Kampus Islam Ruang Toleransi, Benarkah Perbedaan Mazhab Bukan Masalah Lagi?
Reporter: Auliya Umayna Andani

24 Nov 2022, 20:03:37 WIB Dunia Islam
Kampus Islam Ruang Toleransi, Benarkah Perbedaan Mazhab Bukan Masalah Lagi?

Keterangan Gambar : Taman rektorat UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sumber: suakaonline.com


Melansir dari lipi.go.id mengenai dinamika toleransi beragama, khususnya muslim di Indonesia. Permasalahnnya adalah kecenderungan budaya keagamaan masyarakat muslim, setidaknya berdasarkan fenomena yang tampak di beberapa daerah di Indonesia, menunjukkan gejala meningkatnya pemahaman keagamaan dan praktik yang cenderung melihat agama secara eksoteris.

Jika dikerucutkan kedalam sebuah perguruan tinggi khususnya UIN Bandung, yang seluruh mahasiswanya beragam islam. Apakah dengan samanya agama yang dimiliki oleh seluruh mahasiswa tersebut dapat mengakibatkan pemahaman keagamaan yang eksoteris? Dengan persamaan agama yang dimiliki munculah siklus baru, bukan lagi agama mayoritas tapi organisasi islam atau mazhab mayoritas.

Sekretaris Jurusan Studi Agama Agama, Ilim Abdul Halim mengatakan bahwa rata rata baik dari mahasiswa maupun dosen tergabung kedalam organisasi islam Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Persatuan Islam (Persis). “rata rata di uin itu NU, Muhammadiyah, dan Persis untuk yang lain seperti Syiah dan Ahmadiyah memang ada tapi mungkin jarang terdengar” Ujarnya.

Baca Lainnya :

Sebagai lembaga akademik seharusnya beragam organisasi islam yang ada di UIN Bandung tidaklah menjadi sebuah masalah. Salah satu dosen fakultas Dakwah dan Komunikasi (Dakom) yang juga sebagai penulis dari pedoman praktik ibadah Fakultas Dakom, Abdul Mujib mengatakan bahwa tidak ada yang harus dipermasalahkan karna perbedaan tersebut dipandang secara pendekatan ilmu.

Tidak ada permasalahan karna wilayah kajiannya dipandang secara akademik dituntut berpikir moderat karna sudah diajarkan metodelogi islam, tidak ada masalah karna wilayah akademik ini bukan wilayah dogma” Hasil wawancara dengan Abdul Mujib Senin (07/11/ 2022)

Dugaan Pemaksaan pada Praktik Ibadah

Namun belum lama ini, dalam kegiatan praktik ibadah seorang mahasiswa UIN Bandung yang berinisial B mengatakan bahwa dirinya diduga pernah mengalami pemaksaan untuk menghafalkan bacaan sholat organisasi islam yang tidak diikutinya. Ia mengatakan,  dosen pembimbingnya memaksa dengan mengancam akan memberikan pengurangan terhadap nilainya.   

Dilansir dari uinsgd.ac.id program praktik ibadah bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap keakhiratan. Praktik ibadah,  merupakan salah satu program yang rutin dilaksanakan dan dikhususkan bagi para mahasiswa semester satu. Pada pelaksanaanya praktik ibadah ini diserahkan ke fakultas masing masing.

Menanggapi dugaan pemaksaan tersebut, Ilim Abdul Halim mengatakan bahwa  itu sama sekali tidak dibenarkan. Ia mengatakan kalaulah hal tersebut dimanfaatkan sebagai pengkayaan pembendaharaan dari para mahasiswa akan menjadi hal yang sangat bagus. Karna, bisa bermanfaat bagi para mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan yang luas.

Ia juga menambahkan bahwa praktik ibadah ini diadakan untuk memastikan bahwa mahasiswa UIN Bandung bisa melaksanakan sholat dan rukun lain dengan baik. “Praktik ibadah ini dilaksanakan dengan tujuan jangan sampe anak uin gabisa ibadah lah gitu ya, kalau saya pribadi mengikuti dan menanyakan ke mahasiswa kebiasaan anda apa? Nah kamu harus tau bacaan ajaran yang lainnya karna kamu udah di UIN” ujarnya.

Ketua Jurusan Akidah Filsafat Islam yang sekaligus menjadi aktivis dalam isu keberagaman, Neng Hannah mengatakan bahwa seharusnya terdapat pemahaman dari para dosen bahwa setiap umat bebas memilih cara beribadahnya masing-masing. Namun, dengan adanya hal tersebut ia berharap bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi mahasiswa untuk menambah pengetahuan dan dijadikan sebuah pembelajaran.

Ia juga mengatakan bahwa selama ini, dalam hal ritual tidak menjadi masalah dengan adanya perbedaan. Bahkan, kita terkadang tidak mengetahui apa organisasi islam yang diikuti oleh para mahasiswa. Hal tersebut bisa terlihat saat melaksanakan diskusi ataupun debat itu pun hanya perkiraan saja “kalau amaliyah itu kan sholat ga terlalu jadi konflik udah selesai, jadi harusnya ga jadi masalah ya. Seperti Ahmadiah juga sholatnya sama kok, yang membedakan hanya pemahaman agamanya saja. Paling tampak pada saat diskusi” ujarnya.

Neng Hannah menambahkan bahwa menjadi sebuah hal yang cukup berlebihan bila seseorang tidak mau atau menutup mata atas pembelajaran organisasi islam lain. Karna, pada praktiknya dipersilahkan untuk memakai ajarannya masing-masing dalam kegiatan ibadah sehari hari. Maka dari itu, komunikasi harus terjalin antara dosen dan mahasiswa.

Begitu pun dengan seseorang yang memaksakan orang lain untuk mengikuti apa yang dipelajarinya. Neng Hannah mengatakan, bahwa dosen seharusnya menyampaikan ajaran hanya untuk sebuah pembelajaran saja,  maka hal tersebut tidak akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.    

Ilim Abdul Halim mengatakan, bahwa terdapat bimbingan terlebih dahulu bagi para dosen sebelum membimbing praktik ibadah. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Abdul Mujib, bahwa dalam bimbingan dosen  juga diadakan evaluasi dari praktik ibadah sebelumnya dan perkembangan dari praktik ibadah.

Sebagai dosen pembimbing praktik ibadah, Ilim Abdul mengatakan bahwa organisasi islam yang diikuti oleh para mahasiswa merupakan hak yang harus dipahami juga oleh para dosen yang ada di UIN Bandung. Begitu pun bagi para mahasiwa agar bisa terbuka kepada dosen dan mampu mengkomunikasikan mengenai apa yang dipercayai agar hal seperti pemaksaan tidak terjadi.

Abdul Mujib mengatakan, bahwa dengan terjalinnya komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswa praktik ibadah ini merupakan hal yang sangat bermanfaat. Karna, program praktik ibadah ini masih sangat diperlukan untuk para mahasiswa. “Sampai hari ini kan Praktik ibadah ini dianggap masih perlu, banyak mahasiswa jika tidak ada praktik seperti itu entah bagaimana dalam menjalani ibadahnya” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa dalam pedoman praktik ibadah yang juga terdapat kontribusi darinya, sudah disesuaikan dengan semua organisasi islam yang ada di UIN Bandung. Jadi, seharusnya perbedaan pelaksanaan ibadah bukanlah sebuah masalah apalagi sampai terjadi pemaksaan dari dosen terhadap mahasiswa.

Salah satu mahasiswa UIN Bandung yang juga fokus dalam isu keberagaman, berinisial D mengatakan bahwa dosen dan mahasiswa harus menjadi mitra, karna bisa jadi pemaksaan tersebut akibat ketidaktahuan dari dosen maupun mahasiswa mengenai keberagaman organisasi islam yang ada di UIN Bandung.

“Kalaupun dipaksakan satu mazhab saja berarti dilihat dari sudut pandang mayoritas. Nah, yang harus dipertanyakan adalah apakah UIN sebagai perguruan tinggi bisa mengakomodir keberagaman yang ada? Padahal bisa memanfaatkan jurusan-jurusan yang ada di Ushuluddin dan ada juga jurusan Perbandingan Mazhab di Syariah” hasil wawancara dengan D pada Selasa (25/10/2022).

Kampus Harus Menjadi Ruang Aman

D juga merupakan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi massa berhaluan Syiah yaitu Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI). Meski sudah tidak terlalu aktif dalam organisasi tersebut, ia tidak membuka identitasnya secara gamblang. Ia juga menceritakan bahwa beberapa temannya mendapat kesulitan dalam mengerjakan tugasnya yang berkaitan dengan aliran seperti Syiah dan Ahmadiyah.

Peran UIN Bandung sebagai perguruan tinggi, sangatlah diperlukan dalam meningkatkan toleransi di kampus. D mengatakan, tidak semua dosen pengajar di UIN Bandung memahami mengenai keberagaman organisasi islam yang ada di kampus. Terutama, bagi para dosen yang tidak memiliki background pendidikan agama untuk membimbing praktik ibadah.

Maka dari itu, baik bagi mahasiswa maupun dosen harus diberikan pemahaman lebih mengenai toleransi terhadap keberagaman yang ada di UIN Bandung. D menegaskan bahwa jurusan keagamaan yang ada di Fakultas Ushuluddin, bisa menjadi sebuah solusi untuk dimanfaatkan dalam penambahan pemahaman keberagaman kepada para dosen yang nantinya dapat diimplementasikan kepada para mahasiswa.

Rumah Moderasi Beragama yang dimiliki UIN Bandung, juga bisa dimanfaatkan sebagai tombak awal dalam penyebaran pemhaman mengenai keberagaman. Rumah Moderasi ini juga bisa meningkatkan rasa toleransi bagi seluruh civitas akademik di UIN bandung agar seluruh organisasi islam yang ada didalamnya bisa berjalan beriringan tanpa adanya perpecahan. 

Dengan Visi UIN Bandung, “Menjadi Universitas Islam Negeri yang Unggul dan Kompetitif Berbasis Wahyu Memandu Ilmu dalam Bingkai Akhlak Karimah di Asia Tenggara Tahun 2025”, menurut D pada poin “wahyu memandu ilmu” jika dikaitkan dengan perbedaan organisasi islam di UIN Bandung secara keilmuan bukan lagi masalah.

Lebih lanjut D menjelaskan, hal tersebut dikarenakan seluruh aliran yang ada di UIN Bandung pastinya memiliki rujukan keilmuannya masing-masing yang pada akhirnya bersumber dari wahyu yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Hal ini tentu saja kontradiktif dengan apa yang terjadi dalam ranah praktis, dengan dipakainya satu aliran yang dipakai dalam praktik ibadah. Pada akhirnya, maka patut dipertanyakan pencapaian Visi yang digaungkan oleh UIN Bandung tersebut dalam menciptakan iklim pembelajaran yang toleran.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment