- Kolaborasi Kemenag dan BAZNAS Cianjur, Menguatkan Usaha Masyarakat dari KUA
- Jamsostek Award 2026: Bukti Nyata Kinerja Disnakertrans Cianjur dalam Melindungi Nasib Buruh
- DPPKBP3A Cianjur Perkuat Integritas dan Komitmen Pelayanan Publik
- Pelantikan dan Pelatihan PMR Cianjur di Cibodas Jadi Momentum Kepemudaan
- Disdikpora Cianjur Tegaskan Profesionalisme ASN Lewat Penegakan Aturan
- Pemprov Jabar Selenggarakan Bursa Kerja Secara Live, Bisa Dipantau di Tiktok KDM
- Diskominfo Cianjur Perkuat Layanan Pengaduan agar Cepat dan Responsif
- Infak Kemanusiaan TK Thamrin Putradjaya dan BAZNAS Cianjur untuk Saudara di NTT
- DPMPTSP Cianjur Gerakkan Investasi di Tengah Tantangan Lahan
- Inilah Sikap Politik Ketua PSI Cianjur Terhadap Persoalan UHC di Kabupaten Cianjur
Inilah Upaya Deny Saepul Rohman dalam Melestarikan Ngaos, Mamaos, dan Maenpo

Keterangan Gambar : Ketua Yayasan Seni Budaya Maenpo Cikaret Cianjur, Deny Saepul Rohman dan demonstrasi silat, untuk melestarikan Tiga Pilar Budaya Cianjur, Ngaos, Mamaos, dan Maenpo.
Pinusnews.id -Yayasan Seni Budaya Maenpo Cikaret di Cianjur segera mendeklarasikan diri sebagai wadah pelestarian kebudayaan lokal dalam program bertajuk "Ngamumule". Inisiatif ini berfokus pada tiga pilar budaya khas Cianjur: Ngaos, Mamaos, dan Maenpo — yang digagas untuk menjaga kearifan lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. Deklarasi tersebut menjadi tonggak penting untuk memperkuat identitas budaya masyarakat Cianjur serta memperkenalkan kembali tradisi kepada generasi muda.
Ketua Yayasan, Deny Saepul Rohman, menyatakan bahwa ketiga pilar itu bukan sekadar warisan seni, melainkan filosofi hidup masyarakat Cianjur. "Kami sangat mendukung untuk melestarikan Tiga Pilar Budaya Cianjur yakni Ngaos, Mamaos, dan Maenpo, dengan melaksanakan kegiatan seperti memperagakan bela diri atau silat dari para murid di Yayasan Seni Budaya Maenpo Cikaret," ujar Deny saat berbicara di Cianjur, Senin, 18 Mei 2026. Pernyataan ini menegaskan komitmen yayasan dalam menggabungkan pelestarian budaya dengan praktik nyata.
Ngaos, menurut Deny, bermakna mengaji dan merepresentasikan kecintaan masyarakat Cianjur terhadap nilai-nilai keagamaan serta pendidikan karakter. Pilar ini penting karena Cianjur dikenal luas sebagai Kota Santri, sehingga praktik membaca dan memahami kitab suci menjadi landasan moral yang membentuk perilaku sosial. Dengan menempatkan Ngaos sebagai salah satu pilar, yayasan berharap generasi selanjutnya tidak kehilangan aspek spiritual yang selama ini menjadi penopang kehidupan bermasyarakat.
Baca Lainnya :
- 60 Pasien ODGJ Yayasan Rumah Pulih Jiwa Telah Sembuh, Tapi Pemda Cianjur Tutup Mata
- Pesantren Roboh, Belasan Santri Tertimpa Bangunan
- Mobil Angkutan Umum Tertimpa Pohon, 2 Sopir Dilarikan ke Rumah SakitÂ
- Babak Baru, Usai Pencuri Motor Babak Belur Dihajar Warga, satu Pelaku Kabur
- Bupati Herman Suherman : Cianjur Harus Steril dari Covid-19
Sementara itu, Mamaos menggambarkan seni suara atau tembang tradisional, khususnya tembang Sunda Cianjuran, yang memuat nilai estetika dan kehalusan budi pekerti. Deny menjelaskan bahwa Mamaos bukan hanya pertunjukan musik, melainkan media pendidikan nilai-nilai kebersamaan dan rasa persaudaraan. Keberadaan Mamaos membantu mengajarkan anak-anak dan remaja tentang bahasa, rasa, dan tata krama yang melekat pada identitas budaya setempat.
Maenpo, pilar ketiga, adalah bentuk bela diri tradisional yang menekankan kelenturan, teknik pertahanan, dan kewaspadaan. Dalam pandangan Deny, seni bela diri ini berperan membentuk ketangguhan fisik dan mental individu, sekaligus menanamkan sikap tanggung jawab dalam menjaga keselamatan diri dan lingkungan. Demonstrasi silat oleh murid-murid yayasan menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana budaya ini dipraktikkan dan diajarkan secara berkelanjutan.
Ketiga pilar tersebut, menurut Deny, saling melengkapi: Ngaos membangun akhlak dan spiritualitas, Mamaos menumbuhkan estetika dan solidaritas, sementara Maenpo memperkokoh ketahanan fisik dan keberanian. Keterpaduan ini menghasilkan sosok masyarakat Cianjur yang berakhlak, berbudaya, tangguh, dan bertanggung jawab — nilai-nilai yang relevan untuk menghadapi tantangan zaman. Pendekatan holistik semacam ini menjadikan pelestarian budaya bukan sekadar nostalgia, melainkan investasi sosial untuk masa depan.
Apresiasi patut diberikan kepada Deny Saepul Rohman dan Yayasan Seni Budaya Maenpo Cikaret atas inisiatif serta kerja nyata mereka. Upaya mengorganisir deklarasi, mengajar murid, dan menampilkan ragam praktik budaya menunjukkan komitmen yang konkret untuk menjaga warisan lokal. Dukungan komunitas, pemerintah daerah, dan pihak pendidikan akan memperkuat langkah ini sehingga Tiga Pilar Budaya Cianjur dapat terus diwariskan dan dinikmati oleh generasi mendatang. (dens).











