- Bupati Cianjur Didampingi Ruhli Apel Kebangsaan di SMAN 1 Sindangbarang
- Presiden Prabowo Terima Laporan Capaian Program Magang Nasional dan Pelatihan Vokasi
- Bupati Cianjur Minta Maaf Atas Gangguan Distribusi Air Bersih Akibat Banjir di Ciranjang
- Pendidikan Vokasi di Jabar Direvitalisasi Agar Sesuai Kebutuhan Industri
- Dr. Euis Latifah, M.Pd. Raih Penghargaan sebagai Dosen Inovatif dalam ToT Perma Pendis 2026
- Rektor IAI Al-Azhary Raih Perma Pendis Award 2026 sebagai Rektor Visioner di Tengah Kegiatan ToT
- BAZNAS Cianjur Apresiasi UPZ IGTKI-PGRI Sukses Tingkatkan ZIS
- Koperasi Merah Putih: Jembatan Kemandirian Ekonomi Cianjur Menuju Kesejahteraan Nyata
- Bupati Wahyu dalam Rembug Warga Cianjur: Langkah Nyata Menuju Kesejahteraan Inklusif
- Cari Solusi Agar Gaji Guru Honorer Dibayar, KDM Segera Temui Menteri PAN-RB
Kampus Islam Ruang Toleransi, Benarkah Perbedaan Mazhab Bukan Masalah Lagi?
Reporter: Auliya Umayna Andani

Keterangan Gambar : Taman rektorat UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sumber: suakaonline.com
Melansir
dari lipi.go.id mengenai dinamika toleransi beragama, khususnya muslim di Indonesia.
Permasalahnnya adalah kecenderungan budaya keagamaan masyarakat muslim, setidaknya
berdasarkan fenomena yang tampak di beberapa daerah di Indonesia, menunjukkan
gejala meningkatnya pemahaman keagamaan dan praktik yang cenderung melihat
agama secara eksoteris.
Jika dikerucutkan
kedalam sebuah perguruan tinggi khususnya UIN Bandung, yang seluruh
mahasiswanya beragam islam. Apakah dengan samanya agama yang dimiliki oleh
seluruh mahasiswa tersebut dapat mengakibatkan pemahaman keagamaan yang
eksoteris? Dengan persamaan agama yang dimiliki munculah siklus baru, bukan
lagi agama mayoritas tapi organisasi islam atau mazhab mayoritas.
Sekretaris Jurusan Studi
Agama Agama, Ilim Abdul Halim mengatakan bahwa rata rata baik dari
mahasiswa maupun dosen tergabung kedalam organisasi islam Nahdatul Ulama (NU),
Muhammadiyah, dan Persatuan Islam (Persis).
“rata rata di uin itu
NU, Muhammadiyah, dan Persis untuk yang lain seperti Syiah dan Ahmadiyah memang
ada tapi mungkin jarang terdengar” Ujarnya.
Baca Lainnya :
- Menhan RI Prabowo Subianto Panen Raya Jagung Lahan Cadangan Logistik Strategis
- Presiden RI ke Wilayah Paling Parah Terdampak Gempa Bumi di Cianjur
- Ibang Sekpri Bupati Cianjur : Saya Sampai 3 Hari Tak Mandi Karena Berada di Lapangan
- Akibat Gempa Bumi di Cianjur, 151 Orang Belum Ditemukan
- Panglima TNI, Ketua Dharma Pertiwi dan Rombongan Tinjau Pengungsi Berikan Sembako di Cianjur
Sebagai lembaga akademik
seharusnya beragam organisasi islam yang ada di UIN Bandung tidaklah menjadi sebuah
masalah. Salah satu dosen fakultas Dakwah dan Komunikasi (Dakom) yang juga
sebagai penulis dari pedoman praktik ibadah Fakultas Dakom, Abdul Mujib mengatakan
bahwa tidak ada yang harus dipermasalahkan karna perbedaan tersebut dipandang
secara pendekatan ilmu.
“Tidak ada permasalahan
karna wilayah kajiannya dipandang secara
akademik dituntut berpikir moderat karna
sudah diajarkan metodelogi islam, tidak ada masalah karna wilayah akademik ini
bukan wilayah dogma” Hasil wawancara dengan Abdul Mujib Senin (07/11/ 2022)
Dugaan
Pemaksaan pada Praktik Ibadah
Namun belum lama ini, dalam
kegiatan praktik ibadah seorang mahasiswa UIN Bandung yang berinisial B
mengatakan bahwa dirinya diduga pernah mengalami pemaksaan untuk menghafalkan
bacaan sholat organisasi islam yang tidak diikutinya. Ia mengatakan, dosen pembimbingnya memaksa dengan mengancam
akan memberikan pengurangan terhadap nilainya.
Dilansir
dari uinsgd.ac.id
program praktik ibadah bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran mahasiswa terhadap keakhiratan. Praktik ibadah, merupakan salah satu program yang rutin
dilaksanakan dan dikhususkan bagi para mahasiswa semester satu. Pada
pelaksanaanya praktik ibadah ini diserahkan ke fakultas masing masing.
Menanggapi dugaan pemaksaan tersebut, Ilim Abdul Halim mengatakan
bahwa itu sama sekali tidak dibenarkan.
Ia mengatakan kalaulah hal tersebut dimanfaatkan sebagai pengkayaan
pembendaharaan dari para mahasiswa akan menjadi hal yang sangat bagus. Karna, bisa
bermanfaat bagi para mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan yang luas.
Ia juga menambahkan bahwa praktik ibadah ini diadakan untuk
memastikan bahwa mahasiswa UIN Bandung bisa melaksanakan sholat dan rukun lain
dengan baik. “Praktik ibadah ini
dilaksanakan dengan tujuan jangan sampe anak uin gabisa ibadah lah gitu ya,
kalau saya pribadi mengikuti dan menanyakan ke mahasiswa kebiasaan anda apa?
Nah kamu harus tau bacaan ajaran yang lainnya karna kamu udah di UIN”
ujarnya.
Ketua Jurusan Akidah Filsafat Islam yang
sekaligus menjadi aktivis dalam isu keberagaman, Neng Hannah mengatakan bahwa
seharusnya terdapat pemahaman dari para dosen bahwa setiap umat bebas memilih
cara beribadahnya masing-masing. Namun, dengan
adanya hal tersebut ia berharap bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi mahasiswa
untuk menambah pengetahuan dan dijadikan sebuah pembelajaran.
Ia juga mengatakan bahwa selama ini, dalam hal
ritual tidak menjadi masalah dengan adanya perbedaan. Bahkan, kita terkadang
tidak mengetahui apa organisasi islam yang diikuti oleh para mahasiswa. Hal
tersebut bisa terlihat saat melaksanakan diskusi ataupun debat itu pun hanya
perkiraan saja “kalau amaliyah itu kan sholat ga
terlalu jadi konflik udah selesai, jadi harusnya ga jadi masalah ya. Seperti
Ahmadiah juga sholatnya sama kok, yang membedakan hanya pemahaman agamanya saja. Paling tampak
pada saat diskusi” ujarnya.
Neng Hannah menambahkan bahwa menjadi sebuah hal
yang cukup berlebihan bila seseorang tidak mau atau menutup mata atas
pembelajaran organisasi islam lain. Karna, pada praktiknya
dipersilahkan untuk memakai ajarannya masing-masing dalam kegiatan
ibadah sehari hari. Maka dari itu, komunikasi harus
terjalin antara dosen dan mahasiswa.
Begitu pun dengan seseorang yang memaksakan
orang lain untuk mengikuti apa yang dipelajarinya. Neng Hannah mengatakan, bahwa dosen
seharusnya menyampaikan ajaran hanya untuk sebuah pembelajaran saja, maka hal tersebut tidak akan
menimbulkan hal-hal yang tidak
diinginkan.
Ilim Abdul Halim mengatakan, bahwa terdapat
bimbingan terlebih dahulu bagi para dosen sebelum membimbing praktik ibadah.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Abdul Mujib, bahwa dalam bimbingan
dosen juga diadakan evaluasi dari
praktik ibadah sebelumnya dan perkembangan dari praktik ibadah.
Sebagai dosen pembimbing praktik ibadah, Ilim Abdul mengatakan
bahwa organisasi islam yang diikuti oleh para mahasiswa merupakan hak yang
harus dipahami juga
oleh para dosen yang
ada di UIN Bandung. Begitu pun bagi para mahasiwa
agar bisa terbuka kepada dosen dan mampu mengkomunikasikan mengenai apa yang
dipercayai agar hal seperti pemaksaan tidak terjadi.
Abdul Mujib mengatakan, bahwa dengan terjalinnya
komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswa praktik ibadah ini merupakan
hal yang sangat bermanfaat. Karna, program praktik ibadah ini masih
sangat diperlukan untuk para mahasiswa. “Sampai hari ini kan Praktik
ibadah ini dianggap masih perlu, banyak mahasiswa jika
tidak ada praktik seperti itu entah
bagaimana dalam menjalani ibadahnya” ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa dalam pedoman praktik
ibadah yang juga terdapat kontribusi darinya, sudah disesuaikan dengan semua
organisasi islam yang ada di UIN Bandung. Jadi, seharusnya perbedaan
pelaksanaan ibadah bukanlah sebuah masalah apalagi sampai terjadi pemaksaan
dari dosen terhadap mahasiswa.
Salah satu mahasiswa UIN Bandung yang juga fokus
dalam isu keberagaman, berinisial D mengatakan bahwa dosen dan mahasiswa harus
menjadi mitra, karna bisa jadi pemaksaan tersebut akibat ketidaktahuan dari
dosen maupun mahasiswa mengenai keberagaman organisasi islam yang ada di UIN
Bandung.
“Kalaupun dipaksakan satu mazhab saja berarti
dilihat dari sudut pandang mayoritas. Nah, yang harus dipertanyakan adalah
apakah UIN sebagai perguruan tinggi bisa
mengakomodir keberagaman yang ada? Padahal bisa
memanfaatkan jurusan-jurusan yang ada di
Ushuluddin dan ada juga jurusan Perbandingan Mazhab di Syariah” hasil wawancara dengan
D pada Selasa (25/10/2022).
Kampus Harus
Menjadi Ruang Aman
D juga merupakan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi massa
berhaluan Syiah yaitu
Ikatan Jamaah Ahlulbait
Indonesia (IJABI). Meski sudah tidak terlalu aktif dalam organisasi
tersebut, ia tidak membuka identitasnya secara gamblang. Ia juga menceritakan
bahwa beberapa temannya mendapat kesulitan dalam mengerjakan tugasnya yang
berkaitan dengan aliran seperti Syiah dan Ahmadiyah.
Peran UIN Bandung sebagai perguruan tinggi, sangatlah diperlukan
dalam meningkatkan toleransi di kampus. D mengatakan, tidak semua dosen
pengajar di UIN Bandung memahami mengenai keberagaman organisasi islam yang ada
di kampus. Terutama, bagi para dosen yang tidak memiliki background
pendidikan agama untuk membimbing praktik ibadah.
Maka dari itu, baik bagi mahasiswa maupun dosen
harus diberikan pemahaman lebih mengenai toleransi terhadap keberagaman yang
ada di UIN Bandung. D menegaskan bahwa jurusan keagamaan yang ada di Fakultas
Ushuluddin, bisa menjadi sebuah
solusi untuk dimanfaatkan dalam penambahan pemahaman keberagaman kepada para
dosen yang nantinya dapat diimplementasikan kepada para mahasiswa.
Rumah Moderasi Beragama yang dimiliki UIN
Bandung, juga bisa dimanfaatkan
sebagai tombak awal dalam penyebaran pemhaman mengenai keberagaman.
Rumah Moderasi ini juga bisa meningkatkan rasa toleransi bagi seluruh
civitas akademik di
UIN
bandung agar seluruh organisasi islam yang ada
didalamnya bisa berjalan beriringan tanpa adanya
perpecahan.
Dengan Visi UIN Bandung,
“Menjadi Universitas Islam Negeri yang Unggul dan Kompetitif Berbasis Wahyu
Memandu Ilmu dalam Bingkai Akhlak Karimah di Asia Tenggara Tahun 2025”, menurut
D pada poin “wahyu memandu ilmu” jika dikaitkan dengan perbedaan organisasi
islam di UIN Bandung secara keilmuan bukan lagi masalah.
Lebih lanjut D
menjelaskan, hal tersebut dikarenakan seluruh aliran yang ada di UIN Bandung
pastinya memiliki rujukan keilmuannya masing-masing yang pada akhirnya
bersumber dari wahyu yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Hal ini tentu saja kontradiktif
dengan apa yang terjadi dalam ranah praktis, dengan dipakainya satu aliran yang
dipakai dalam praktik ibadah. Pada akhirnya, maka patut dipertanyakan
pencapaian Visi yang digaungkan oleh UIN Bandung tersebut dalam menciptakan
iklim pembelajaran yang toleran.











