- Zmart BAZNAS Cianjur: Mengukir Kemandirian Ekonomi Mustahik Melalui Warung Shara Yuliana
- Lebih Mudah, Bayar Pajak Kendaraan Bermotor Cukup STNK Tanpa KTP Pemilik Pertama
- Presiden Prabowo Pastikan Indonesia Siap Hadapi Krisis Energi di Tengah Ketidakpastian Dunia
- Respons Disnakertrans Cianjur: WFH Fleksibel untuk Penghematan Energi di Perusahaan Swasta.
- Penguatan Edukasi Imunisasi: Kinerja Apik Dinas Kesehatan Cianjur demi Kesehatan Warga
- Pelepasan Penuh Makna: Dedikasi Yajid Ahmad dan Komitmen BKPSDM Cianjur untuk Aparatur Unggul
- Monolog Budaya dan Peran Pers dalam Menguatkan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal di Cianjur
- Seleksi Calon Ketua BAZNAS Cianjur 2026-2031: Langkah Menuju Kepemimpinan Profesional
- Perumdam Tirta Mukti Cianjur: Pohon Tumbang Tak Ganggu Aliran Air Bersih untuk Pelanggan
- Kunjungan Takziah Sekda Cianjur dan Kabag Kesra: Simbol Empati Pemerintah di Tengah Musibah
Menanti Uluran Tangan: Rumah Roboh dan Harapan Ibu Aminah di Cianjur Selatan

Keterangan Gambar : Ibu Aminah tengah berada di puing-puing rumahnya di Sindangbarang, Cianjur Selatan. (Gusti Wilantara).
Pinusnews.id - Di Kampung Bojong Kalapa, Desa Sirnagalih, Kecamatan Sindangbarang, Cianjur Selatan, seorang ibu berdiri memandangi puing rumah yang dulu menjadi tempat berlindung keluarganya. Dialah Ibu Aminah, sosok perempuan yang kini harus berhadapan langsung dengan kenyataan pahit yakni rumah sederhananya telah ambruk, menyisakan reruntuhan kayu dan genting, serta pertanyaan besar tentang di mana ia dan kedua anaknya akan berteduh malam ini.
Rumah itu bukan sekadar bangunan. Di dalamnya tersimpan kenangan, doa, dan perjuangan panjang seorang ibu yang hidup dalam berbagai keterbatasan. Namun usia bangunan yang sudah rapuh dan tak kunjung tersentuh perbaikan, akhirnya menyerah pada waktu.
“Sekarang kondisi rumah saya sudah ambruk, tidak bisa ditempati. Saya hanya berharap ada bantuan dari pemerintah supaya bisa punya rumah lagi,” ujar Ibu Aminah, Kamis [26/3/2026]. Harapan sederhana itu menggambarkan betapa tempat tinggal layak seharusnya menjadi hak dasar setiap warga, bukan kemewahan yang sulit dijangkau.
Baca Lainnya :
- Aji Prasetio Korban Tenggelam di Kali Cilaku Ditemukan Sudah Meninggal
- Rapat Forkopimda dan Evaluasi Penanganan Covid-19 di Cianjur
- 97 SD dan 54 SMP di Cianjur Dapat Bantuan 55 Miliar
- Dinkes Cianjur Gelar Simulasi Vaksin Covid-19
- Soal Data KPM, Komisi D Siap Panggil TKSK dan Camat Warungkondang
Selama ini, Ibu Aminah berjuang menjaga dan membesarkan dua orang anaknya. Di tengah kesulitan ekonomi, ia tetap berusaha bertahan, meski rumah yang ditinggali sudah lama menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
Kekhawatiran akan robohnya bangunan itu sebenarnya sudah muncul sejak lama, tetapi apa daya, tanpa dukungan dan kemampuan finansial, yang bisa dilakukan hanyalah berdoa agar rumah itu tetap kuat menahan hujan dan angin. Kini, kekhawatiran tersebut berubah menjadi kenyataan pahit yang menguji keteguhan hati seorang ibu.
Pemerintah Desa Sirnagalih sejatinya tidak tinggal diam. Mereka telah berupaya mengajukan bantuan program rumah tidak layak huni bagi Ibu Aminah. Namun, hingga hari ini, bantuan itu belum juga turun. Di sinilah tampak jelas jarak antara kebijakan di atas kertas dan kebutuhan nyata di lapangan. Sekretaris Desa Sirnagalih, Rahmat Taufik, menegaskan bahwa kebutuhan Ibu Aminah bukan lagi sebatas wacana.
“Harapan besar kini tertuju pada pemerintah agar segera menindaklanjuti bantuan yang telah diusulkan. Kami ingin Ibu Aminah bisa kembali tinggal di hunian yang aman, layak, dan manusiawi,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi semacam seruan moral agar semua pihak yang berwenang tidak menutup mata.
Kisah Ibu Aminah tidak boleh dianggap kasus tunggal. Di balik angka-angka statistik pembangunan dan laporan keberhasilan program pemerintah, masih banyak warga yang hidup di rumah-rumah nyaris roboh, menunggu giliran tertimpa atapnya sendiri.
Kondisi rumah tidak layak huni di Kabupaten Cianjur, khususnya di wilayah selatan seperti Sindangbarang, masih menjadi pekerjaan rumah besar, baik bagi pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi. Ketika sebuah rumah ambruk dan bantuan tak kunjung datang, sesungguhnya yang runtuh bukan hanya dinding, tetapi juga rasa aman dan martabat warga yang terdampak.
Di titik inilah, empati harus berubah menjadi aksi nyata. Pemerintah Kabupaten Cianjur, dinas terkait, serta para pemangku kebijakan di tingkat provinsi, memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan warganya tidak hidup tanpa atap yang layak.
Begitu pun para dermawan, komunitas, dan lembaga sosial, dapat menjadikan kasus Ibu Aminah sebagai momentum untuk bergerak bersama. Membangun kembali rumah Ibu Aminah bukan hanya soal mendirikan tembok dan memasang atap, tetapi memulihkan harapan bahwa negara dan masyarakat hadir ketika warga paling lemah berada dalam situasi tersulit.
Di tengah derasnya pembangunan infrastruktur, jalan, dan fasilitas publik, kisah seperti yang dialami Ibu Aminah menjadi pengingat bahwa esensi pembangunan adalah menyentuh kehidupan manusia secara langsung. Rumah layak huni meski sederhana, adalah pondasi bagi tumbuhnya generasi yang sehat, percaya diri, dan bermartabat.
Saat ini, di Bojong Kalapa, seorang ibu masih menatap reruntuhan rumahnya dengan mata sendu, sambil menggantungkan harapan pada hati nurani banyak orang. Pertanyaannya, seberapa cepat pemerintah dan para donatur akan menjawab panggilan sunyi dari rumah yang telah roboh itu? (tim dens).











