- Disiplin Sekolah Cianjur: Visi Tegas Ipan Sopandi dalam Larangan Motor dan HP Siswa
- Sinergi Kampus dan Desa: KKN UIN Bandung Wujudkan Pembangunan Partisipatif di Cianjur
- Metty Triantika: Gentengisasi Peluang Emas Ekonomi Lokal di Tengah Peningkatan Kualitas Hidup
- Bulog Cianjur Capai 78% Target Penyerapan Gabah: Komitmen Kuat untuk Kesejahteraan Petani
- Gubernur bersama Menteri PKP Resmikan Program Bedah Rumah, Total 40.000 Unit di Jabar
- Proyek Geothermal Gunung Gede Pangrango: Ancaman Lingkungan vs Ketahanan Energi Nasional
- Presiden Prabowo dan Presiden Putin Perkuat Kerja Sama Energi, Antariksa, hingga Pendidikan
- Transformasi Digital Cianjur: Pelatihan AI ASN untuk Layanan Publik yang Lebih Baik bagi Masyarakat
- Wagub Erwan Lantik Anggota BPSK Jabar 2026-2031
- Respons Kilat Camat Mande Selamatkan Pengguna Jalan dari Bahaya Tanah Licin di Bobojong
Cinta yang Mengantarkan ke Surga
Oleh: Ucu Subaekah Mahasiswi Semester 7 Prodi Hukum Keluarga Islam STAI Al-Azhary Cianjur

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Sumber: id.pngtree.com)
Pinusnews.id- Anak adalah buah cinta setiap keluarga, penerus keturunan, merupakan harta yang tak ternilai bagi orang tuanya. Allah menciptakan makhluk selalu melalui proses, seperti manusia yang sebelum dewasa berproses dari janin sampai lahir ke dunia menjadi seorang bayi, bayi lahir ke dunia merupakan fitrah, kosong dari apapun, yang mana diisi dengan didikan baik dari orang tua. Namun seringkali hal yang menurut orang tua baik tidak selalu baik untuk anaknya. Bentuk dari cinta kepada anak bukan dengan memaksakan kehendak orang tua, juga bukan dengan cara memanjakannya. Setiap anak mempunyai hak dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. Masih banyak orang tua mendidik anaknya sama dengan cara bagaimana ia dulu dididik, padahal Sayidina Ali berkata bahwa didiklah anak sesuai dengan zamannya. Pertanggung jawaban orang tua terhadap anaknya bukan hanya di dunia saja tetapi akan dipertanyakan oleh Allah di akhirat.
Hal pertama yang harus orang tua penuhi adalah kebutuhan anak, yakni kasih sayang yang tulus, membesarkan dengan cinta yang melimpah dan penuh perhatian. Karena jika hal tersebut tidak terpenuhi, bisa saja anak merasa tidak dipedulikan sehingga membuat hubungan orang tua dan anak tidak harmonis,
Pendidikan juga merupakan salah satu kebutuhan anak yang sangat penting. Entah akan jadi apa seorang anak apabila tidak dididik dengan benar. Tidak sedikit anak yang berubah menjadi buas, toxic untuk lingkungan sekitar, bahkan bisa berhadapan dengan hukum hanya karena tidak ada didikan dari orang tuanya. Seorang anak harusnya sedini mungkin diberitahu tentang mana yang baik dana mana yang buruk, di sekolahkan di tempat yang baik, ditempatkan di lingkungan yang benar, kemudian ditanamkan self bounadaris, diajarkan mempunyai prinsip dan attitude, sesuai dengan Hadits Riwayat Ibnu Majah bahwa sabda Nabi Muhammad SAW “muliakanlah anak-anak kalian dan ajarilah mereka tata krama”
Baca Lainnya :
- Sekda Cianjur: 2024 Tahun Politik, Fokus Bekerja Jangan Terdistorsi Hal Lain
- Selama Lima Tahun, JQR Berhasil Transformasikan Spirit Layanan Publik yang Cepat
- Kemenkes Perluas Layanan KJSU ke RS TNI, POLRI, Perguruan Tinggi
- Presiden Jokowi Pastikan Cadangan Beras Terkendali untuk Stabilkan Harga
- Stop Kenakalan Remaja serta Faktor yang Mempengaruhinya
Selanjutnya, kemandirian merupakan hal yang basic semua anak miliki. Lagi-lagi bentuk cinta bukan berarti memanjakan. Mengajarkan agar anak bisa melakukan apa apa sendiri dan tidak bergantung dengan orang tua atau siapapun, karena hakikatnya mau bagaimanapun yang akan selalu ada dan selalu mengerti untuk diri sendiri hanya diri itunsendiri. Merupakan hal yang mutlak bahwa pembentukan karakter dan wartak akan melahirkan kebiasaan, seorang anak yang dimanjakan ia akan tumbuh menjadi seorang anak yang pemalas.
Pemahaman agama adalah bagian dari kebutuhan anak yang harus diberikan, pondasi terpenting bagi kehidupan anak. Mengenalkan Tuhan, mengnalkan dosa dan pahala, memberi tahu bahwa ketika melakukan keburukan adalah dosa dan ketika melakukan kebaikan balasannya adalah pahala, sehingga anak menyadari bahwa setiap kali bertindak itu ada konsekuensi yang harus dihadapi.
Ridhallahi fi ridholwalidaini, ridha Allah terletak pada ridha orang tua.












