- DPRD Cianjur Pimpin Refleksi dan Akselerasi Pembangunan pada Hari Jadi ke-349
- Bupati Cianjur Sambut Korban TPPO, Ingatkan Warga Urus TKI Secara Legal
- Cianjur Masih di Bawah: Tantangan IPM dan Upaya Perbaikan Bersama
- Peringati Milangkala Ke-349 Kabupaten Cianjur, KDM akan Tingkatkan Kualitas Pendidikan
- Imbauan Satpolairud Cianjur: Nelayan Diminta Utamakan Keselamatan saat Gelombang Tinggi
- Memperkuat Kebersamaan dan Kesejahteraan: BAZNAS Cianjur Berperan Aktif di Hari Jadi ke-349
- Rahayat Raksa Raharja: Semangat Gotong Royong Warnai Hari Jadi Cianjur ke-349
- Hadiah Hari Jadi Cianjur ke-349: Jalan Baru Cikadu dari Pemerintah Provinsi Jadi Wujud Perhatian KDM
- PUTR Cianjur: Bersama Membangun Cianjur Era Baru di Milangkala ke-349
- BAZNAS Cianjur Tetap Hadir untuk Umat: Fokus Layanan Kesehatan dan Bantuan Perjalanan Saat Masa Tran
KPK dan Dekadensi Pencegahan Korupsi
.jpg)
Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Oleh: Torik Imanurdin
(Aktivis 1998 Ketua Umum BEM FIP UPI 1999-2000)
Pinusnews.id - Dua puluh tujuh tahun sejak reformasi 1998, kita masih terjebak dalam siklus korupsi yang tak kunjung patah. Ironisnya, lembaga yang lahir dari semangat pemberantasan korupsi—KPK—kini justru menjadi cermin dari kegagalan sistemik dalam mencegahnya.
Baca Lainnya :
- Inna lillahi, Empat Kadis Positif Covid-19, Satu Orang Meninggal Dunia
- Akibat Cuaca Buruk Nelayan Jayanti Gagal Cari Ikan, Kini Tanam Jagung
- Pemdes Tanjungsari Sukaluyu Bagikan BLT
- Peranan PT. Bukit Naga Mas Kembangkan UMKM di Cianjur
- Ini Hasil Penghitungan Suara Pilkada Cianjur 2020
Kasus OTT terhadap Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer, adalah tamparan keras bagi publik. Ia ditangkap bukan saat mulai menyimpang, tetapi setelah kekayaannya sudah berlimpah—hasil dari praktik korupsi yang berlangsung lama dan sistematis. Artinya, pencegahan tidak berjalan. Pengawasan tidak berfungsi. Integritas kelembagaan telah dikompromikan.
Sebagai aktivis 1998, saya tidak hanya kecewa, saya marah. Reformasi bukan sekadar pergantian rezim, melainkan janji akan tata kelola yang bersih dan berkeadilan. Ketika pejabat publik bisa mengumpulkan kekayaan luar biasa tanpa terdeteksi, itu bukan hanya kelalaian, tapi pengkhianatan terhadap amanat reformasi.
KPK hari ini lebih mirip pemadam kebakaran yang datang setelah rumah hangus terbakar, bukan penjaga gerbang yang mencegah api menyala. Pencegahan telah direduksi menjadi jargon, bukan sistem. Padahal, korupsi bukan hanya soal uang, tapi soal hilangnya kepercayaan rakyat terhadap negara.
Kita butuh KPK yang kembali ke akar perjuangannya: independen, progresif, dan tak kompromi terhadap kekuasaan. Kita butuh sistem yang mampu membaca gejala korupsi sejak dini, bukan hanya menunggu skandal meledak. Dan yang paling penting, kita butuh keberanian kolektif untuk mengatakan: cukup sudah.
Reformasi bukan kenangan. Ia adalah utang sejarah yang belum lunas. Dan kami, para aktivis 1998, tidak akan diam melihat cita-cita itu dikubur oleh kompromi dan ketakutan.











