menarik perhatian publik. Bukan hanya karena statusnya sebagai tokoh berpengaruh, melainkan konteksnya di salah satu situs purbakala paling kontroversial di Indonesia.
James Riady tidak puas berhenti di teras utama yang sering jadi latar foto selfie. Ia menyusuri area tertutup vegetasi, mendekati bagian situs penuh misteri. Di sana, ia berdialog mendalam dengan tim kajian Gunung Padang, menelaah dokumen riset, dan melontarkan pertanyaan kritis. Peneliti Ali Akbar, melalui media sosialnya, menggambarkan Riady sebagai pendengar cermat dan pengamat detail—sikap yang kontras dengan kunjungan seremonial biasa: datang, berfoto, lalu pergi.
Gunung Padang telah lama berada di pusat perdebatan ilmiah. Satu kubu yakin situs ini menyimpan struktur berlapis berusia ribuan tahun, melampaui peradaban yang dikenal. Kubu lain, arkeolog arus utama, menekankan kehati-hatian, metodologi ketat, dan verifikasi berlapis agar sains tak jatuh ke sensasi. Dalam dinamika ini, kemunculan Riady—sebagai anggota Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya di bawah Hashim Djojohadikusumo—memantik harapan sekaligus kewaspadaan.
Baca Lainnya :
- Tahun 2020 di Cianjur Kriminalitas Turun, Kasus Narkoba MeningkatÂ
- Awas Hati-Hati, Ada Oknum Satpol PP Cianjur Lakukan Penipuan
- Kontes Burung Bergengsi di Pendopo Tumaritis Cianjur
- Dishub Cianjur Pasang CCTV di 8 Titik, 24 Jam Pantau Lalu-Lintas
- Geger, di Sebuah Kosan seorang Pria Meninggal, yang Wanita Kritis
Komitmennya untuk mendukung kajian lanjutan dan pemugaran membuka peluang riset multidisipliner yang berkelanjutan. Namun, suara kritis mengingatkan: dukungan tokoh berpengaruh harus tetap dalam koridor etika ilmiah, tanpa tekanan hasil instan atau narasi besar yang prematur.
Situs seperti Gunung Padang sering terjebak antara klaim spektakuler demi pengakuan global dan sikap akademik defensif. Di tengah tarik-menarik itu, etika pengelolaan warisan budaya kerap terabaikan. Praktisi budaya Dar Edi Yoga menegaskan, Gunung Padang bukan sekadar tumpukan batu purba, melainkan ruang peradaban yang menuntut kesadaran dan tanggung jawab. “Tidak semua orang dipanggil ke Gunung Padang,” katanya, metafora untuk kesiapan batin dalam menyentuh masa lalu.
Situs purbakala ini bukan objek wisata, komoditas ekonomi, atau arena adu klaim intelektual. Ia adalah amanah sejarah yang membutuhkan kesabaran, kerendahan hati, serta dialog lintas disiplin: arkeologi, geologi, antropologi, dan kearifan lokal.
Pada akhirnya, Gunung Padang menjadi cermin bagi Indonesia: apakah masa lalu didekati dengan ambisi penaklukan, atau dengan pengakuan batas pengetahuan manusia? Kunjungan James Riady, apa pun tafsirnya, menghidupkan kembali pertanyaan krusial: sejauh mana bangsa ini siap merawat misteri sejarahnya dengan tanggung jawab—tanpa sensasi, tapi terbuka pada kemungkinan ilmu pengetahuan baru. (dens).











