- Disiplin Sekolah Cianjur: Visi Tegas Ipan Sopandi dalam Larangan Motor dan HP Siswa
- Sinergi Kampus dan Desa: KKN UIN Bandung Wujudkan Pembangunan Partisipatif di Cianjur
- Metty Triantika: Gentengisasi Peluang Emas Ekonomi Lokal di Tengah Peningkatan Kualitas Hidup
- Bulog Cianjur Capai 78% Target Penyerapan Gabah: Komitmen Kuat untuk Kesejahteraan Petani
- Gubernur bersama Menteri PKP Resmikan Program Bedah Rumah, Total 40.000 Unit di Jabar
- Proyek Geothermal Gunung Gede Pangrango: Ancaman Lingkungan vs Ketahanan Energi Nasional
- Presiden Prabowo dan Presiden Putin Perkuat Kerja Sama Energi, Antariksa, hingga Pendidikan
- Transformasi Digital Cianjur: Pelatihan AI ASN untuk Layanan Publik yang Lebih Baik bagi Masyarakat
- Wagub Erwan Lantik Anggota BPSK Jabar 2026-2031
- Respons Kilat Camat Mande Selamatkan Pengguna Jalan dari Bahaya Tanah Licin di Bobojong
Rekruitmen Caleg Harus Selektif
Oleh: Lilis Nuraeni

Keterangan Gambar : Lilis Nuraeni.
Pinusnews.id - Meskipun faktanya DPR buruk, DPR tetap dibutuhkan karena DPR merupakan instrumen demokrasi agar jalannya pemerintahan tetap dijalurnya, tidak merugikan rakyat.
Buat aturan yang selektif untuk rekruitmen anggota DPR, baik dari aspek tingkatpendidikan, kecerdasan, dan wawasan, terutama karakter/akhlak.
Sejauh ini rekrutmen anggota DPR nampak tak merujuk pada profesionalisme. Untuk profesi-profesi tertentu sudah harus minimal S1, dengan tambahan keprofesian (guru, tenaga fungsional dan yang lainnya). Bahkan 2026 bidan dan perawat-pun harus S1. Sedangkan anggota DPR masih bisa SMA. Aneh...
Baca Lainnya :
- Kurangi Beban Petani Dimasa Pandemi Covid-19, Fraksi Partai Gerindra Serahkan Bantuan Benih
- Inna lillahi, Empat Kadis Positif Covid-19, Satu Orang Meninggal Dunia
- Akibat Cuaca Buruk Nelayan Jayanti Gagal Cari Ikan, Kini Tanam Jagung
- Pemdes Tanjungsari Sukaluyu Bagikan BLT
- Peranan PT. Bukit Naga Mas Kembangkan UMKM di Cianjur
Saat ini untuk calon aleg itu minimal berijasah D3. Boleh SMA tapi dengan kekecualian; istimewa, berkapasitas, aplikatif buat masyarakat seperti Susi Menteri Kelautan.
Pun reputasi, rekam jejak di masyarakat. Baik rekam jejak hukum normatif, maupun norma sosial. Jangan sampai pernah dipenjara, pelakor lolos juga nyaleg dan dipilih.
Hal lainnya, selama menjabat ada peninjauan berkala untuk menilai kinerja, baik kinerja administrasi, etika, moralitas, kehadiran, dan kinerja implementasi di masyarakat. Adapun yang mengawasi, menilai kinerja Aleg; tim independen setingkat kementrian seperti BPK untuk keuangan negara.
Sebab, sepanjang rekruitmen aleg tidak selektif maka kinerja DPR dan empati sulit terbentuk. Jangan biarkan mereka numpang hidup dari tetes keringat rakyat.











