- DPMPTSP Cianjur: Pelayanan Prima, PAD Melonjak, Kabupaten Makin Maju
- Dendy Kristanto: Evaluasi Penelusuran KTMDU di Cianjur Perkuat Sinergi Pajak Kendaraan
- 921 Lulusan SMP di Cianjur Belum Melanjutkan Sekolah, Ipan Sopandi: Mereka Akan Ditelusuri
- ASN Setda Cianjur Teguhkan Komitmen Mewujudkan Pemerintahan Bersih
- Wajah Baru, Semangat Baru: Revitalisasi SDN Winayaloka untuk Pendidikan yang Lebih Layak
- Menghadapi Era AI: Bupati Cianjur Ajak Pekerja Tingkatkan Kompetensi
- Di Tengah Kekeringan, Dinsos Cianjur dan TAGANA Hadir Mengalirkan Air Kehidupan
- Mencegah Banjir di Cianjur: Budayakan Hidup Bersih dan Tidak Membuang Sampah Sembarangan
- Musim Hujan Tiba, BPBD Cianjur Imbau Warga Waspada Longsor dan Pergerakan Tanah
- Menata Surat, Mempermudah Kerja: Dinas Pangan Cianjur Genjot Digitalisasi Arsip lewat SRIKANDI
921 Lulusan SMP di Cianjur Belum Melanjutkan Sekolah, Ipan Sopandi: Mereka Akan Ditelusuri

Keterangan Gambar : Kepala Bidang SMP Disdikpora Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Ipan Sopandi.
Pinusnews.id - Dikabarkan ada sebanyak 921 lulusan SMP di Kabupaten Cianjur belum melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi pada 2026. Jumlah tersebut menjadi perhatian Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur karena setiap anak diharapkan tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, baik melalui sekolah formal maupun jalur pendidikan kesetaraan.
Kepala Bidang SMP Disdikpora Kabupaten Cianjur, Ipan Sopandi, menjelaskan, berdasarkan pendataan dengan acuan cut off Dapodik per 31 Agustus 2026, terdapat 29.961 lulusan SMP dari 458 sekolah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29.040 siswa tercatat meneruskan pendidikan ke berbagai jenjang.
Para lulusan itu melanjutkan pendidikan ke SMA, SMK, Madrasah Aliyah (MA), hingga program kesetaraan Paket C. Rinciannya, 10.474 siswa masuk SMA, 14.569 siswa melanjutkan ke SMK, 1.620 siswa ke MA, dan 1.260 siswa mengikuti pendidikan kesetaraan Paket C. Selain itu, sebanyak 1.117 siswa melanjutkan ke pondok pesantren atau boarding school yang memiliki pendidikan formal.
Baca Lainnya :
- Wagub Jabar dengan Assyafir Jinnat Anaem Bahas Pembangunan 1000 MasjidÂ
- AKB dan PPKM Diperpanjang, Cianjur Jangan Terlena
- PMI Cianjur Kirim Relawan ke Lokasi Bencana MamujuÂ
- Kamis, Digelar Vaksinasi di Cianjur, Siapa yang Pertama Divaksin?
- Polisi Bekuk Oknum Pendamping PKH Maling Dana KPM Ratusan Juta Rupiah
Namun, masih terdapat 522 siswa yang memilih masuk pondok pesantren salafiyah tanpa pendidikan formal. Jika digabungkan dengan lulusan yang belum melanjutkan ke jenjang pendidikan lain, jumlahnya mencapai 921 siswa. “Kalau dihitung dari jumlah lulusan 29.961 siswa, yang melanjutkan pendidikan sebanyak 29.040 siswa. Sedangkan yang tidak melanjutkan, termasuk yang masuk pesantren tanpa pendidikan formal, jumlahnya 921 siswa,” tutur Ipan Sopandi di Cianjur, belum lama ini.
Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah lulusan yang belum melanjutkan pendidikan tersebut mengalami penurunan. Menurut Ipan, capaian itu tidak terlepas dari peran sekolah dalam memberikan pemahaman kepada orangtua mengenai pentingnya pendidikan lanjutan bagi anak. Sekolah juga didorong untuk mengadakan pertemuan dengan orangtua siswa kelas IX agar mereka memahami manfaat melanjutkan sekolah.
Bagi siswa, pendidikan tidak hanya menjadi jalan untuk memperoleh ijazah. Tingkat pendidikan juga dapat memengaruhi peluang mereka memasuki dunia usaha dan dunia kerja. “Ketika anak melanjutkan pendidikan, tentu akan berdampak pada peluang mereka diterima di dunia usaha atau tenaga kerja. Selain itu, juga berkontribusi terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Cianjur, terutama indikator rata-rata lama sekolah,” kata Ipan.
Untuk menjangkau para lulusan tersebut, Disdikpora Cianjur telah menyiapkan data berdasarkan nama dan alamat. Data itu akan digunakan untuk menelusuri keberadaan para lulusan, kemudian mengarahkan mereka mengikuti pendidikan kesetaraan melalui PKBM terdekat sesuai wilayah tempat tinggal. Ipan menegaskan, langkah tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena tidak melanjutkan ke sekolah formal. (dens).










