Dari Diaspora untuk Tanah Leluhur: Ketika Kepedulian Menjadi Investasi Masa Depan Jawa Barat

24 Mar 2026, 08:08:48 WIB Jawa Barat
Dari Diaspora untuk Tanah Leluhur: Ketika Kepedulian Menjadi Investasi Masa Depan Jawa Barat

Keterangan Gambar : Wendi Ratnasari bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyerahkan hibah tanah seluas 80 hektar kepada pemerintah Provinsi Jawa Barat - foto istimewa.


Pinusnews.id - Langkah besar datang dari seorang diaspora asal Jawa Barat, Wendy Ratnasari, yang menunjukkan bahwa jarak geografis tidak pernah memutus ikatan emosional dengan tanah kelahiran. Ia menghibahkan lahan seluas 80 hektare di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung, kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai bentuk kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan.

Penyerahan tersebut dilakukan bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Gedung Pakuan, Kota Bandung. Momentum mwrupakan simbol kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat—termasuk diaspora—dalam menjaga masa depan lingkungan dan ekonomi daerah. Dalam pandangan Dedi Mulyadi, langkah ini memiliki makna strategis. Ia menegaskan bahwa perubahan fungsi lahan dari tanaman sayuran menjadi kebun kopi dan tanaman tegakan merupakan upaya memperbaiki keseimbangan ekologis. 

“Sehingga akan diubah jenis tanaman dari sayuran menjadi kebun kopi. Sebagian juga ditanami tanaman tegakan yang kuat agar bisa menghasilkan oksigen,” ujarnya.

Baca Lainnya :

Perubahan tersebut bukan tanpa alasan. Tanaman sayuran dinilai kurang memiliki kekuatan akar untuk menjaga struktur tanah, terutama di kawasan lereng yang rawan erosi. Dengan mengganti komoditas ke tanaman kopi dan pohon berkayu, diharapkan fungsi konservasi lingkungan dapat berjalan lebih optimal, sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Namun yang menarik, transformasi ini tidak mengabaikan aspek sosial. Warga yang selama ini menggantungkan hidup sebagai penggarap tetap dilibatkan dalam pengelolaan lahan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahkan berkomitmen memberikan pembiayaan rutin selama masa tanam hingga panen. 

“Penggarapnya tetap mendapat alokasi pembiayaan setiap bulan. Daripada jadi kuli panggul Rp30.000 per hari, lebih baik menanam dan mendapat upah dari pemerintah provinsi," ungkapnya.

Pendekatan ini mencerminkan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada keberlanjutan kesejahteraan masyarakat. Lahan tersebut ke depan tidak hanya menjadi kebun kopi, melainkan kawasan terpadu yang menggabungkan fungsi ekologi, ekonomi, pendidikan, hingga pariwisata.

“Kalau saya itu melihat sesuatu secara holistik. Kawasan ini nanti punya fungsi wisata, fungsi kesehatan lingkungan, ekologi, sekaligus edukasi,” tambahnya.

Kontribusi terhadap daerah tidak selalu harus dilakukan dari dalam wilayah itu sendiri. Sosok seperti Wendy Ratnasari menunjukkan bahwa diaspora memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Bukan tidak mungkin, langkah ini akan menginspirasi individu lain—baik di dalam maupun luar negeri—untuk turut menghibahkan sumber daya yang dimiliki demi kemajuan Jawa Barat.

Inisiatif ini mengajarkan bahwa pembangunan sejati adalah hasil dari gotong royong lintas batas. Ketika kepedulian bertemu dengan kebijakan yang tepat, maka masa depan yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan yang sedang dibangun bersama. (dens).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment