- Bupati Wahyu Resmikan Peluncuran AMDK Perumdam Tirta Mukti Cianjur
- Bidang SMP Disdikpora Cianjur, Sukses Penerimaan Siswa Baru Sekolah Nasional Terintegrasi
- SEATRC 2026 di Cianjur: Lari Lintas Alam Bawa Atlet Asia Tenggara Dorong Pariwisata Lokal
- Epa Fatihah Dinobatkan Sebagai Menteri Kehebohan Wisata Keluarga Bani Asyari
- Perhutani KPH Cianjur Perkuat Sinergi dengan Kejari untuk Pengelolaan Hutan yang Akuntabel dan Berke
- BPBD Cianjur Percepat Distribusi Air Bersih: Respons Hadapi Kekeringan Musim Kemarau
- Bupati Cianjur: Art Space The Unreal Playroom, Kreativitas dan Ekonomi Kreatif Lokal
- Bagian Umum dan Keuangan Sekda Cianjur Gelar Rekonsiliasi Semester 2026
- Ramaikan Hari Anak Nasional, Dinas Pangan Cianjur Hadirkan Pangan Murah untuk Warga
- Kasus Pencemaran Nama Baik PWI Cianjur Terus Bergulir, Perkuat Dugaan Pihak Terlapor
Sejarah Singkat Hari Pendidikan Nasional

Keterangan Gambar : Ilustrasi: Dede Mirna S/Pikiran Cianjur
pikirancianjur.com- Cianjur, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei, dimana bertepatan dengan kelahiran sosok pejuang bangsa yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliau lahir di Yogyakarta pada tahun 1889.
Ketika masa penjajahan kolonial Belanda di Indonesia, Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai sosok yang tangguh dan pantang menyerah dalam memperjuangkan nasib rakyat pribumi demi memperoleh pendidikan yang layak.
Kala itu di Indonesia hanya mereka yang keturunan Belanda yang bisa memperoleh pendidikan, sedangkan rakyat pribumi tidak di bisa memperoleh pendidikan dan sengaja dibiarkan buta huruf. Kemudian karena hal itu beliau kerap menuliskan kritik-kritiknya melalui media massa.
Baca Lainnya :
- Buruh dan Permasalahannya
- Tim GTRA Cianjur Sampaikan Progres Reforma Agraria Lahan Eks Perkebunan Tjigebang Dan MPM
- Karang Taruna Tunas Mekar dan Pemdes Tanjungsari berbagi Takjil Buka Puasa
- Nah Ini Dia, Polres Cianjur Lidik Peristiwa Tewasnya 4 Pekerja Tambang di Gekbrong
- Peresmian Unit Usaha Alami Kaoem Guest House
Salah satu tulisan beliau yang terkenal adalah ‘Als Iks Eens Nederland Was’, yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah ‘Seandainya Saya Seorang Belanda’. Tulisan tersebut membuat pemerintah Belanda saat itu sangat tersinggung, lalu Ki Hajar Dewantara ditangkap dan dibuang ke Pulau Bangka oleh Belanda.
Namun kemudian Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesumo memprotes hal tersebut dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda pada tahun 1913. Ketiga tokoh ini dikenal dengan nama Tiga Serangkai.
Sepulangnya dari Belanda, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta.Taman Siswa tersebut merupakan lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan kepada orang-orang pribumi pada waktu itu agar dapat memperoleh hak pendidikan layaknya orang-orang Belanda.
Masyarakat yang semula kesulitan mengakses pendidikan kini bisa merasakan juga luasnya lautan ilmu sebagaimana yang didapatkan kelompok bangsawan.
Selain itu, Ki Hajar Dewantara mengajarkan konsep pendidikan yang diajarkan di sekolah Taman Siswa, yang sekarang menjadi konsep pendidikan nasional Indonesia.
Lalu muncul semboyan Ki Hajar Dewantara soal pendidikan yang tertulis dalam bahasa Jawa. Semboyan tersebut berbunyi, ‘Ing ngarso sung tuladha, ing madya membangun, tut wuri handayani’. Artinya, ‘di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan’.
Semboyan ciptaan Ki Hajar tersebut yang sampai kini menjadi slogan Kementrian Pendidikan Indonesia.
Ki Hajar Dewantara wafat pada usia 70 tahun pada 26 April 1959. Beliau kemudian dianugerahi gelar Bapak Pendidikan Nasional pada tanggal 28 November 1959 atas jasa-jasanya dalam perkembangan dunia pendidikan di Indonesia, dan hari kelahiran beliau ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional, yaitu pada tanggal 2 Mei.











