- Gunakan Dana Pribadi, Gubernur KDM Gelar Sayembara Tangkap Penjahat Jalanan di Jabar
- DPMPTSP Cianjur: Investasi Tembus Rp1,33 Triliun pada Semester Pertama 2026
- Bupati Wahyu Resmikan Peluncuran AMDK Perumdam Tirta Mukti Cianjur
- Bidang SMP Disdikpora Cianjur, Sukses Penerimaan Siswa Baru Sekolah Nasional Terintegrasi
- SEATRC 2026 di Cianjur: Lari Lintas Alam Bawa Atlet Asia Tenggara Dorong Pariwisata Lokal
- Epa Fatihah Dinobatkan Sebagai Menteri Kehebohan Wisata Keluarga Bani Asyari
- Perhutani KPH Cianjur Perkuat Sinergi dengan Kejari untuk Pengelolaan Hutan yang Akuntabel dan Berke
- BPBD Cianjur Percepat Distribusi Air Bersih: Respons Hadapi Kekeringan Musim Kemarau
- Bupati Cianjur: Art Space The Unreal Playroom, Kreativitas dan Ekonomi Kreatif Lokal
- Bagian Umum dan Keuangan Sekda Cianjur Gelar Rekonsiliasi Semester 2026
Guru Bukan Beban, Melainkan Investasi Bangsa
.jpg)
Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Oleh: Torik Imanurdin, M.Pd.
(Alumnus Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)
Pinusnews.id - Belum lama ini publik diramaikan dengan pernyataan Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani, yang menyebut gaji guru sebagai beban negara. Seketika masyarakat bereaksi keras, sebab kata beban sering kita pahami sebagai sesuatu yang merepotkan, memberatkan, bahkan mengganggu.
Baca Lainnya :
- Akibat Cuaca Buruk Nelayan Jayanti Gagal Cari Ikan, Kini Tanam Jagung
- Pemdes Tanjungsari Sukaluyu Bagikan BLT
- Peranan PT. Bukit Naga Mas Kembangkan UMKM di Cianjur
- Ini Hasil Penghitungan Suara Pilkada Cianjur 2020
- Geger, Mayat Pria Ditemukan Meninggal  dalam Rumah
Namun, jika kita menelaah lebih dalam, istilah beban yang dimaksud oleh Menteri Keuangan bukanlah "beban" dalam arti negatif. Dalam dunia akuntansi, kata beban berarti pengeluaran atau biaya rutin yang memang harus dikeluarkan pemerintah untuk menjalankan fungsinya. Artinya, gaji guru masuk dalam kategori belanja negara yang wajib dipenuhi, sama seperti biaya kesehatan, subsidi, atau pembangunan infrastruktur.
Di sinilah letak persoalannya: kata yang dalam akuntansi bersifat teknis ternyata ditangkap secara emosional oleh masyarakat. Padahal, justru dengan menyebutnya sebagai beban anggaran, negara menegaskan komitmennya untuk terus mengalokasikan dana besar bagi pendidikan.
Guru bukanlah beban dalam arti yang menyulitkan negara. Sebaliknya, guru adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas generasi mendatang. Apa jadinya negeri tanpa guru? Apa mungkin ada dokter, insinyur, atau pejabat publik tanpa peran guru yang membimbing sejak dasar?
Kita memang perlu cermat dalam memahami bahasa. Tidak semua kata bermakna sama di setiap bidang. Istilah teknis dalam akuntansi tidak selalu sejalan dengan makna populer di masyarakat. Oleh karena itu, mari kita tempatkan ucapan tersebut pada konteksnya, sembari terus mendorong agar penghargaan terhadap guru bukan hanya sekadar istilah, melainkan diwujudkan dalam kesejahteraan yang nyata.
Guru bukan beban. Guru adalah pilar bangsa.











