- Bupati Wahyu Resmikan Peluncuran AMDK Perumdam Tirta Mukti Cianjur
- Bidang SMP Disdikpora Cianjur, Sukses Penerimaan Siswa Baru Sekolah Nasional Terintegrasi
- SEATRC 2026 di Cianjur: Lari Lintas Alam Bawa Atlet Asia Tenggara Dorong Pariwisata Lokal
- Epa Fatihah Dinobatkan Sebagai Menteri Kehebohan Wisata Keluarga Bani Asyari
- Perhutani KPH Cianjur Perkuat Sinergi dengan Kejari untuk Pengelolaan Hutan yang Akuntabel dan Berke
- BPBD Cianjur Percepat Distribusi Air Bersih: Respons Hadapi Kekeringan Musim Kemarau
- Bupati Cianjur: Art Space The Unreal Playroom, Kreativitas dan Ekonomi Kreatif Lokal
- Bagian Umum dan Keuangan Sekda Cianjur Gelar Rekonsiliasi Semester 2026
- Ramaikan Hari Anak Nasional, Dinas Pangan Cianjur Hadirkan Pangan Murah untuk Warga
- Kasus Pencemaran Nama Baik PWI Cianjur Terus Bergulir, Perkuat Dugaan Pihak Terlapor
Bubarkan DPR, Ilusi Demokrasi yang Terlalu Murah Dibeli
Oleh: Torik Imanurdin, Anggota ICMI Orda Cianjur
.jpg)
Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Pinusnews.id - Ketika kabar kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR mencuat ke publik, gelombang kemarahan pun tak terbendung. Seruan “Bubarkan DPR!” menggema di ruang digital, seolah-olah membubarkan lembaga legislatif adalah jalan pintas menuju keadilan. Namun, di balik kemarahan itu, terselip ilusi yang berbahaya: bahwa kita bisa menghapus satu pilar demokrasi tanpa mengguncang fondasi negara.
DPR bukan sekadar simbol kekuasaan—ia adalah instrumen dalam sistem trias politica yang menjamin keseimbangan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Membubarkannya bukan solusi, melainkan sabotase terhadap mekanisme kontrol dan representasi rakyat. Kita tidak sedang menyelesaikan masalah, kita sedang menghapus ruang perdebatan yang sah.
Yang lebih ironis, kita sering lupa bahwa anggota DPR adalah cerminan dari kita sendiri. Mereka dipilih melalui proses demokratis. Jika yang terpilih tidak mencerminkan harapan rakyat, maka masalahnya bukan hanya pada mereka—tetapi juga pada kualitas pemilih, proses politik, dan budaya demokrasi yang kita bangun. Kita tidak bisa menuntut parlemen ideal dari masyarakat yang permisif terhadap politik uang, apatis terhadap rekam jejak, dan mudah terbuai oleh retorika kosong.
Baca Lainnya :
- Inna lillahi, Empat Kadis Positif Covid-19, Satu Orang Meninggal Dunia
- Akibat Cuaca Buruk Nelayan Jayanti Gagal Cari Ikan, Kini Tanam Jagung
- Ini Hasil Penghitungan Suara Pilkada Cianjur 2020
- Geger, Mayat Pria Ditemukan Meninggal  dalam Rumah
- PLN ULP Tanggeung: Hindari Cuaca Ekstrem dan Jauhi Jaringan Listrik
Kemarahan atas kenaikan tunjangan itu sah. Transparansi dan akuntabilitas harus ditegakkan. Tapi mengubah kemarahan menjadi seruan pembubaran adalah bentuk pelarian dari tanggung jawab kolektif. Yang perlu dibubarkan bukan lembaganya, tapi mentalitas elitis dan budaya permisif yang melanggengkan privilese tanpa pengabdian.
DPR bukan musuh. Ia adalah cermin. Jika wajah yang tampak di sana buruk, mungkin kita perlu bertanya: siapa yang meletakkan cermin itu di sana?
Demokrasi bukan hanya soal memilih, tapi juga soal mendidik, mengawasi, dan memperbaiki. Kita tidak butuh pembubaran, kita butuh pembaruan—baik di parlemen, maupun dalam kesadaran politik rakyat.











