Keprihatinan Ketua DPRD Cianjur: Duel Gladiator Pelajar, Ancaman Biadab yang Harus Diberantas

26 Jan 2026, 07:40:40 WIB PERISTIWA
Keprihatinan Ketua DPRD Cianjur: Duel Gladiator Pelajar, Ancaman Biadab yang Harus Diberantas

Keterangan Gambar : Keprihatinan Ketua DPRD Cianjur: Duel Gladiator Pelajar, Ancaman Biadab yang Harus Diberantas


Pinusnews.id - Peristiwa yang sangat membahayakan jiwa manusia dimana aksi kekerasan pelajar makin menjamur dan beringas di Kabupaten Cianjur, telah menjadi alarm darurat bagi dunia pendidikan. Fenomena duel ala "gladiator" di Kecamatan Sindangbarang, yang mengakibatkan seorang siswa mengalami patah tulang kaki, hanyalah puncak gunung es dari tren kekerasan yang berulang selama tiga tahun terakhir.

Kekerasan ini meliputi berbagai jenjang pendidikan, dari SD hingga SMA, dan bahkan sempat memakan korban jiwa pada pertengahan tahun lalu. Di tengah kekhawatiran masyarakat, Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Metty Triantika, menunjukkan perhatian mendalam terhadap perilaku biadab para pelajar ini, mendesak intervensi serius dari pemerintah daerah.

Metty Triantika tidak hanya bereaksi keras, tapi juga mengungkapkan keprihatinannya secara tegas. “Kami prihatin, aksi kekerasan pelajar ini terus berulang, dimana yang terbaru terjadi Kecamatan Sindangbarang, membuat satu orang luka berat yakni kakinya patah. Tentu ini harus disikapi secara serius,” tegasnya belum lama ini.

Baca Lainnya :

Bagi Metty, kekerasan pada pelajar bukanlah naluri bawaan, melainkan hasil kegagalan sistem di sekitar mereka. Ia menyoroti bahwa “Anak-anak, terutama pelajar tidak lahir dengan kecenderungan kekerasan, tetapi dibentuk oleh lingkungan, pola asuh, serta ruang sosial yang gagal memberi teladan dan rasa aman.” Pernyataan ini menegaskan komitmennya untuk melindungi generasi muda dari pengaruh destruktif.

DPRD, di bawah kepemimpinan Metty, mengidentifikasi dua faktor utama pemicu maraknya duel gladiator: lemahnya pembinaan karakter dan pengaruh media sosial yang memprovokasi adu gengsi. Metty menekankan perlunya langkah radikal, seperti pengawasan lingkungan pergaulan hingga pendampingan emosional terhadap anak-anak usia sekolah.

Ia juga mendorong penguatan literasi digital agar remaja tidak terjebak tantangan berbahaya di dunia maya. Keprihatinan ini menjadi panggilan bagi Cianjur untuk membangun lingkungan yang lebih manusiawi bagi generasi muda, dengan momentum insiden Sindangbarang sebagai titik balik.

Menanggapi desakan DPRD, Bupati Cianjur, dr. Mohammad Wahyu, menjanjikan evaluasi menyeluruh melalui Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora), khususnya di zona konflik rawan. 

“Tentu dalam penanganan masalah ini perlu dilakukan secara serius agar tidak terulang. Tapi pada anak tentunya harus ada penanganan dan pendekaran tersendiri,” ujarnya.

Salah satu kebijakan konkret adalah pembatasan ketat penggunaan handphone di sekolah dan rumah, dengan himbauan kepada orang tua untuk mengawasi konten kekerasan. “Penggunaan handphone tentu akan dibatasi, baik di sekolah ataupun rumah. Kami minta orangtua juga mengawasi agar anak-anak tidak menerima tontonan yang memicu kekerasan,” tambahnya.

Keprihatinan Ketua DPRD Metty Triantika patut diapresiasi sebagai suara legislatif yang vokal, mendorong kolaborasi semua pihak untuk membendung perilaku biadab pelajar. Hanya dengan pendekatan holistik—dari pembinaan karakter hingga pengawasan digital—Cianjur bisa mewujudkan pendidikan yang aman dan bermartabat. (dens).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment