- Jejak Hilman Saukani Membawa BAZNAS Cianjur Lebih Transparan dan Dipercaya
- Menabur Kepedulian, Menuai Kesiapsiagaan: Ribuan Pelajar Cianjur Ikuti Pelatihan dan Pelantikan PMR
- DPPKBP3A Cianjur Kukuhkan SD Ibu Jenab 2 sebagai Sekolah Ramah Anak
- Syukuran dan Komitmen Disbudpar Cianjur Menumbuhkan Kampung Budaya Padi Pandanwangi
- SIROJA, Ikhtiar Camat Mande Memperkuat Ketakwaan dan Kebersamaan
- DLH Cianjur Ajak Warga Bersihkan Sampah untuk Lingkungan yang Nyaman dan Sehat
- DPRD Cianjur Sepakati Perubahan APBD 2026: Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Rakyat
- Revitalisasi SMPS Karakter Daarul Arsyad: Wajah Baru Sekolah dan Bangkitkan Semangat Belajar
- BAZNAS Cianjur dan Sholat Istisqo: Dari Doa dan Sedekah Harapkan Hujan di Cianjur
- Kolaborasi Kemenag dan BAZNAS Cianjur, Menguatkan Usaha Masyarakat dari KUA
Tragedi di Ciranjang, Cermin Gagalnya Kepedulian Pemerintah pada Anak
.jpg)
Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Oleh: Torik Imanurdin
Pinusnews.id - Peristiwa tragis bunuh diri seorang bocah 10 tahun di Kecamatan Ciranjang seharusnya menggugah nurani sekaligus mengguncang kesadaran pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan dan DPPKBP3A Kabupaten Cianjur. Fakta bahwa seorang anak sekolah dasar memilih mengakhiri hidupnya menunjukkan ada sistem yang gagal — bukan hanya di rumah, tetapi juga di lingkungan pendidikan dan kebijakan publik kita.
Pertanyaannya sederhana namun menohok: di mana peran negara melalui dinas-dinasnya ketika anak-anak menghadapi tekanan mental, kesepian, dan kehilangan arah? Jangan sampai dinas hanya muncul saat upacara dan rapat koordinasi, tetapi absen saat nyawa anak bangsa melayang di tengah sunyi.
Baca Lainnya :
- Penyaluran APBD Mentok, Puluhan Tahun Jalan di Kampung Halimun Rusak Parah
- Banyak Bantuan Tidak Tepat Sasaran, Dinsos Cianjur Evaluasi data KPM
- Pengendara Diputar Balik, TNI-POLRI Razia di Pantai Wisata Cianjur
- Pelantikan Pengurus Syarikat Islam Kab. Cianjur Masa Jihad 2020-2025
- Info untuk Bupati Cianjur, 170 Rumah Tidak Layak Huni di Desa Tanjungsari Harus Cepat DibantuÂ
Kejadian ini bukti bahwa pendekatan pendidikan selama ini terlalu sibuk pada angka dan laporan, tapi abai pada jiwa anak-anak. Tidak ada penguatan konselor sekolah, tidak ada sistem pemantauan kesejahteraan psikologis siswa, dan tidak ada koordinasi lintas sektor untuk pencegahan dini kasus kekerasan maupun depresi anak.
Sudah saatnya Bupati Cianjur mengevaluasi serius kinerja dinas terkait. Jangan biarkan tragedi kemanusiaan ini berlalu begitu saja tanpa tanggung jawab moral dan kebijakan nyata. Jika dinas hanya bisa memberi alasan tanpa solusi, itu tanda kepemimpinan yang kehilangan empati terhadap generasi penerus daerah ini.
Anak kecil berusia 10 tahun tidak semestinya mengenal putus asa. Jika sampai ia memilih tali sepatu untuk mengakhiri hidupnya, maka tali yang sebenarnya terputus adalah ikatan tanggung jawab antara pemerintah dan rakyatnya.
Penulis
Torik Imanurdin, S.Pd.,M.Pd.
Alumni FIP UPI Jurusan Pendidikan Khusus Spesialisasi Anak Tunalaras.











