Jembatan Gantung Putus Akibat Banjir, Siswa SMP di Cianjur Terpaksa Jalan Kaki 5 Km ke Sekolah

17 Nov 2025, 06:30:50 WIB PERISTIWA
Jembatan Gantung Putus Akibat Banjir, Siswa SMP di Cianjur Terpaksa Jalan Kaki 5 Km ke Sekolah

Keterangan Gambar : Jembatan yang putus hingga sejumlah siswa terpaksa bejalan kaki 5 km untuk pergi ke sekolah, di Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur.


Pinusnews.id - Keberadaam sejumlah siswa SMP dari dua desa di Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur, terpaksa menempuh jarak hampir lima kilometer untuk menuju sekolah mereka. Hal ini terjadi setelah jembatan gantung penghubung antar desa rusak parah akibat meluapnya Sungai Cibuni pada Selasa (11/11/2025).

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur, Helmi Halimudin, menjelaskan bahwa belasan siswa asal Desa Rawagede dan Karangtengah tidak bisa lagi melewati jembatan tersebut untuk menuju ke sekolah di Desa Pageurmaneuh.

"Biasanya mereka menggunakan jembatan gantung ini karena jaraknya jauh lebih dekat ke sekolah. Sekarang mereka harus menempuh rute memutar hampir lima kilometer agar bisa sampai," ujar Helmi kepada awak media.

Baca Lainnya :

Meski menghadapi kendala tersebut, para siswa masih tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar. "Kami sudah meminta pihak sekolah agar memaklumi jika ada siswa yang datang terlambat karena hambatan tersebut," tambah Helmi.

Kepala Desa Pageurmaneuh, Dodi Agusti Romdon, menegaskan tidak ada korban jiwa atau luka akibat meluapnya Sungai Cibuni. Namun, jembatan penghubung antar Desa Pageurmaneuh, Karangtengah, dan Rawagede terputus dan tidak bisa dilewati lagi.

Disebutkan, solusi cepat dan jangka panjang untuk mempermudah kembali akses siswa ke sekolah yaitu dengan penyediaan transportasi alternatif: Pemerintah daerah dan sekolah dapat segera mengatur kendaraan operasional seperti mobil pick-up atau sepeda motor roda tiga untuk mengantar-jemput siswa dari desa yang paling terdampak menuju titik terdekat yang bisa dilalui.

Kemungkinan lainnya adalah dengan pembuatan jembatan darurat: Dalam waktu sesingkat mungkin, pembangunan jembatan darurat dari material sederhana seperti bambu atau besi ringan dapat dilakukan untuk memperpendek jarak tempuh siswa.

Solusi lainnya adalah mendukung pembelajaran daring sementara: Sekolah dapat memperkuat program pembelajaran jarak jauh (online) atau pembelajaran di rumah apabila kondisi cuaca dan akses sangat sulit, sehingga siswa tidak ketinggalan materi.

Kemudian langkah selanjutnya adalah percepatan pembangunan jembatan permanen: Dinas terkait diminta mempercepat perbaikan atau pembangunan jembatan permanen yang lebih kokoh dan tahan terhadap banjir untuk membuka akses jangka panjang.

Lebih dari juga sangat dimungkinkan upaya ini dengan melibatkan warga desa sekitar untuk turut membantu menjaga dan memantau kondisi jembatan serta membantu siswa dalam akses sehari-hari, misalnya bergantian mengantar penyeberangan.

Langkah-langkah ini diharapkan dapat segera mengurangi beban siswa dan menjamin kelangsungan pendidikan di wilayah terdampak. (dens).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment