Ketika Kebenaran Diungkap, Fitnah Justru Menyambut
Oleh: Torik Imanurdin Anggota ICMI ORDA Cianjur

19 Agu 2025, 14:05:08 WIB Cianjur
Ketika Kebenaran Diungkap, Fitnah Justru Menyambut

Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.


Pinusnews.id - Di tengah iklim politik yang kerap lebih sibuk merawat citra daripada membongkar fakta, langkah berani pemerintahan Prabowo Subianto dalam mengungkap praktik korupsi justru memunculkan paradoks: kebenaran yang dibuka dianggap sebagai cacat, bukan sebagai keberanian.

Publik terlanjur menilai bahwa kasus-kasus korupsi bernilai triliunan rupiah yang kini mencuat adalah hasil dari pemerintahan Prabowo. Padahal, fakta menunjukkan bahwa sebagian besar kasus tersebut merupakan warisan masa lalu—praktik busuk yang telah lama mengendap dalam sistem, namun baru kini berani dibongkar.

Prabowo tidak sedang menciptakan skandal. Ia sedang membersihkan luka lama yang selama ini ditutupi oleh generasi kekuasaan sebelumnya. Dan membersihkan itu tidak pernah tampak indah di awal. Debu yang beterbangan, bau yang menyengat, dan resistensi dari mereka yang selama ini nyaman dalam gelap—semua itu adalah konsekuensi dari keberanian.

Baca Lainnya :

Sebagai anggota ICMI Orda Cianjur, saya melihat ini bukan sekadar soal politik, tetapi soal integritas kenegaraan. Pemerintahan yang berani mengungkap korupsi pejabat negara dan aktor swasta, dengan nilai kerugian yang mencengangkan, adalah pemerintahan yang sedang berkhidmat. Bukan untuk pujian, bukan untuk popularitas, tetapi untuk rakyat.

Kita harus berhenti menilai pemimpin dari jumlah kasus korupsi yang terbongkar di masanya. Karena jika logika itu diteruskan, maka pemimpin yang diam akan tampak bersih, dan pemimpin yang bergerak akan tampak kotor. Padahal, diam adalah bentuk lain dari pengkhianatan, dan bergerak adalah wujud keberpihakan.

Prabowo telah memilih jalan yang tidak populer: membongkar, bukan menutup-nutupi. Dan jalan itu, meski penuh duri, adalah jalan yang benar. Maka tugas kita sebagai masyarakat madani adalah meluruskan narasi. Bahwa keberanian bukanlah kelemahan, dan transparansi bukanlah dosa.

Jika bangsa ini ingin sembuh dari luka korupsi, maka kita harus mulai dari kejujuran dalam membaca realitas. Bukan dari fitnah yang dibungkus opini, bukan dari asumsi yang dibungkus emosi. Tapi dari keberanian untuk berkata:  

"Yang salah adalah masa lalu, dan yang benar adalah mereka yang berani mengungkapnya.”




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment