- SENJA Cianjur Diluncurkan: Sekolah untuk Membuat Lansia Sehat, Mandiri, dan Produktif
- Bupati Cianjur Ajak MUI Kolaborasi Perkuat Pembinaan Keagamaan dan Layanan Publik
- Kejar Target Angka Harapan Hidup, Jabar Siap Sukseskan Program KITA SEHAT
- Cianjur Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan 3 Bulan, BPBD Tangkas Koordinasi Mitigasi dan Bantuan
- BAZNAS Cianjur Perbaiki Rutilahu: Dua Keluarga Terima Bantuan Rp25 Juta
- Disdikpora Cianjur Perkuat Pengawasan BOS Kinerja, 210 Kepala Sekolah Ikuti Sosialisasi
- Perumdam Tirta Mukti Cianjur: Musim Kemarau Panjang, Pasokan Air Bersih Menipis
- DPUTR Cianjur Perkuat Integritas: Sosialisasi Anti-Gratifikasi untuk Pelayanan Publik yang Bersih
- Kerja Skala Besar di Mekarmukti: Progres TMMD Ke-129 Kodim 0608/Cianjur Capai Banyak Titik
- Relokasi SDN Pasirkelewih Bikin Akses Belajar Lebih Dekat dan Nyaman
Mengapa Ikan Teri Penting Untuk Generasi Emas?
1.jpg)
Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Oleh Torik Imanurdin, S.Pd.,M.Pd
Anggota ICMI ORDA Cianjur
Pinusnews.id -Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah upaya mulia negara untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing. Namun, muncul keluhan viral soal menu ikan teri dari seorang guru PAUD. Kritik ini memicu perdebatan: soal rasa, gengsi, dan pemahaman gizi.
Baca Lainnya :
- Januari 2021 Semua Sekolah di Cianjur Bisa Saja Dibuka, Asal..
- Satpol PP Cianjur Sambut Tahun Baru dengan Operasi Miras
- Awas Copet di Angkot Cianjur Makin Menggila
- Giat Operasi Yustisi di Kawasan Wisata Cibodas, Cianjur
- Cianjur Tingkatkan Disiplin Prokes
Padahal, ikan teri bukan sekadar lauk sederhana. Ia mengandung kalsium, protein, dan omega-3 yang sangat penting bagi kecerdasan dan pertumbuhan anak. Bahkan, dalam 100 gram ikan teri, kalsiumnya bisa lebih tinggi daripada segelas susu. Fakta ini diakui para ahli gizi, bukan sekadar opini.
Pertanyaan mendasar: mengapa makanan lokal sering diremehkan? Apakah karena tampilannya sederhana, atau karena dianggap tidak bergengsi? Justru di tengah perjuangan melawan stunting, merendahkan lauk bergizi menunjukkan kurangnya literasi gizi.
Guru dan pendidik adalah teladan. Kritik sah saja, tetapi harus berbasis ilmu dan etika, bukan sekadar sensasi. Sebab, komentar merendahkan bisa membentuk persepsi keliru di masyarakat.
Indonesia kaya akan pangan lokal bergizi: ikan teri, tempe, jagung, daun kelor. Semua ini bukan simbol kemiskinan, melainkan simbol kemandirian dan identitas bangsa. MBG sejatinya adalah strategi negara untuk mengangkat kembali martabat pangan lokal.
Mari kita ubah cara pandang: dari keluhan menjadi edukasi, dari gengsi menjadi apresiasi. Karena di balik ikan teri, tersimpan harapan besar bagi lahirnya generasi emas Indonesia.











