- Mengenali Sawah Tadah Hujan Agrabinta: DTPHP Cianjur Hadapi Halodo dengan Langkah Tepat
- Diskominfo Cianjur Perkuat Sinergi Komunikasi Publik melalui FGD di Bogor
- Santri Cianjur Tunjukkan Kepedulian: Dari Pesantren untuk Kemanusiaan
- Cianjur Kota Santri yang Kharismatik
- Wajah Baru SD Negeri Tugu Sari: Semangat Baru untuk Pendidikan Cianjur
- Sinergi untuk Cianjur Tangguh: BAZNAS Cianjur Beri 100 Paket Sembako untuk BALAKAR
- Jabatan Bukan Hak Istimewa: Cianjur Perkuat Integritas ASN Bersama KPK
- Pemkab Cianjur Perkuat Komitmen Anti-Korupsi Melalui Kode Etik dan TPP
- Kejari Cianjur Perkuat Integritas Pengelola Madrasah melalui Pencerahan Hukum
- DTPHP Cianjur Perkuat Kesiapan Koperasi Merah Putih Lewat Sinergi Pertanian
Mengenali Sawah Tadah Hujan Agrabinta: DTPHP Cianjur Hadapi Halodo dengan Langkah Tepat

Keterangan Gambar : Kepala DTPHP Kabupaten Cianjur, Wahyu Ginanjar (bertopi) terjun langsung ke lapangan di Agrabinta, Cianjur Selatan.
Pinusnews.id - Ketika musim halodo melanda, petani di Agrabinta, Cianjur Selatan, menghadapi ujian yang tidak sederhana. Sawah tadah hujan di wilayah itu sangat bergantung pada curah hujan, sehingga berkurangnya hujan dapat berdampak langsung pada ketersediaan air untuk tanaman.
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur terus berupaya memastikan lahan persawahan tetap mendapat perhatian, mulai dari pemahaman kondisi lahan hingga langkah antisipasi yang sesuai kebutuhan petani.
Banyak orang kerap menyamakan halodo dengan kekeringan, padahal keduanya berbeda. Halodo adalah istilah bahasa Sunda untuk musim atau kondisi kering saat curah hujan menurun, sedangkan kekeringan terjadi ketika ketersediaan air tidak lagi mencukupi kebutuhan, termasuk untuk pertanian.
Baca Lainnya :
- Razia Knalpot Bising, Pengendara Motor Adu Mulut dengan Polisi
- Bupati Cianjur Orang Pertama Disuntik Vaksin Covid-19Â
- Posbakum Pengadilan Negeri Cianjur, Banyak Tangani Kasus PidanaÂ
- Waspadai, 7 Kecamatan di Cianjur Tren Covid-19 MeningkatÂ
- Penyusunan RKPD TAHUN 2022 Cianjur, Butuh Masukan dari Publik
Dengan kata lain, halodo bisa menjadi kondisi awal, tetapi kekeringan baru muncul apabila dampaknya sudah terasa pada tanah, sumber air, dan tanaman.
Kepala DTPHP Kabupaten Cianjur, Wahyu Ginanjar, menegaskan bahwa kondisi sawah tadah hujan di Agrabinta perlu dipahami secara menyeluruh.
“Karena itu, kondisi lahan saat musim halodo perlu dipahami berdasarkan ketersediaan air, kondisi tanah, dan fase pertumbuhan tanaman,” ujarnya di Cianjur, belum lama ini.
Penjelasan ini menjadi penting karena penilaian yang tepat akan menentukan langkah pertanian yang paling sesuai, bukan sekadar menganggap seluruh lahan kering sebagai kekeringan.
DTPHP Kabupaten Cianjur menempatkan pemahaman ini sebagai dasar pengambilan keputusan di lapangan. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya dinas dalam memetakan lahan, mengenali karakteristik sawah tadah hujan, serta menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan air dengan kondisi cuaca.
Kabupaten Cianjur sendiri memiliki sekitar 21.607 hektare sawah tadah hujan, sehingga penanganan wilayah seperti Agrabinta memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan daerah.
“Kenali kondisi lahannya, pahami sumber airnya, dan tentukan langkah pertanian yang tepat,” jelas Wahyu Ginanjar. Pesan sederhana itu menegaskan bahwa kinerja Dinas Pertanian Cianjur tidak hanya berhenti pada penyediaan air, tetapi juga pada pendampingan, edukasi, dan antisipasi dini.
Untuk itu, dengan memahami perbedaan halodo dan kekeringan, petani di Agrabinta diharapkan dapat mengambil langkah yang lebih tepat, sementara dinas terus memastikan dukungan pertanian hadir tepat pada kebutuhan di lapangan. (dens).










