Jembatan Cikadu Cianjur: Ancaman Tersembunyi yang Menggantung Nyawa Warga

31 Jan 2026, 07:10:32 WIB PERISTIWA
Jembatan Cikadu Cianjur: Ancaman Tersembunyi yang Menggantung Nyawa Warga

Keterangan Gambar : Jembatan Cikadu yang sudah rusak berada di Kampung Jayasari, Desa Mekarsari, Kecamatan Kadupandak, Cianjur Selatan,


Pinusnews.id - Di lereng-lenggok pedesaan Cianjur, Jembatan Cikadu di Kampung Jayasari, Desa Mekarsari, Kecamatan Agrabinta, berdiri sebagai saksi bisu kelalaian berkepanjangan. Jembatan vital ini, yang menghubungkan warga dengan dunia luar, kini terkulai lemah: lantainya retak-retak, struktur penyangganya rapuh, dan setiap langkah di atasnya seperti taruhan dengan maut.

Memang disadari bahwa kendala utama untuk membangun jembatan Cikadu adalah keterbatasan anggaran desa yang membuat usulan perbaikan menguap begitu saja. Padahal, jembatan ini bukan sekadar rangka besi—ia adalah urat nadi kehidupan sehari-hari ribuan warga.

Bayangkan anak-anak berangkat sekolah di pagi buta, petani mengangkut hasil panen dengan truk usang, atau ibu-ibu membawa barang dagangan ke pasar desa tetangga. Semua itu bergantung pada Jembatan Cikadu, satu-satunya akses utama Kampung Jayasari ke desa lain. Ketua RT setempat, Adam (42), menggambarkan kengerian itu dengan nada prihatin.

Baca Lainnya :

"Jembatan ini akses utama warga... Tapi kondisinya sekarang sangat mengkhawatirkan," katanya.

Kerusakan jembatan Cikadu yang sudah bertahun-tahun ini memburuk, terutama saat hujan deras atau malam gelap, di mana rasa takut menjadi teman tetap para pengguna. Satu kecelakaan saja bisa berujung korban jiwa, lumpuhnya ekonomi pertanian, dan beban sosial yang tak terbayangkan bagi keluarga serta pemerintah.

Penjabat Sementara Kepala Desa Mekarsari, Mulyana, tak kalah vokal. Ia menegaskan peran krusial jembatan sebagai penghubung antar-desa, yang menyangkut mobilitas dan keselamatan warga secara luas.

"Kondisinya memang sangat membahayakan jika terus dibiarkan," katanya, sambil menimpali harapan pada pemerintah kabupaten dan provinsi untuk mengalokasikan dana. Usulan desa sudah diajukan, tapi terhambat birokrasi anggaran. Ini bukan sekadar keluhan lokal—ini panggilan darurat yang menuntut respons cepat.

Keterlambatan perbaikan bukan hanya soal uang, tapi prioritas. Anggaran desa terbatas, tapi kabupaten Cianjur dan Provinsi Jawa Barat punya sumber daya lebih besar melalui APBD, dana infrastruktur nasional, atau bahkan bantuan pusat via program desa tertinggal.

Bayangkan dampak jika jembatan Cikadu itu roboh: anak sekolah terisolasi, hasil panen membusuk, dan biaya evakuasi serta pengobatan melonjak. Semua pihak rugi—warga kehilangan nyawa dan mata pencaharian, pemerintah menghadapi tuntutan hukum dan citra buruk.

Kini sudah saatnya Pemkab Cianjur, Pemprov Jabar, dan Kementerian PUPR serius turun tangan, lakukan inspeksi mendadak, realokasi dana darurat, dan bangun jembatan baru yang kokoh. Jangan tunggu tragedi untuk bergerak—perbaiki Jembatan Cikadu sekarang, demi keselamatan dan masa depan warga Agrabinta! (dens).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment