Nilai TKA Matematika yang Rendah adalah Alarm Nasional
Oleh: Prama Adistya Wijaya

27 Des 2025, 18:45:33 WIB Pendidikan
Nilai TKA Matematika yang Rendah adalah Alarm Nasional

Keterangan Gambar : Prama Adistya Wijaya.


Pinusnews.id - Sebagai Ketua Gugaltika IPB (Gugus Alumni Matematika IPB), saya merasa sangat prihatin atas rendahnya nilai rerata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika SMA yang hanya berada di kisaran 36 dari 100. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah alarm nasional tentang kondisi pembelajaran matematika di Indonesia hari ini.

Matematika bukan mata pelajaran pinggiran. Ia adalah fondasi berpikir logis, analitis, dan sistematis—keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan abad ke-21. Ketika capaian matematika berada pada titik serendah ini, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya kemampuan siswa, tetapi sistem pendidikan secara keseluruhan.

Pemerintah Melakukan Evaluasi Menyeluruh

Baca Lainnya :

Pemerintah perlu melakukan evaluasi serius dan menyeluruh terhadap sistem pendidikan yang berjalan, khususnya dalam pembelajaran matematika. Evaluasi ini tidak boleh berhenti pada soal tingkat kesulitan ujian, tetapi harus menyentuh aspek yang lebih mendasar: kurikulum, metode pengajaran, kesiapan guru, serta kesinambungan antara apa yang diajarkan di kelas dan kompetensi yang diukur dalam asesmen nasional.

Jika siswa merasa asing dengan tipe soal yang menguji penalaran, pemodelan, dan pemahaman konteks, itu menandakan bahwa pembelajaran kita masih terlalu fokus pada hafalan rumus, bukan pada pemahaman konsep dan cara berpikir matematis.

Sekolah Harus Menciptakan Lingkungan yang Kondusif untuk Matematika

Sekolah memegang peran kunci. Sudah saatnya matematika tidak lagi diposisikan sebagai pelajaran yang “menakutkan” atau “hanya untuk siswa pintar”. Lingkungan belajar yang kondusif harus dibangun—di mana siswa merasa aman untuk bertanya, salah, mencoba, dan berpikir.

Guru matematika perlu didukung untuk mengembangkan pendekatan yang lebih kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Matematika harus hadir sebagai alat untuk memahami dunia, bukan sekadar kumpulan angka dan simbol yang terpisah dari realitas.

Peran Swasta dan Masyarakat dalam Membangun Ekosistem

Tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah dan sekolah. Pihak swasta, komunitas, orang tua, dan masyarakat luas perlu ikut membangun ekosistem pembelajaran matematika yang lebih luas.

Kita membutuhkan lebih banyak ruang belajar alternatif, konten edukatif yang menarik, komunitas belajar, hingga figur-figur inspiratif yang menunjukkan bahwa matematika itu menyenangkan, dekat dengan kehidupan, dan dapat dipelajari oleh siapa saja. Ketika masyarakat bersama-sama membangun narasi positif tentang matematika, persepsi siswa pun akan berubah.

Penutup

Rendahnya nilai TKA 

Matematika bukanlah aib yang harus ditutup-tutupi, melainkan cermin yang harus kita tatap bersama. Ini adalah momentum untuk berbenah, berkolaborasi, dan membangun sistem pembelajaran matematika yang lebih manusiawi, relevan, dan bermakna. Masa depan bangsa yang berpikir kritis dan rasional tidak mungkin dibangun tanpa fondasi matematika yang kuat.

Prama Adistya Wijaya

Ketua Umum 

Gugus Alumni Matematika (Gugaltika)

IPB University




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment