- DPPKBP3A Cianjur Raih Penghargaan Kampung KB dan Rumah Data Kependudukan
- Jejak Hilman Saukani Membawa BAZNAS Cianjur Lebih Transparan dan Dipercaya
- Menabur Kepedulian, Menuai Kesiapsiagaan: Ribuan Pelajar Cianjur Ikuti Pelatihan dan Pelantikan PMR
- DPPKBP3A Cianjur Kukuhkan SD Ibu Jenab 2 sebagai Sekolah Ramah Anak
- Syukuran dan Komitmen Disbudpar Cianjur Menumbuhkan Kampung Budaya Padi Pandanwangi
- SIROJA, Ikhtiar Camat Mande Memperkuat Ketakwaan dan Kebersamaan
- DLH Cianjur Ajak Warga Bersihkan Sampah untuk Lingkungan yang Nyaman dan Sehat
- DPRD Cianjur Sepakati Perubahan APBD 2026: Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Rakyat
- Revitalisasi SMPS Karakter Daarul Arsyad: Wajah Baru Sekolah dan Bangkitkan Semangat Belajar
- BAZNAS Cianjur dan Sholat Istisqo: Dari Doa dan Sedekah Harapkan Hujan di Cianjur
Ukar Berusia 116 Tahun, Pejuang Sipil Melawan Penjajah Belanda, Kini Hidup Seorang Diri

Keterangan Gambar : Ukar pejuang sipil yang terlupakan, kini berumur 116 tahun hidup menyendiri di wilayah Cibeber, Cianjur.
Pinusnews.id - Malam selalu datang dengan kesunyian di sebuah rumah panggung sederhana di Kampung Bangsakara, RT 03/08 Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber.
Dari luar, rumah kayu berdinding bilik itu tampak gelap gulita. Bukan karena listrik tak ada, melainkan karena penghuninya, seorang lelaki tua bernama Ukar, memang memilih hidup dalam keheningan.
“Kalau gelap lebih tenang, pikirannya jadi adem,” begitu alasan singkat Ukar yang kini berusia 116 tahun.
Baca Lainnya :
- Pemdes Tanjungsari Sukaluyu Bagikan BLT
- Peranan PT. Bukit Naga Mas Kembangkan UMKM di Cianjur
- Ini Hasil Penghitungan Suara Pilkada Cianjur 2020
- Geger, Mayat Pria Ditemukan Meninggal  dalam Rumah
- BNN RI Intip Program Desa Bersih Narkoba di Cianjur
Tubuhnya sudah renta, wajahnya penuh keriput, namun ia masih bisa duduk tegap menyambut siapa pun yang datang berkunjung. Sehari-hari, ia tinggal seorang diri di rumah panggung itu. Meski hidup sebatang kara, Ukar enggan merepotkan orang lain, meskipun dalam kancah kehidupan modern terlupakan sama sekali, padahal Ukar adalah seorang pejuang.
“Pak Ukar ini sosok yang mandiri. Walaupun sudah sepuh, beliau masih kuat dan tidak mau merepotkan saudara atau keluarganya,” kata Kepala Desa Cibadak, Elan Hermawan.
Namun Ukar bukan sekadar tetua biasa. Ia adalah saksi hidup perjuangan bangsa. Sebagai pejuang sipil di masa penjajahan Belanda, ia pernah ikut serta melawan penindasan dengan caranya sendiri. Kisah itu masih ia ingat dan sesekali ia ceritakan kepada warga yang singgah di berandanya.
Rumah panggung yang ia tinggali seakan menjadi ruang sunyi penyimpan banyak cerita. Dari dinding bilik yang mulai lapuk, hingga lantai kayu yang berderit ketika dipijak, semuanya menyimpan jejak perjalanan sepanjang waktu hidupnya.
Bagi warga sekitar, Ukar bukan hanya seorang sepuh berusia lebih dari satu abad. Ia adalah teladan kesahajaan hidup, keteguhan hati, dan bukti nyata betapa panjang usia bisa tetap dijalani dengan ketenangan tanpa keluhan.
Di tengah gelapnya malam di rumah panggung itu, Ukar seolah menyatu dengan waktu, menjadi saksi bisu perjalanan negeri yang pernah ia perjuangkan. (tim dens).











