- DPRD Cianjur Gelar Rapat Paripurna: Jawaban Eksekutif atas Pandangan Umum Fraksi
- Hilman Saukani: BAZNAS dan Dekopinda Merajut Sinergi Zakat yang Menggerakkan Umat
- Ruhli Solehudin: Sekolah Rakyat Cianjur Masih Pending, Lahan 10 Hektare Jadi Kendala Utama
- Dari Abu Menuju Harapan: Aksi Cepat PMI Cianjur Lindungi Warga di Tengah Hujan Vulkanik
- Disdikpora Cianjur: Imbau Warga Sekolah dari Abu Vulkanik dengan Pembelajaran Daring
- Lewat SADA Jabar, Sekda Herman Dorong Kepala Desa Aktif Tingkatkan IPM
- 282 Ruang Kelas yang Hilang: Potret Kesenjangan Infrastruktur SMP di Cianjur
- Presiden Prabowo: Tertibkan Kawasan Hutan SecaraTegas, Transparan, dan Akuntabel
- Sanroh BAZNAS Cianjur: Menyegarkan Hati, Mengokohkan Amanah
- Sekolah di Ujung Kampung: Janji Bupati Cianjur untuk Pendidikan yang Layak
Jenazah Musso, Pemimpin Pemberontakan PKI Madiun, di RS Ponorogo (31 Oktober 1948)

Keterangan Gambar : Mayat Musso setelah tertembak pasukan TNI.
pinusnews.id Cianjur -Setelah pemberontakan di Madiun gagal, Musso bersama Amir Sjarifuddin dan pentolan PKI lain melarikan diri ke Ponorogo. Musso berselisih dengan Amir dan memisahkan diri ke arah selatan dengan hanya dikawal dua orang, sementara Amir melanjutkan pelariannya ke Pacitan.
Pada tanggal 31 Oktober 1948, Musso dihentikan oleh dua orang keamanan desa ketika berjalan kaki di Desa Balong. Pihak keamanan desa curiga dengan penampilan Musso yang bersih. Musso melawan ketika dimintai surat-surat dan menembak petugas yang memeriksanya, lalu kabur setelah merampas sebuah sepeda.
Baca Lainnya :
- Babinsa Wawan Lakukan Pendampingan Penandaan dan Pendataan Hewan Ternak
- Hayam Wuruk Raja Majapahit Berkuasa di Nusantara
- Pasar Rakyat Kadupandak Dukung Kelancaran Proses Perekonomian
- Pahlawan Prawatasari yang Asing di Tanah Kelahirannya Cianjur
- Serka Dedi Rahmat Bantu Warga Pengecoran Jalan Desa
Musso kemudian merampas sebuah delman dan bersama pengawalnya, mereka kabur sementara tentara mengejarnya. Dalam kejar-kejaran terjadi saling tembak hingga kuda delman tertembak. Musso kemudian memberhentikan sebuah mobil dengan menodongkan pistol. Kali ini Musso bernasib sial, mobil yang ia rampas tidak bisa hidup dan ia berlari ke arah desa.
Ia masuk ke sebuah rumah dan bersembunyi di dalam kamar mandi, sementara pasukan TNI yang dipimpin Kapten Sumadi telah mengepung. Pengepungan tersebut tidak bermaksud menembak mati Musso, melainkan menangkapnya hidup-hidup.
Lalu, Musso diminta untuk menyerah, tapi ia tetap bersikukuh melawan. Tentara pun memberondong kamar mandi dan Musso tewas bersimbah darah. Mayatnya sempat dibawa ke RS Ponorogo dan dipertontonkan sebelum kemudian dibakar. (Arimbi Pasir-Sejarah dan Peristiwa).











