- Perhutani KPH Cianjur Perkuat Keamanan Hutan lewat Sinergi Lapangan dengan Bhabinkamtibmas
- Cianjur Gandeng BBPVP Bandung Perkuat Pelatihan Vokasi untuk Redam Pengangguran
- Isfhan Taufik Munggaran: Relawan Kebajikan Pancasila Kembalikan Nilai ke Kehidupan
- Menunggu Rumah Aman: Warga Waringinsari Bertahan di Antara Reruntuhan dan Janji Relokasi
- BAZNAS Cianjur Apresiasi Penyaluran Beasiswa Rp22 Miliar untuk Mahasiswa Palestina
- Disdikpora Cianjur Percepat Perbaikan 2.334 Ruang Kelas SD dalam 2 Tahun
- BAZNAS Cianjur Gerak Cepat: Ambulans dan Perawatan untuk Ibu Kurnia Terkena Kanker Serviks
- Nelayan Pantai Jayanti Kembali Melaut, Satpolairud Ingatkan Utamakan Keselamatan
- Gandeng KPK, Pemprov Jabar Bentengi Pejabat dan Keluarga dari Praktik Korupsi
- Presiden Prabowo Instruksikan BMKG Perkuat Kesiapan Hadapi Kemarau dan El Nino
Menghapus Stigma, Membangun Harapan Anak Nakal Cianjur Bukan untuk Dihukum, Tapi Dipahami

Keterangan Gambar : Penulis artikel, Torik Imanurdin.
Oleh: Torik Imanurdin, M.Pd.
Alumni Program Pendidikan Khusus Spesialisasi Anak Tunalaras Universitas Pendidikan Indonesia
Pinusnews.id - Di Kabupaten Cianjur, tidak sedikit anak-anak yang dianggap “nakal” dan akhirnya dibawa ke barak rehabilitasi atau lembaga pembinaan sosial. Namun, bila ditelusuri lebih dalam, sebagian besar dari mereka bukanlah pelaku utama dari perilaku menyimpang, melainkan korban dari lingkungan keluarga yang tidak kondusif untuk tumbuh kembangnya.
Baca Lainnya :
- Rini Valentina, Penulis Mendunia Berkarya di Masa Pandemi Covid-19
- Jelang Pilkada 2020, Polsek Sukaluyu Gelar Deklarasi Pilkada Damai
- Bos Baik Hati Bangun Masjid untuk Ibadah Karyawannya
- Penipu Berkedok Paket Kurban Dijebloskan ke Penjara
- Logistik Pemilihan Mulai Besok Didistribusikan KPU
Cianjur sebagai daerah dengan dinamika sosial dan ekonomi yang beragam, masih menghadapi tantangan serius dalam hal ketahanan keluarga. Banyak anak berasal dari keluarga prasejahtera, tinggal dalam kondisi ekonomi yang sulit, dengan orang tua yang tidak mampu menjadi teladan atau memberikan pola asuh yang sehat. Sebagian orang tua bahkan sibuk bekerja tanpa bekal pemahaman pengasuhan yang baik, atau terjebak dalam pola komunikasi yang keras dan otoriter. Dalam kondisi seperti itu, anak-anak mudah tersesat, mencari perhatian dan pelampiasan di luar rumah yang sering kali berujung pada perilaku yang dinilai “nakal” oleh masyarakat.
Labelisasi seperti ini harus mulai ditinggalkan di Cianjur. Menyebut anak sebagai “nakal” hanya memperparah luka yang mereka alami. Alih-alih membangun, stigma tersebut justru mematikan semangat perubahan. Padahal, pengalaman membuktikan bahwa perilaku menyimpang pada anak bukanlah sesuatu yang permanen. Anak-anak, termasuk yang dikategorikan sebagai Tunalaras—yaitu anak dengan gangguan perilaku dan emosi—tetap memiliki potensi untuk berubah menjadi pribadi yang baik, asal diberi bimbingan yang sabar dan tepat.
Solusi: Pembinaan Keluarga sebagai Kunci
Membina anak bermasalah tidak cukup dilakukan secara terpisah dari lingkungan keluarganya. Di Cianjur, solusi yang menyeluruh harus mencakup pembinaan kepada orang tuanya. Pemerintah daerah bersama dinas terkait, seperti Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, dan DP3AKB, perlu merancang program pembinaan keluarga yang konkret. Pelatihan pengasuhan positif, konseling keluarga, hingga pemberdayaan ekonomi rumah tangga harus menjadi prioritas.
Langkah ini sejalan dengan semangat yang diusung banyak tokoh lokal, bahwa memperkuat keluarga berarti memperkuat fondasi masyarakat. Anak yang tumbuh dalam rumah penuh kasih dan arahan cenderung memiliki ketahanan mental dan karakter yang lebih baik, sekalipun sebelumnya pernah mengalami penyimpangan perilaku.
Cianjur Ramah Anak, Bukan Menghakimi Anak
Pemerintah Kabupaten Cianjur telah mencanangkan berbagai program pembangunan berbasis kemanusiaan dan kesejahteraan sosial. Namun, perlindungan dan pembinaan anak dengan latar belakang khusus juga harus menjadi bagian dari prioritas. Program Tim Percepatan Pembangunan (TPP), bantuan sosial, serta pemberdayaan ekonomi keluarga miskin dapat diarahkan untuk mendukung keluarga rentan agar mampu menciptakan rumah yang aman dan mendidik bagi anak-anaknya.
Lebih dari itu, masyarakat Cianjur juga perlu membangun budaya empati. Setiap RT, RW, dan tokoh masyarakat harus menjadi bagian dari jaringan perlindungan anak. Daripada menghakimi, mari kita mulai mendampingi. Daripada memberi label, mari kita memberi teladan.
Menolak Stigma, Membangun Masa Depan Cianjur
Anak-anak yang hari ini dianggap “nakal” bisa jadi adalah pemimpin masa depan Cianjur, jika kita mampu memberi mereka ruang untuk tumbuh dan berubah. Mari bersama-sama kita hapus stigma, perkuat peran keluarga, dan ciptakan Kabupaten Cianjur yang benar-benar ramah anak tempat setiap anak, tanpa terkecuali, bisa bermimpi dan mewujudkan masa depannya.











