- Epa Fatihah Dinobatkan Sebagai Menteri Kehebohan Wisata Keluarga Bani Asyari
- Perhutani KPH Cianjur Perkuat Sinergi dengan Kejari untuk Pengelolaan Hutan yang Akuntabel dan Berke
- BPBD Cianjur Percepat Distribusi Air Bersih: Respons Hadapi Kekeringan Musim Kemarau
- Bupati Cianjur: Art Space The Unreal Playroom, Kreativitas dan Ekonomi Kreatif Lokal
- Bagian Umum dan Keuangan Sekda Cianjur Gelar Rekonsiliasi Semester 2026
- Ramaikan Hari Anak Nasional, Dinas Pangan Cianjur Hadirkan Pangan Murah untuk Warga
- Kasus Pencemaran Nama Baik PWI Cianjur Terus Bergulir, Perkuat Dugaan Pihak Terlapor
- Bupati Cianjur Ajak Masyarakat Jadikan Keluarga Sekolah Utama pada Peringatan HAN ke-42
- SENJA Cianjur Diluncurkan: Sekolah untuk Membuat Lansia Sehat, Mandiri, dan Produktif
- Bupati Cianjur Ajak MUI Kolaborasi Perkuat Pembinaan Keagamaan dan Layanan Publik
MBG, Makan Bergizi dan Berbagai Permasalahannya

Keterangan Gambar : Lilis Nuraeni.
Oleh: Lilis Nuraeni
Pinusnews.id - Program Makan Bergizi (MBG) telah digulirkan. Sebagian murid sekolah telah menikmati. Namun program yang menyedot anggaran besar ini menuai banyak permasalahan karena banyak memberikan resiko dan beban terhadap banyak pihak.
Program Makan Bergizi (MBG) gratis yang tidak gratis ini (anggarannya di bayar rakyat melalui pajak) tujuannya positif; meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah yang ditengarai anak-anak sekolah di Indonesia rawan giji buruk. Sebab sebagian rakyat Indonesia masih berada dalam lingkaran kemiskinan. Banyak keluarga yang belum bisa menyediakan asupan menu, makanan bergizi dalam setiap harinya.
Baca Lainnya :
- Giat Operasi Yustisi di Kawasan Wisata Cibodas, Cianjur
- Cianjur Tingkatkan Disiplin Prokes
- Giat Natur 2021, Polsek Warungkondang Dirikan Tiga Pos Pengamanan
- Peduli Sosial, Komunikasi di Cianjur Bagikan Masker dan Bersihkan Taman Kota
- Jelang Nataru, Ribuan Miras Bermerek Diamankan, Langsung Dimusnahkan
Menurut Ketua Badan Gizi Nasional anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk MBG berkisar diangka 1,2 triliun setiap harinya, menyasar 80,2 juta anak sekolah. Dikalkulasi pertahun mencapai angka 250 trilyun, sama dengan sekitar satu perlima dari total APBN. Sangat fantastis.
Program MBG ini terlalu memberatkan anggaran, sementara dampak positifnya tidak signifikan mengingat dana yang digelontorkan untuk setiap porsinya, yang sampai ke anak-anak tidak utuh sesuai dengan kecukupan asupan makanan bergizi. Keluhan muncul dari masyarakat, menu masakan, ukuran, jenis banyak yanh kurang layak.
Ternyata alokasi nominal lima belas ribu ditengarai hanya real dialokasikan sekitar 60 persen, setara delapan ribu rupiah. Angka sekian tentu tidak bisa mengakomodir menu satu porsi cukup gizi/kecukupan gizi empat sehat lima sempurna. Pun cita rasa tak mengikuti tren makanan kekinian yang menarik dan enak untuk anak-anak usia sekolah.
Di sekolah-sekolah perkotaan yang dominan anak-anak yang orang tuanya ekonominya kelas tengah-atas menu MGB menjadi mubazir, tidak dimakan. Hal yang paling miris MBG ini sudah banyak memakan korban. Terjadi keracunan di sekolah-sekolah di berbagai daerah di Indonesia. Paling parah akhir-akhir ini menimpa sekolah di Garut yang menelan korban keracunan sampai dengan 569 murid.
Adanya fakta berbagai resiko yang memperihatinkan ini mestinya program MBG mesti dikaji ulang manfaat dan kekurangannya, mubazirnya.
Pun dengan adanya program MBG guru memperoleh beban yang tidak ringan. Setiap hari guru-guru mesti bertangggungjawab membagikan, mengumpulkan kemasan MBG yang menyita waktu. Rata-rata minimal satu jam setiap hari anak-anak kehilangan waktu pembelajaran.
Argumen yang muncul untuk mempertahankan program bantuan MBG tsb yaitu ; memakmurkan ekonomi masyarakat, membuka wirausaha, meningkatkan UMKM, dan membuka lapangan pekerjaan.
Argumen itu benar adanya. Namun harus pula dilihat resikonya, apalagi dikaitkan dengan banyaknya kasus korban keracunan yang tidak bisa dinilai dengan uang.
Dalam aspek anggaranpun itu merupakan pemborosan, sebab pemberian MBG tidak memilah mana msyarakat mampu, dan mana masyarakat yang mesti dibantu dengan program MBG ini.
Mestinya anak-anak masyarakat mampu tak harus diberi MBG. Orang tua mereka sudah mampu mencukupi kebutuhan menu bergizi setiap harinya. MBG harusnya diberikan terhadap anak-anak sekolah tidak mampu yang biasanya dominan tinggal di pedesaan, dan sedikit anak miskin perkotaan yang harus dibantu. Hingga MBG ini akan tepat sasaran, menghemat anggaran. Untuk memilah masyarakat mana yang berhak diberi MBG dengan yang tidak berhak (anak sekolah orang tuanya mampu), alokasi MBG efektif dalam bentuk uang diberikan minimal detiap bulan sekali ke rekening orangtua penerima MBG.
Namun yang paling efektif dana MBG yang besar ini dialihkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, suntikan dana UMKM dam pelatihan, menambah biaya pendidikan, infrastruktur, yang berimplikasi membuka lahan pekerjaan yang memerikan manfaat lebih besar.











