- Aplikasi Nyari Gawe Semakin Diandalkan, Total Pelamar Kerja Capai Setengah Juta Orang
- Presiden Prabowo Sampaikan Pengarahan pada Ketua DPRD Seluruh Indonesia
- Dinas TPHP Cianjur Hadirkan Sekolah Lapang Alsintan dan Traktor untuk Produktivitas Para Petani
- BMKG Prediksi Sebagian Besar Wilayah Jabar Alami Musim Kemarau Lebih Kering
- Disiplin Sekolah Cianjur: Visi Tegas Ipan Sopandi dalam Larangan Motor dan HP Siswa
- Sinergi Kampus dan Desa: KKN UIN Bandung Wujudkan Pembangunan Partisipatif di Cianjur
- Metty Triantika: Gentengisasi Peluang Emas Ekonomi Lokal di Tengah Peningkatan Kualitas Hidup
- Bulog Cianjur Capai 78% Target Penyerapan Gabah: Komitmen Kuat untuk Kesejahteraan Petani
- Gubernur bersama Menteri PKP Resmikan Program Bedah Rumah, Total 40.000 Unit di Jabar
- Proyek Geothermal Gunung Gede Pangrango: Ancaman Lingkungan vs Ketahanan Energi Nasional
Memprihatinkan, Murid SDN Sukawangi 2 Warungkondang Cianjur Belajar Di Lantai

Keterangan Gambar : Tampak sejumlah murid SDN Sukawangi 2 Warungkondang Cianjur, belajar di lantai.
Pinusnews.id - Sungguh ini sebuah pemandangan yang sangat memprihatinkan terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sukawangi 2, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur.
Selama dua tahun terakhir, ratusan siswa di sekolah ini terpaksa belajar di lantai. Penyebabnya, tak lain karena meja dan kursi belajar tak kunjung tiba setelah sekolah mereka luluh lantak diterjang gempa bumi hebat.
Kepala SDN Sukawangi 2, Andy Irawan, mengungkapkan bahwa kerusakan bangunan sekolah dan seluruh fasilitas terjadi sejak gempa bumi besar mengguncang Kabupaten Cianjur beberapa tahun lalu.
Baca Lainnya :
- Petugas Perekaman Disdukcapil Cianjur Terjun ke Kecamatan dan Desa
- Penipu Berkedok Paket Kurban Dijebloskan ke Penjara
- Warga Karangnunggal Cibeber Keluhkan Pemotongan Bantuan Rutilahu, Lalu Ini Jelas Kades
- Tebing Hutan Ciuja Naringgul Diterjang Longsor, Jalan Bandung-Cianjur Terganggu
- Tukang Kebun Meninggal Tersengat Listrik
"Bangunan sekolah yang rusak porak poranda memang telah dibangun kembali pemerintah, namun fasilitas sekolah yang juga hancur seperti meja, kursi, dan lemari belum mendapat penggantian secara menyeluruh," terang Andy, Kamis (22/5/2025) kemarin.
Meski ruang kelas sudah dibangun kembali oleh pemerintah, fasilitas penting seperti meja dan kursi belum diganti seluruhnya hingga kini. Akibatnya, siswa kelas empat hingga kelas enam harus rela menimba ilmu di lantai.
Andy menambahkan, pihak sekolah telah berulang kali mengajukan permohonan bantuan mebeler kepada Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur dan pemerintah pusat. Namun, hampir tiga tahun berlalu, belum ada realisasi dan tanggapan.
"Kondisi ini tentu sangat berat dirasakan para siswa. Karena tidak hanya mengganggu kenyamanan belajar, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan siswa akibat posisi duduk yang tidak ergonomis," jelas Andi.
Para siswa pun tak bisa menyembunyikan keluh kesah mereka. Muhammad Dhafa, siswa kelas enam, mengaku awalnya belajar di lantai terasa seru. Namun lama kelamaan, ia merasa tidak nyaman, sering pegal, dan kedinginan.
"Ya mau bagaimana lagi, dinyamanin aja, kalau pegel dan dingin sudah tidak dirasakan lagi. Belajarkan harus tetap dilaksanakan, apalagi mau ujian. Saya berharap nanti belajar bisa ada meja dan kursi lagi," keluh Dhafa.
Senada, siswa lainnya, Arvih, mengakui bahwa belajar di lantai membuatnya tidak nyaman, terlebih saat musim hujan. “Kalau pegel dan dingin mah sudah tidak dirasakan lagi, apalagi kalau musim hujan, tambah tersiksa karena lantai semakin dingin," tuturnya.
Meskipun para siswa mulai terbiasa, kondisi ini jauh dari kata ideal untuk menunjang kegiatan belajar mereka. Pihak sekolah sangat berharap pemerintah segera memberikan perhatian dan bantuan untuk memperbaiki fasilitas belajar yang sangat dibutuhkan. (tim-dens).











