Lecehkan Santri Perempuan, Bau Busuk Ustadz Bejat Terbongkar

07 Jul 2022, 21:45:49 WIB PERISTIWA
Lecehkan Santri Perempuan, Bau Busuk Ustadz Bejat Terbongkar

Keterangan Gambar : Keterangan gambar : Foto ilustrasi


pinusnews.id Cianjur -Tindakan tak terpuji berupa pelecehan seksual seorang ustadz terhadap sejumlah santriwatinya, kini kembali terjadi di Kampung Pasirgede, Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.


Terkait kasus itu, Kepala Desa Sukaluyu, Uher Suherman membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurutunya, aksi tak terpuji itu dilakukan oleh Ustadz SA (30) terhadap dua orang santriwatinya, YY (19) dan NN (19). 

Baca Lainnya :


Diperoleh informasi, untuk melancarkan aksi bejatnya itu, ustadz SA yang merupakan Sekretaris MUI dan Petugas Pencatat Nikah (P2N) Desa Sukaluyu, juga selaku Ketua Unit Pengumpul Zakat (UPZ) tingkat Kecamatan Sukaluyu, mengharuskan santri perempuan menginap di rumahnya. Sedangkan santri laki-laki tidak diperkenankan menginap.


Saat menginap itulah santri perempuan mendapat ritual setiap pukul 24.00 WIB. Mereka diharuskan mandi tengah malam dan bagian tubuh diolesi madu, dengan berdalih agar ilmu mengaji yang diajarkan ustadz SA itu cepat terserap oleh santriwati.


Namun dibalik ritual itu, rupanya sang ustadz mempunyai rencana lain. Ia melakukan aksi tak terpuji dengan cara memegang-megang alat vital santriwati. Karuan saja hal itu membuat para santriwati mengalami trauma, dan memilih keluar dari pesantren tersebut.


“Jadi setelah mengalami hal tersebut santri putri memilih keluar dari pesantren tersebut, namun belum memberitahu kepada orang tuanya masing-masing," tutur Uher Suherman. 


Uher juga mendapat informasi, bahwa ustadz bejat itu selalu berpesan kepada santri putrinya agar tidak memberitahu siapapun mengenai aksi tak terpujinya itu.

“Katanya, kalau diberitahu ilmunya tidak akan berkhasiat,” tutur Uher, menirukan pesan Ustadz SA.


Namun ibarat peribahasa, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, bau busuknya akan tercium juga. Begitupun perilaku bejat sang ustadz SA ini, tidak dapat ditutup-tutupi. Akhirnya ketahuan juga oleh masayarakat sekitar, setelah adanya penuturan dari kedua santriwati yang menjadi korban pelecehan ustadz itu.


Menurut Uher, sekitar 100 orang warga yang kesal setelah mengetahui penuturan dua korban  YY dan NN, yang mengaku dilecehkan oleh guru ngajinya, sempat mengepung rumah SA, sang ustadz cabul itu. Namun demikian, dalam peristiwa itu tidak sampai terjadi adanya tindakan anarkis.


“Sekitar 100-an warga sempat mengepung rumah SA, namun aksi anarkis berhasil diredam setelah aparat Desa, Babinsa dan Babinkamtibmas menjamin sang ustadz akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku, kemudian wargapun membubarkan diri dengan tertib,” terang Kades.


Uher mengatakan, jumlah santri di pesantren tempat pelaku terakhir terdata sebanyak 50 orang, tetapi seiring dengan terbongkarnya prilaku bejat sang Ustadz itu, saat ini seluruh santri sudah bubar semuanya.


“Dari kejadian tersebut saya mengimbau kepada orang tua dan guru ngaji agar tak ada lagi murid menginap di guru ngaji, terutama yang perempuan," jelasnya.


Masih menurut Uher, pihaknya sampai saat ini terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait, guna memenuhi harapan warganya agar kasus tersebut diproses secara hukum.


“Dari UPZ tempat ia bekerja sudah datang ke sini, sekarang juga saya mau berkoordinasi dengan pihak kecamatan. Setiap hari warga terus berdatangan ke kantor desa bertanya soal perkembangannya. Saya jamin semua sesuai proses hukum,” tegas Uher.


Uher juga mengaku, pihaknya sudah kedatangan dua orang perwakilan dari dinas yang mengurus soal perempuan dan anak.


“Tadi ada dua orang turun ke lokasi dan rumah korban untuk melakukan advokasi juga trauma healing dan pendataan,” imbuhnya.


Selain itu, Uher juga mengatan pihaknya sudah mencopot Ustadz SA dari jabatannya sebagai petugas P2N, Amil Desa. 


Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Sukaluyu, Ustadz Jajang Ridwan Fatah, saat dihubungi awak media via telpon selulernya mengatakan, pihaknya baru mengetahui peristiwa tersebut hari Rabu, (06/07/2022). 


“Namun, peristiwa itu sudah dilaporkan kepada pihak Baznas Kabupaten Cianjur, dan kami sangat menyesalkan kejadian tersebut,” tambah Ustadz Jajang (AI).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment