Misteri Dibalik Berkurangnya keaktifan Bertanya Anak Di Bangku Sekolah SD
Oleh: Muhammad Soipiyan Sauri, Mahasiswa Semester 7 Prodi Hukum Keluarga Islam STAI Al-Azhary Cianjur

27 Jan 2024, 20:27:20 WIB Pendidikan
Misteri Dibalik Berkurangnya keaktifan Bertanya Anak  Di Bangku Sekolah SD

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Sumber: indometro.id)


Pinusnews.id- Sungguh sangat mengerikan ketika sistem Masyarakat Feodal sudah mulai terbangun Mengkonstruksi dan menyelimuti dalam pikiran anak (Golden Age), sehingga ini menimbulkan suatu reaksi ketakutan pada anak untuk selalu menanyakan susuatu yang tidak diketahui. Padahal Nabi Muhamad, ketika di turunkan wahyu pertama menjadi suatu pertanyaan besar untuk beliau dan menariknya perdaban dan pengetahuan berkembang di lahirkan oleh pertanyaan. Apakah bertanya bagi anak pada guru adalah dosa? Tentu tidak. Lantas kenapa anak enggean untuk bertanya pada Guru sekolah?  Padahal, ketika di rumah dia aktif bertanya apa-apa yang ingin dia ketahui. Apa yang menjadi suatu Faktor yang membuat anak demikian?

Anak, katika di masa Golden Age berarti ada di dalam masa belajar. Artinya seorang anak akan di kenalkan, dengan faktor sosio kultural masyarakat seperti bahasa, agama dll. Nah, Saya disini berupaya untuk merelevansikan antara konsep pendidikan yang di tawarkan oleh Paulo Freire, dengan Jacques Lacan yang mana menurut penulis, antara dua teori raksasa ini saling berkaitan erat walau pun dua konsep yang berbeda, Freire fokus dalam pendidikannya dan Lacan fokus dalam psikoanalisisnya.

Sebelum kita mengetahui apa yang menjadi misteri berkurangnya keaktifan bertanya anak, alangkah indahnya kita uraikan terlebih dahulu teori-teori seorang filsuf postrukturalisme yaitu Seorang Faulo Freire (pendidikan) dan Jacques Lacan atau Zhank Lakang (psikoanalisis) Pertanyaan besar yang saya ajukan dalam hal ini adalah, bagaimana konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Paulo di relevansikan, dengan konsep psikoanalisinya Lacan?

Baca Lainnya :

A. Konsep pendidikan ala Paulo

Di sini  saya akan memulainya, dengan konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Paulo dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed. Paulo selalu mengkritik sistem pendidikan yang bermuara hanya, untuk memenuhi hasrat pasar yang di sebut oleh Paulo dengan sistem pendidikan Banking Education yang mana murid hanya dijadikan seoloah-olah celengan yang akan di pecahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar. 

Sistem Banking Education ini juga hanya memakai metode mengajar yang aprogresif. Murid hanya perlu, menghafal dan mengulangi apa-apa yang di ajarkan oleh Guru. Pun Guru tidak mengajarkan tentang nilai-nilai sosial, sehingga wajar saja, ketika murid pulang ke rumah dia tidak mau belajar, tentang kemanfaatan untuk masyarakat. Sekali lagi, fenomena sistem pendidikan pada saat itu yang digambarkan oleh Paulo Freire adalah sistem yang aprogresif dan asosial hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar yang akan bermuara pada ketidak manfaatan untuk masyarakat dan tidak peka terhadap sosial. 

Ada pun Paulo menginginkann Pendidikan mengantarankan kita pada kesadaran kritis  Critical consciousness yang akan mengantarkan siswa menuju siswa yang peduli terhadap kaum tertindas, karena sejatinya pengetahuan harus memihak pada orang-orang yang tertindas. Seperti Henric Marx seorang sosialis Jerman beliau selalu menyubang pikirannya untuk kaum buruh yang tertindas pada saat itu.


Ada tiga pase atau tingkatan kesadaran yang diinginkan oleh Paulo untuk ada dalam sistem pendidikan. Pertama Magical consciousness atau kesadaran magis, merupakan kesadaran yang aprogresif dan masih dalam pase konserpatif sehingga pase kesadaran magis ini hanya akan menjadikan siswa yang tidak mampu melihat antarasatu faktor, dengan faktor lain. Kedua kesadaran naif atau naival consciousness Pada kondisi kesadaran naif (naival consciousness) ini individu mengetahui bahwa sistem mempengaruhi dunia sosiokulturalnya, namun tidak berusaha untuk merubah sistem tersebut. Individu pada tingkat kesadaran ini cenderung berusaha menyesuaikan diri dengan sistem yang ada.

`Ketiga Critical consciousness, merupakan suatu kesadaran yang progresif yang mampu memunculkan kontradiksi politik, guna untuk pembebasan kaum tertindas. Kesadaran kritis berupaya untuk membuka suatu konstruksi tragis sistem yang tanpa di sadari hanya menguntungkan feodal papan atas. Sekali lagi Faulo berupaya untuk, bagaimana pendidikan bukan hanya sekedar mempunyai pengetahuan hanya sekedar pengatahuan yang akan membawakan siswa untuk mempunyai hasrat pasar akan tetapi, Paulo ingin menjadikan siswa selain  di bentuk untuk mempunyai hasrat pasar juga membawa pengetahuan untuk kemanfaatan kaum tertindas.

B. Relasi Sikoanalisi Lacan Tentang Tahapan Pembentukan Subjek, Dengan Konsep Pendidikan Paulo

Lacan membagi tiga tatanan dalam pembentukan subjek. Pertama yang di sebut oleh Lacan, dengan yang imajiner (the imaginary) kedua yang simbolik, ( the symbolic) dan yang terakhir adalah yang nyata (the real). Kita akan bahas setiap tahaapannya.

1. Yang Imajiner (The Imaginary)

`Merupakan suatu titik awal pembentukan subjek. Lacan menjelaskannya pada bayi yang berummur 6-8 bulan, ketika bayi baru berumur 6-8 bulan dia tidak mempunyai konsep tubuh, tidak bisa mengidentifikasi seluruh tubuhnya, sehingga bayi akan mengaggap antara objek pemuas (ibu), dan Aku (bayi) adalah satu kesatuan tubuh. Ada Pun konsep Tubuh bayi akan mulai teridentifikasi pada bulan ke 8-18, dengan menggunakan pantulan cermin dan mulai mengidentifikasi yang lain (diluar diri). Disinilah proses Yang simbolik (petanda) muncul dan akan berproses menuju konstruksi simbolik yang tercemar dari bahasa, budaya, lingkungan, dan orangtua.

2. Yang simbolik (the Symbolik)

Merupakan suatu pase dimana subjek mulai terbangun dan ia pun akan membentuk dirinya sebagai "Aku." Dalam pase ini ia selalu merasa kekurangan dan berupaya mencari kepenuhan diri dalam hasrat, kemudian ia pun selalu ingin kembali pada pase di mana hasrat itu selalu terpenuhi sebelum ia mengenal subjek melewati bahasa.

3. Yang nyata (The real)

Tahapan perkembangan yang terakhir adalah Yang Nyata. Lacan mengatakan bahwa tatanan Yang Nyata selalu ingin kembali ke tempat terdahulu Yang Imajiner dan ini adalah ketidakmungkinan. Lacan juga menyebutkan bahwa tatanan ini mendukung fantasi, dan fantasi tersebut sekaligus melindungi Yang Nyata. Maka, subjek dalam Yang Nyata sesungguhnya subjek yang selalu terdorong hasrat untuk menutupi kekurangan, juga kembali pada kesempurnaan terdahulu—kesatuan antara diri dengan tubuh ibu. Meskipun ia paham tak mungkin kembali atau mengulang masa Yang Imajiner, tetapi ia bersikap seolah bisa mewujudkannya—dengan cara yang lain. Dari sinilah timbul “keinginan” pada diri subjek. Keinginan adalah kemungkinan sekaligus ketidakmungkinan yang bisa dicapai oleh subjek, dan fantasi menjadi energi pembakarannya yang utama.

Nah, jadi pandangan Paulo yang menginginkan pendidikan  bermuara pada tingkatan kesadaran kritis (critical consciousness), ini selaras, dan saling mendukung antara teori psikoanalisisnya Lacan dan konsep pendidikan ala Faulo.

Bahasa, budaya, lingkungan, dan orang tua sangat berpengaruh terhadap pola perkembangan cara berfikir anak, sehingga  Faulo seolah-olah berupaya untuk mendekonstruksi bahasa, budaya, lingkungan dan orang tua untuk menata pendidikan yang lebih bermanfaat untuk kaum yang tertindas dan memusnahkan pola pikir masyarakat feodal Oleh karena itu, teori Faulo masih sangat relevan untuk di jadikan bahan pertimbangan, konsep pendidikan di Indonesia umumnya dan khusunya di sekolah kita.

Harapan saya kedepan semoga pendidikan anak di indonesia, semakin membawakan siswa dan siswi menjadi anak yang berguna dan bermanfaat bagi Rakyat Indonesia. Karena pengetahuan yang ideal adalah pengetahuan yang tidak mempunyai kepentingan apa pun, kecuali kepentingan untuk kaum yang terpinggirkan.

Muhammad Soipiyan Sauri



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment