- DPRD Cianjur Pimpin Refleksi dan Akselerasi Pembangunan pada Hari Jadi ke-349
- Bupati Cianjur Sambut Korban TPPO, Ingatkan Warga Urus TKI Secara Legal
- Cianjur Masih di Bawah: Tantangan IPM dan Upaya Perbaikan Bersama
- Peringati Milangkala Ke-349 Kabupaten Cianjur, KDM akan Tingkatkan Kualitas Pendidikan
- Imbauan Satpolairud Cianjur: Nelayan Diminta Utamakan Keselamatan saat Gelombang Tinggi
- Memperkuat Kebersamaan dan Kesejahteraan: BAZNAS Cianjur Berperan Aktif di Hari Jadi ke-349
- Rahayat Raksa Raharja: Semangat Gotong Royong Warnai Hari Jadi Cianjur ke-349
- Hadiah Hari Jadi Cianjur ke-349: Jalan Baru Cikadu dari Pemerintah Provinsi Jadi Wujud Perhatian KDM
- PUTR Cianjur: Bersama Membangun Cianjur Era Baru di Milangkala ke-349
- BAZNAS Cianjur Tetap Hadir untuk Umat: Fokus Layanan Kesehatan dan Bantuan Perjalanan Saat Masa Tran
Oposisi dalam Demokrasi: Hak, Tanggung Jawab, dan Objektivitas

Keterangan Gambar : Torik Imanurdin, Anggota ICMI ORDA Kabupaten Cianjur.
Oleh: Torik Imanurdin,S.Pd.,M.Pd.
Anggota ICMI Orda Kab. Cianjur
Pinusnews.id - Dalam sistem demokrasi, keberadaan oposisi adalah hal yang wajar dan bahkan menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan pemerintahan. Oposisi bukan hanya tentang menentang kebijakan pemerintah, tetapi juga berperan sebagai pengawas dan pemberi solusi alternatif bagi kebijakan yang dianggap kurang tepat.
Baca Lainnya :
- Tempat Limbah Mebel di Sukaluyu Musnah Terbakar
- UMK 2021 di Cianjur tak Naik, Ini Penyebabnya
- Heboh, Ada Mayat Lelaki Tanpa Identitas Tergeletak di Sungai Cigombong
- Buruh Cianjur Kecewa, Hasil Audensi tak Menemukan Titik Temu
- UMK 2021 Tak Naik, Ribuan Buruh di Cianjur Unjuk Rasa
Konstitusi memberikan perlindungan hukum bagi oposisi, sehingga mereka memiliki hak yang sama dengan pendukung pemerintah dalam menyuarakan pendapat.
Namun, dalam menyampaikan kritik, oposisi harus tetap objektif dan konstruktif. Kritik yang hanya berorientasi pada penolakan tanpa dasar atau sekadar mengulang rivalitas politik dari pilkada sebelumnya justru dapat menciptakan masalah baru dan menghambat kemajuan.
Sebaliknya, kritik yang berbasis data, logis, dan menawarkan solusi akan lebih efektif dalam mendorong perubahan yang positif.
Selain itu, dalam era digital, kebebasan berekspresi harus diimbangi dengan tanggung jawab. Jika seseorang memilih untuk menjadi oposisi dan menyampaikan kritik di media sosial, idealnya dilakukan dengan akun asli dan identitas yang jelas.
Transparansi ini penting untuk menghindari penyebaran hoaks dan fitnah yang justru merusak kepercayaan publik. Oposisi yang bertanggung jawab bukan hanya memberikan kontrol terhadap kebijakan pemerintah, tetapi juga menjaga etika dalam berpendapat di ruang publik.
Oleh karena itu, setelah kontestasi politik selesai, sebaiknya semua pihak move on dari sekadar mendukung atau menentang berdasarkan afiliasi politik semata. Demokrasi yang sehat memerlukan oposisi yang kuat, tetapi juga rasional dan berorientasi pada kepentingan rakyat, bukan sekadar dendam politik.
Dengan begitu, kritik yang disampaikan akan lebih bermakna dan mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang ada.











