- Sinergi Pemkab Cianjur dan Jabar: Kompensasi Angkot untuk Lancarkan Mudik Lebaran 2026.
- Rumah Layak untuk Jiwa yang Terlupakan: Kisah Empati di Desa Sukajadi, Cibinong, Cianjur
- Bulog Subdivre Cianjur Pastikan Ketersediaan Beras Sebanyak 20.000 Ton Jelang Hari Raya Idul Fitri 2
- 157 Perusahaan di Jabar Diadukan Masalah THR
- Kanada dan Pemprov Jabar Kolaborasi Tingkatkan Nutrisi Remaja Putri di Jabar
- Bupati Cianjur: Ayah Angkat 54 Yatim, Teladan Kemanusiaan untuk Semua yang Mampu
- Kolaborasi Syariah: Bupati Cianjur Sambut Hangat Program Bank Muamalat
- Sinergi Pers dan Pemerintah: Buka Bersama PWI Cianjur untuk Pererat Silaturahmi
- DPRD Cianjur Sahkan 13 Perda 2025: Langkah Strategis Menuju Pembangunan Berkelanjutan
- Ramadhan Cinta 2026: Gerakan Kebaikan Berkelanjutan untuk Kaum Tidak Mampu di Cianjur
Rumah Layak untuk Jiwa yang Terlupakan: Kisah Empati di Desa Sukajadi, Cibinong, Cianjur

Keterangan Gambar : Rumah pasangan suami-istri Asep Suhendi dan Hindun, yang sedang disiapkan untuk diperbaiki, di Desa Sukajadi, Kecamtan Cibinong, Kabupaten Cianjur.
Pinusnews.id - Di tengah kemewahan dan kemajuan desa-desa modern, masih tersisa cerita pilu tentang lansia yang bertahan dalam gubuk reyot, ditemani angin malam yang menusuk tulang. Pasangan Asep Suhendi (68) dan Hindun (56) di Desa Sukajadi, Kecamatan Cibinong, Cianjur, menjadi saksi hidup betapa kemiskinan merenggut martabat manusia. Pemerintah Desa Sukajadi kini gencar merencanakan untuk membangun hunian layak bagi mereka, mengajak kita semua merenung, seberapa sering kita melewatkan tetangga yang haus akan kehangatan rumah sederhana? Kisah ini bukan sekadar berita, melainkan panggilan hati untuk melihat kemanusiaan di balik dinding reyot.
Proses persiapan teknis pembangunan rumah mereka telah dimulai, dari verifikasi lapangan hingga pengukuran lahan, didukung galangan donatur lokal. Pjs Kepala Desa Sukajadi, Eman, tak henti berkoordinasi dengan pengusaha dan pihak kecamatan untuk program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Upaya ini mengingatkan kita bahwa kemiskinan bukan akhir, tapi undangan untuk berbagi. Bayangkan Asep dan Hindun, yang puluhan tahun menahan dingin bocor atap—mereka bukan beban, tapi cermin kerapuhan kita semua. Membantu mereka berarti menyembuhkan luka kolektif masyarakat yang sering lupa akar kemanusiaannya.
Baca Lainnya :
- 97 SD dan 54 SMP di Cianjur Dapat Bantuan 55 Miliar
- Dinkes Cianjur Gelar Simulasi Vaksin Covid-19
- Soal Data KPM, Komisi D Siap Panggil TKSK dan Camat Warungkondang
- Kapolsek Sukaluyu : Pencarian Aji Korban Tenggelam Akan Terjunkan Tim SAR Bandung
- Belum Ditemukan, Aji Prasetyo Tenggelam di Leuwi Lengsir, Sukaluyu
“Alhamdulillah, sudah ada beberapa pihak yang menyatakan kesiapannya membantu, baik dalam bentuk bahan bangunan maupun tenaga. Ini menjadi angin segar bagi percepatan pembangunan rumah Pak Asep dan Ibu Hindun,” ujar Eman dengan penuh harap.
Ini bukan janji kosong, tapi bukti bahwa satu inisiatif kecil bisa menyalakan api empati. Di era di mana kita sibuk dengan gadget, cerita ini mengajak kita turun tangan, donasikan material, waktu, atau bahkan senyuman. Kemanusiaan sejati lahir saat kita memilih melihat orang miskin bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan saudara yang pantas berdiri tegak.
Kisah Asep dan Hindun menyentuh karena mencerminkan jutaan lansia lain di pelosok negeri, yang diam-diam berjuang melawan kelaparan dan kesepian. Rumah layak bukan hanya tembok dan atap, tapi simbol martabat yang dicuri kemiskinan.
Saat pemerintah desa menggalang dukungan, mereka mengingatkan kita pada nilai gotong royong yang hampir pudar. Membantu orang miskin seperti ini berarti membangun jembatan empati—satu bata demi satu bata, kita ciptakan dunia di mana tak ada lagi yang tertinggal.
Lihatlah reaksi Asep yang penuh haru, “Saya tidak menyangka akan mendapat bantuan sebesar ini. Terima kasih kepada pemerintah desa dan semua yang peduli,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Air mata itu adalah harta karun kemanusiaan, pengingat bahwa belas kasih bisa mengubah nasib. Bagi pembaca yang tergerak, ini saatnya bertindak, hubungi desa setempat, ikut program serupa, atau mulai dari lingkungan sendiri. Setiap rupiah atau jam tenaga yang disumbang akan menjadi benih harapan bagi yang tersisih.
Inisiatif Desa Sukajadi adalah obor yang menerangi kegelapan kemiskinan. Ia mengajak kita bertanya, kapan giliran kita menjadi pahlawan bagi tetangga yang haus rumah layak? Dengan empati sebagai pondasi, bisa menciptakan masyarakat di mana orang miskin tak lagi sendirian. Mari bergandengan tangan—karena kemanusiaan sejati terukur dari seberapa kita angkat yang jatuh, bukan dari apa yang dimiliki. (dens).










