- DPPKBP3A Cianjur Dukung Gerakan Wakaf Buku untuk Perkuat Budaya Baca
- Harhubnas ke-55, Memperkuat Konektivitas Transportasi di Cianjur
- DPPKBP3A Cianjur Raih Penghargaan Kampung KB dan Rumah Data Kependudukan
- Jejak Hilman Saukani Membawa BAZNAS Cianjur Lebih Transparan dan Dipercaya
- Menabur Kepedulian, Menuai Kesiapsiagaan: Ribuan Pelajar Cianjur Ikuti Pelatihan dan Pelantikan PMR
- DPPKBP3A Cianjur Kukuhkan SD Ibu Jenab 2 sebagai Sekolah Ramah Anak
- Syukuran dan Komitmen Disbudpar Cianjur Menumbuhkan Kampung Budaya Padi Pandanwangi
- SIROJA, Ikhtiar Camat Mande Memperkuat Ketakwaan dan Kebersamaan
- DLH Cianjur Ajak Warga Bersihkan Sampah untuk Lingkungan yang Nyaman dan Sehat
- DPRD Cianjur Sepakati Perubahan APBD 2026: Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Rakyat
Soerjopranoto: Pangeran yang Menolak Takhta Demi Rakyat Jelata

Keterangan Gambar : Pangeran Soerjopranoto.
Pinusnews.id - Di tengah kemewahan istana Pakualaman, lahirlah seorang pangeran yang memilih jalan tak biasa. Soerjopranoto, putra tertua Pangeran Haryo Soerjaningrat sekaligus kakak kandung dari Ki Hajar Dewantara, bukanlah bangsawan yang terlena dalam gemerlap kekuasaan dan harta. Alih-alih menikmati kemewahan, ia memilih hidup bersama rakyat miskin, jauh dari hiruk pikuk istana.
Takhta yang seharusnya menjadi miliknya terlepas karena sang ayah mengalami kebutaan. Namun, kehilangan itu justru membuka mata batinnya. Sejak kecil, Soerjopranoto bergaul dengan anak-anak kampung miskin. Dari situ, tumbuh rasa empati yang mendalam. Ia melihat bagaimana ketimpangan dan kemiskinan menghimpit rakyat, sementara para bangsawan hidup serba berkecukupan.
"Kekayaan kami tidak berarti jika rakyat sengsara," ujarnya.
Baca Lainnya :
- Tingkatkan Nilai Profesional, PWI Cianjur Gelar UKW 2020,Â
- Kerugian Rp10 Juta, Warung di Sidangbarang Cianjur Diamuk Api
- Laka Tunggal, Mobil Pick Up Terjun Bebas ke Jurang di Naringgul
- Gegerkan Warga, Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Ditemukan di Sungai Cikondang Cibeber Cianjur
- BPBD Cianjur : Tebing Pasir atau Hutan Rawan Longsor di Cianjur, Sudah Terakomodir 2021
Kesadarannya memuncak ketika ia menyaksikan kuli tebu hanya digaji 12 sen per hari, sementara mandornya yang hanya duduk ongkang-ongkang kaki menerima 500 gulden. Ia menangis. Lalu bersumpah tak akan bekerja untuk pemerintahan kolonial Belanda. Sebagai bentuk penolakan, ia merobek ijazah sekolah Belanda yang diperolehnya dengan susah payah.
Soerjopranoto keluar dari istana, meninggalkan kenyamanan dan jabatan prestisius demi membela rakyat. Ia menjadi guru di sekolah Taman Siswa milik Ki Hajar Dewantara, dan terjun dalam pergerakan nasional. Ia aktif di Boedi Oetomo dan Sarekat Islam, serta dikenal luas lewat perjuangannya memimpin pemogokan buruh besar-besaran di masa kolonial.
Aksinya yang mengguncang itu membuat pemerintah Belanda murka. Namun rakyat menyambutnya dengan gelar: "Raja Mogok."
Setelah Indonesia merdeka, Soerjopranoto tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia tidak kembali ke kehidupan bangsawan, tetap tinggal bersama rakyat, dan setia pada idealismenya sampai akhir hayat. (Om Phol-dens).











