- Bupati Wahyu dalam Rembug Warga Cianjur: Langkah Nyata Menuju Kesejahteraan Inklusif
- Cari Solusi Agar Gaji Guru Honorer Dibayar, KDM Segera Temui Menteri PAN-RB
- Panggil Kapolri, Presiden Prabowo Bahas Keamanan Nasional dan Program Strategis Polri
- Kesuksesan Bidang SMP Disdikpora Cianjur dalam Menggelar Tes Kemampuan Akademik 2026
- Bupati Wahyu: Koperasi Pilar Utama Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Cianjur
- Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) Siap Dibangun di Jawa Barat Mulai Juni 2026
- Tanggung Jawab PT DMGP dalam Mengembangkan Energi Panas Bumi di Cipanas, Cianjur
- Rembug Warga: Langkah Nyata Bupati Cianjur Hadirkan Pembangunan Berbasis Aspirasi Masyarakat
- Zakat Bersama: Membangun Cianjur Kuat dari Soliditas Umat Bersama BAZNAS
- Satgas Yonif 300/Brajawijaya Amankan Senjata Logistik Kelompok Bersenjata di Nduga
Mengapa Ikan Teri Penting Untuk Generasi Emas?
1.jpg)
Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Oleh Torik Imanurdin, S.Pd.,M.Pd
Anggota ICMI ORDA Cianjur
Pinusnews.id -Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah upaya mulia negara untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing. Namun, muncul keluhan viral soal menu ikan teri dari seorang guru PAUD. Kritik ini memicu perdebatan: soal rasa, gengsi, dan pemahaman gizi.
Baca Lainnya :
- Januari 2021 Semua Sekolah di Cianjur Bisa Saja Dibuka, Asal..
- Satpol PP Cianjur Sambut Tahun Baru dengan Operasi Miras
- Awas Copet di Angkot Cianjur Makin Menggila
- Giat Operasi Yustisi di Kawasan Wisata Cibodas, Cianjur
- Cianjur Tingkatkan Disiplin Prokes
Padahal, ikan teri bukan sekadar lauk sederhana. Ia mengandung kalsium, protein, dan omega-3 yang sangat penting bagi kecerdasan dan pertumbuhan anak. Bahkan, dalam 100 gram ikan teri, kalsiumnya bisa lebih tinggi daripada segelas susu. Fakta ini diakui para ahli gizi, bukan sekadar opini.
Pertanyaan mendasar: mengapa makanan lokal sering diremehkan? Apakah karena tampilannya sederhana, atau karena dianggap tidak bergengsi? Justru di tengah perjuangan melawan stunting, merendahkan lauk bergizi menunjukkan kurangnya literasi gizi.
Guru dan pendidik adalah teladan. Kritik sah saja, tetapi harus berbasis ilmu dan etika, bukan sekadar sensasi. Sebab, komentar merendahkan bisa membentuk persepsi keliru di masyarakat.
Indonesia kaya akan pangan lokal bergizi: ikan teri, tempe, jagung, daun kelor. Semua ini bukan simbol kemiskinan, melainkan simbol kemandirian dan identitas bangsa. MBG sejatinya adalah strategi negara untuk mengangkat kembali martabat pangan lokal.
Mari kita ubah cara pandang: dari keluhan menjadi edukasi, dari gengsi menjadi apresiasi. Karena di balik ikan teri, tersimpan harapan besar bagi lahirnya generasi emas Indonesia.











