- DPRD Cianjur Pimpin Refleksi dan Akselerasi Pembangunan pada Hari Jadi ke-349
- Bupati Cianjur Sambut Korban TPPO, Ingatkan Warga Urus TKI Secara Legal
- Cianjur Masih di Bawah: Tantangan IPM dan Upaya Perbaikan Bersama
- Peringati Milangkala Ke-349 Kabupaten Cianjur, KDM akan Tingkatkan Kualitas Pendidikan
- Imbauan Satpolairud Cianjur: Nelayan Diminta Utamakan Keselamatan saat Gelombang Tinggi
- Memperkuat Kebersamaan dan Kesejahteraan: BAZNAS Cianjur Berperan Aktif di Hari Jadi ke-349
- Rahayat Raksa Raharja: Semangat Gotong Royong Warnai Hari Jadi Cianjur ke-349
- Hadiah Hari Jadi Cianjur ke-349: Jalan Baru Cikadu dari Pemerintah Provinsi Jadi Wujud Perhatian KDM
- PUTR Cianjur: Bersama Membangun Cianjur Era Baru di Milangkala ke-349
- BAZNAS Cianjur Tetap Hadir untuk Umat: Fokus Layanan Kesehatan dan Bantuan Perjalanan Saat Masa Tran
Soerjopranoto: Pangeran yang Menolak Takhta Demi Rakyat Jelata

Keterangan Gambar : Pangeran Soerjopranoto.
Pinusnews.id - Di tengah kemewahan istana Pakualaman, lahirlah seorang pangeran yang memilih jalan tak biasa. Soerjopranoto, putra tertua Pangeran Haryo Soerjaningrat sekaligus kakak kandung dari Ki Hajar Dewantara, bukanlah bangsawan yang terlena dalam gemerlap kekuasaan dan harta. Alih-alih menikmati kemewahan, ia memilih hidup bersama rakyat miskin, jauh dari hiruk pikuk istana.
Takhta yang seharusnya menjadi miliknya terlepas karena sang ayah mengalami kebutaan. Namun, kehilangan itu justru membuka mata batinnya. Sejak kecil, Soerjopranoto bergaul dengan anak-anak kampung miskin. Dari situ, tumbuh rasa empati yang mendalam. Ia melihat bagaimana ketimpangan dan kemiskinan menghimpit rakyat, sementara para bangsawan hidup serba berkecukupan.
"Kekayaan kami tidak berarti jika rakyat sengsara," ujarnya.
Baca Lainnya :
- Tingkatkan Nilai Profesional, PWI Cianjur Gelar UKW 2020,Â
- Kerugian Rp10 Juta, Warung di Sidangbarang Cianjur Diamuk Api
- Laka Tunggal, Mobil Pick Up Terjun Bebas ke Jurang di Naringgul
- Gegerkan Warga, Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Ditemukan di Sungai Cikondang Cibeber Cianjur
- BPBD Cianjur : Tebing Pasir atau Hutan Rawan Longsor di Cianjur, Sudah Terakomodir 2021
Kesadarannya memuncak ketika ia menyaksikan kuli tebu hanya digaji 12 sen per hari, sementara mandornya yang hanya duduk ongkang-ongkang kaki menerima 500 gulden. Ia menangis. Lalu bersumpah tak akan bekerja untuk pemerintahan kolonial Belanda. Sebagai bentuk penolakan, ia merobek ijazah sekolah Belanda yang diperolehnya dengan susah payah.
Soerjopranoto keluar dari istana, meninggalkan kenyamanan dan jabatan prestisius demi membela rakyat. Ia menjadi guru di sekolah Taman Siswa milik Ki Hajar Dewantara, dan terjun dalam pergerakan nasional. Ia aktif di Boedi Oetomo dan Sarekat Islam, serta dikenal luas lewat perjuangannya memimpin pemogokan buruh besar-besaran di masa kolonial.
Aksinya yang mengguncang itu membuat pemerintah Belanda murka. Namun rakyat menyambutnya dengan gelar: "Raja Mogok."
Setelah Indonesia merdeka, Soerjopranoto tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia tidak kembali ke kehidupan bangsawan, tetap tinggal bersama rakyat, dan setia pada idealismenya sampai akhir hayat. (Om Phol-dens).











