- Revitalisasi Pendidikan Dasar Cianjur: Tinjauan Bupati di Tengah Tes Akademik Nasional
- Dedikasi Polisi Pelosok: Bripka Bayu, Guru Sukarela di Tengah Tugas Keamanan
- Efisiensi Energi Pemkab Cianjur: Rp388 Juta Dihemat di Bawah Kepemimpinan Hendra
- Memperkuat Fondasi Hukum Cianjur: Pelantikan BLCI sebagai Momentum Edukasi Masyarakat
- KDM: Penataan Halaman Gedung Sate agar Aktivitas Masyarakat Lebih Lancar
- Aplikasi Nyari Gawe Semakin Diandalkan, Total Pelamar Kerja Capai Setengah Juta Orang
- Presiden Prabowo Sampaikan Pengarahan pada Ketua DPRD Seluruh Indonesia
- Dinas TPHP Cianjur Hadirkan Sekolah Lapang Alsintan dan Traktor untuk Produktivitas Para Petani
- BMKG Prediksi Sebagian Besar Wilayah Jabar Alami Musim Kemarau Lebih Kering
- Disiplin Sekolah Cianjur: Visi Tegas Ipan Sopandi dalam Larangan Motor dan HP Siswa
Dedikasi Polisi Pelosok: Bripka Bayu, Guru Sukarela di Tengah Tugas Keamanan

Keterangan Gambar : Bripka Bayu Angga Kusumanegara menjadi guru sukarela mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Jihad, Kampung Gunung Jantung, Desa Leuwikoja, Kecamatan Mande, Cianjur.
Pinusnews.id - Di tengah hiruk-pikuk tugas menjaga keamanan masyarakat, seorang anggota kepolisian di Kabupaten Cianjur menunjukkan dedikasi luar biasa yang jarang ditemui. Bripka Bayu Angga Kusumanegara, Bhabinkamtibmas Polsek Mande Polres Cianjur, tidak hanya menjalankan kewajibannya sebagai polisi, tapi juga menyempatkan diri menjadi guru sukarela bagi anak-anak di pelosok desa. Kisahnya menggambarkan bagaimana profesi penegak hukum bisa menyentuh ranah pendidikan, menciptakan harmoni antara keamanan dan pemberdayaan generasi muda.
Kegiatan mengajar Bayu berpusat di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Jihad, Kampung Gunung Jantung, Desa Leuwikoja, Kecamatan Mande. Ini merupakan bagian dari program Police Goes to School yang telah ia jalankan sejak 2022. Program ini bukan sekadar inisiatif pribadi, melainkan upaya sistematis untuk mendekatkan polisi dengan masyarakat, khususnya anak-anak di daerah terpencil. Dengan demikian, Bayu tidak hanya menjaga ketertiban, tapi juga membangun fondasi pendidikan yang lebih kuat.
Motivasi Bayu terpanggil dari kondisi darurat di sekolah tersebut. Minimnya tenaga pendidik menjadi pemicu utama, ditambah lokasi madrasah yang berada di wilayah desa binaannya. “Awalnya karena kekurangan guru di sana, dan itu juga masuk desa binaan saya. Jadi saya berinisiatif untuk ikut membantu proses belajar mengajar,” ujarnya kepada wartawan belum lama ini.
Baca Lainnya :
- Dipancing dengan Perempuan, Tertangkaplah Komplotan Pencuri Domba
- Sekolah Buka Pada Masa Pandemi Covid-19, Bisa Kena Sanksi Berat
- Ini Kata Kades Sukasari, Polemik Video Viral Pengakuan KPM Dana BLT DD
- Asep Irwan : BPKAD Cianjur Harus Transparan Mengelola Keuangan Daerah
- Aji Prasetio Korban Tenggelam di Kali Cilaku Ditemukan Sudah Meninggal
Inisiatif Bayu ini mencerminkan empati mendalam seorang polisi terhadap tantangan pendidikan di pedesaan, di mana akses guru profesional sering kali terbatas.
Perjalanan menuju madrasah bukanlah hal ringan. Dari Mapolsek Mande, Bayu harus menempuh hampir dua jam dengan medan jalan yang berliku dan menantang. Hutan, tanjakan curam, dan jalan rusak menjadi rintangan rutin, namun semangatnya tak pernah pudar. Dedikasi ini menunjukkan bahwa komitmen sejati mampu mengatasi hambatan fisik, mengubah perjalanan panjang menjadi investasi untuk masa depan anak-anak desa.
Jadwal mengajar Bayu bersifat fleksibel, disesuaikan dengan tugas dinasnya. Dalam kondisi normal, ia datang dua kali seminggu, tapi prioritas pengamanan atau piket sering kali mengubah rencana. “Kalau ada tugas pengamanan atau piket, terpaksa tidak bisa mengajar. Tapi kalau ada waktu, saya usahakan tetap datang,” ungkapnya.
Fleksibilitas yang dilakukan Bayu ini menekankan keseimbangan antara tanggung jawab negara dan panggilan hati, membuktikan bahwa pelayanan publik bisa multifaset.
Manfaat langsung dirasakan oleh 33 siswa madrasah tersebut. Bayu mengajarkan dasar-dasar Bahasa Inggris sebagai pelengkap kurikulum, memastikan anak-anak pelosok tak tertinggal dari teman-teman di kota. Pelajaran ini bukan hanya keterampilan bahasa, tapi juga pintu gerbang ke dunia lebih luas, membekali mereka dengan keunggulan kompetitif di era globalisasi.
Meski demikian, madrasah masih bergulat dengan keterbatasan fasilitas. Salah satu yang paling mencolok adalah ketiadaan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) yang layak. “Memang masih banyak kekurangan, terutama fasilitas seperti MCK yang belum tersedia,” kata Bayu. Tantangan ini menggarisbawahi kesenjangan infrastruktur di daerah terpencil, di mana pendidikan sering kali terhambat oleh kebutuhan dasar yang belum terpenuhi.
Perlahan, perubahan positif mulai terlihat berkat dukungan eksternal. Sebelumnya, sekolah bahkan belum memiliki listrik, tapi kini telah terpasang berkat bantuan pimpinan Polres Cianjur. “Alhamdulillah sekarang sudah ada listrik. Sebelumnya memang belum ada, tapi sudah dibantu oleh pimpinan,” ungkapnya.
Kemajuan ini menjadi simbol harapan, menunjukkan bahwa kolaborasi antara individu, institusi, dan komunitas bisa mengubah nasib pendidikan pelosok. Bayu berharap upayanya memberikan dampak jangka panjang.
“Semoga anak-anak di sini tetap punya kesempatan yang sama untuk berkembang. Walaupun di pelosok, minimal mereka sudah mengenal Bahasa Inggris," harapnya. (tim dens).










