- Disiplin Sekolah Cianjur: Visi Tegas Ipan Sopandi dalam Larangan Motor dan HP Siswa
- Sinergi Kampus dan Desa: KKN UIN Bandung Wujudkan Pembangunan Partisipatif di Cianjur
- Metty Triantika: Gentengisasi Peluang Emas Ekonomi Lokal di Tengah Peningkatan Kualitas Hidup
- Bulog Cianjur Capai 78% Target Penyerapan Gabah: Komitmen Kuat untuk Kesejahteraan Petani
- Gubernur bersama Menteri PKP Resmikan Program Bedah Rumah, Total 40.000 Unit di Jabar
- Proyek Geothermal Gunung Gede Pangrango: Ancaman Lingkungan vs Ketahanan Energi Nasional
- Presiden Prabowo dan Presiden Putin Perkuat Kerja Sama Energi, Antariksa, hingga Pendidikan
- Transformasi Digital Cianjur: Pelatihan AI ASN untuk Layanan Publik yang Lebih Baik bagi Masyarakat
- Wagub Erwan Lantik Anggota BPSK Jabar 2026-2031
- Respons Kilat Camat Mande Selamatkan Pengguna Jalan dari Bahaya Tanah Licin di Bobojong
Nilai TKA Matematika yang Rendah adalah Alarm Nasional
Oleh: Prama Adistya Wijaya

Keterangan Gambar : Prama Adistya Wijaya.
Pinusnews.id - Sebagai Ketua Gugaltika IPB (Gugus Alumni Matematika IPB), saya merasa sangat prihatin atas rendahnya nilai rerata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika SMA yang hanya berada di kisaran 36 dari 100. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah alarm nasional tentang kondisi pembelajaran matematika di Indonesia hari ini.
Matematika bukan mata pelajaran pinggiran. Ia adalah fondasi berpikir logis, analitis, dan sistematis—keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan abad ke-21. Ketika capaian matematika berada pada titik serendah ini, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya kemampuan siswa, tetapi sistem pendidikan secara keseluruhan.
Pemerintah Melakukan Evaluasi Menyeluruh
Baca Lainnya :
- Kontes Burung Bergengsi di Pendopo Tumaritis Cianjur
- Dishub Cianjur Pasang CCTV di 8 Titik, 24 Jam Pantau Lalu-Lintas
- Geger, di Sebuah Kosan seorang Pria Meninggal, yang Wanita Kritis
- Duh Kasihan, Pohon Tumbang Hancurkan Rumah Milik IdaÂ
- Polres Cianjur Tangkap Tukang Obat Cabuli Anak
Pemerintah perlu melakukan evaluasi serius dan menyeluruh terhadap sistem pendidikan yang berjalan, khususnya dalam pembelajaran matematika. Evaluasi ini tidak boleh berhenti pada soal tingkat kesulitan ujian, tetapi harus menyentuh aspek yang lebih mendasar: kurikulum, metode pengajaran, kesiapan guru, serta kesinambungan antara apa yang diajarkan di kelas dan kompetensi yang diukur dalam asesmen nasional.
Jika siswa merasa asing dengan tipe soal yang menguji penalaran, pemodelan, dan pemahaman konteks, itu menandakan bahwa pembelajaran kita masih terlalu fokus pada hafalan rumus, bukan pada pemahaman konsep dan cara berpikir matematis.
Sekolah Harus Menciptakan Lingkungan yang Kondusif untuk Matematika
Sekolah memegang peran kunci. Sudah saatnya matematika tidak lagi diposisikan sebagai pelajaran yang “menakutkan” atau “hanya untuk siswa pintar”. Lingkungan belajar yang kondusif harus dibangun—di mana siswa merasa aman untuk bertanya, salah, mencoba, dan berpikir.
Guru matematika perlu didukung untuk mengembangkan pendekatan yang lebih kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Matematika harus hadir sebagai alat untuk memahami dunia, bukan sekadar kumpulan angka dan simbol yang terpisah dari realitas.
Peran Swasta dan Masyarakat dalam Membangun Ekosistem
Tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah dan sekolah. Pihak swasta, komunitas, orang tua, dan masyarakat luas perlu ikut membangun ekosistem pembelajaran matematika yang lebih luas.
Kita membutuhkan lebih banyak ruang belajar alternatif, konten edukatif yang menarik, komunitas belajar, hingga figur-figur inspiratif yang menunjukkan bahwa matematika itu menyenangkan, dekat dengan kehidupan, dan dapat dipelajari oleh siapa saja. Ketika masyarakat bersama-sama membangun narasi positif tentang matematika, persepsi siswa pun akan berubah.
Penutup
Rendahnya nilai TKA
Matematika bukanlah aib yang harus ditutup-tutupi, melainkan cermin yang harus kita tatap bersama. Ini adalah momentum untuk berbenah, berkolaborasi, dan membangun sistem pembelajaran matematika yang lebih manusiawi, relevan, dan bermakna. Masa depan bangsa yang berpikir kritis dan rasional tidak mungkin dibangun tanpa fondasi matematika yang kuat.
Prama Adistya Wijaya
Ketua Umum
Gugus Alumni Matematika (Gugaltika)
IPB University











