- Di Tengah Kekeringan, Dinsos Cianjur dan TAGANA Hadir Mengalirkan Air Kehidupan
- Mencegah Banjir di Cianjur: Budayakan Hidup Bersih dan Tidak Membuang Sampah Sembarangan
- Musim Hujan Tiba, BPBD Cianjur Imbau Warga Waspada Longsor dan Pergerakan Tanah
- Menata Surat, Mempermudah Kerja: Dinas Pangan Cianjur Genjot Digitalisasi Arsip lewat SRIKANDI
- Revitalisasi SD Negeri Dawuan, Membangun Kenyamanan dan Semangat Belajar
- Merajut Masa Depan Birokrasi: Terobosan Manajemen Talenta ASN Cianjur di Tangan Akos Koswara
- Membawa Kampus Pariwisata Bali ke Cianjur: Peluang Baru bagi Generasi Muda
- Kabag Kesra: Optimis Ketua Baru BAZNAS Cianjur Hadirkan Inovasi dan Pelayanan Semakin Baik
- Camat Mande Gerakkan Hidup Sehat: Dari Kantor ke Masyarakat
- Diskumdagin Cianjur Akselerasi UMKM Naik Kelas: Bantuan Alat Usaha 2026 Jadi Katalis Produktivitas
Musim Hujan Tiba, BPBD Cianjur Imbau Warga Waspada Longsor dan Pergerakan Tanah

Keterangan Gambar : Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur, Samudra Wira Purnama.
Pinusnews.id - Musim hujan sudah turun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur kembali mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap potensi bencana alam, khususnya pergerakan tanah dan longsor. Imbauan ini disampaikan seiring dengan mulai turunnya hujan di sejumlah wilayah Cianjur dalam beberapa hari terakhir, meskipun status siaga kekeringan masih berlaku hingga 30 September 2026.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cianjur, Samudra Wira Purnama, menjelaskan bahwa kondisi peralihan dari musim kemarau ke hujan justru meningkatkan risiko bencana.
“Masa peralihan musim kemarau ke hujan, potensi pergerakan tanah dan longsor dapat terjadi. Karena ketika kemarau tanah jadi retak, lalu saat hujan air dapat langsung meresap atau masuk melalui retakan itu, sehingga bisa memicu tanah longsor dan pergerakan tanah,” papar Samudra. Fenomena ini terjadi karena tanah yang sebelumnya kering dan retak tiba-tiba menyerap air dalam jumlah besar, sehingga kehilangan kestabilannya.
Baca Lainnya :
- AKB dan PPKM Diperpanjang, Cianjur Jangan Terlena
- PMI Cianjur Kirim Relawan ke Lokasi Bencana MamujuÂ
- Kamis, Digelar Vaksinasi di Cianjur, Siapa yang Pertama Divaksin?
- Polisi Bekuk Oknum Pendamping PKH Maling Dana KPM Ratusan Juta Rupiah
- Mantaap, Cianjur Jadi Tuan Rumah HPN 2021
BPBD Cianjur mencatat bahwa seluruh 32 kecamatan di kabupaten ini memiliki potensi bahaya longsor saat musim hujan, terutama di wilayah Cianjur selatan yang secara historis sering mengalami bencana serupa.
“Semua, 32 kecamatan kita pantau karena menyimpan potensi bahaya longsor saat musim hujan, terutama yang sering terjadi di wilayah Cianjur selatan,” imbuh Samudra. Pemantauan ini dilakukan secara intensif untuk memastikan kesiapan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi kemungkinan terburuk.
Selain memantau kondisi geografis, BPBD juga mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap perubahan lingkungan di sekitar mereka. Warga yang tinggal di daerah rawan longsor diminta untuk memperhatikan tanda-tanda awal seperti retakan tanah, pohon miring, atau air yang tiba-tiba keruh.
“Oleh karena itu, Samudra mengimbau masyarakat khususnya yang tinggal di wilayah rawan longsor, untuk memerhatikan kondisi lingkungan sekitar sehingga potensi bencana dapat diantisipasi lebih awal,” ujar Samudra.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak menebang pohon di lahan-lahan yang seharusnya dijaga kelestariannya. Aktivitas penebangan pohon di area rawan dapat memperparah risiko longsor karena akar pohon berfungsi sebagai pengikat tanah.
“Tak hanya itu, kami juga meminta masyarakat tidak menebang pohon di lahan yang seharusnya dijaga, karena kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya longsor,” kata Samudra. Upaya pelestarian vegetasi menjadi salah satu langkah preventif penting dalam mengurangi dampak bencana alam.
Dengan imbauan ini, BPBD Cianjur berharap masyarakat dapat lebih siap dan sigap dalam menghadapi musim hujan. Kewaspadaan dini, pemantauan lingkungan, serta menjaga kelestarian alam menjadi kunci utama dalam mencegah bencana longsor.
“Saat ini pun status siaga kekeringan masih berlaku dan berakhir pada Rabu 30 September 2026 nanti, tapi sebagian besar wilayah di Cianjur sudah mulai diguyur hujan dengan intensitas sedang sampai lebat," jelasnya, sekaligus menegaskan kesiapan bersama, diharapkan dampak bencana dapat diminimalkan dan keselamatan warga tetap terjaga. (dens).










