Breaking News
- DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember, Pimpinan Siap Mundur
- BAZNAS Cianjur Hadirkan Harapan Lewat Distribusi Air Bersih di Desa Sukamaju
- Buka Muktamar ke-35 NU, Presiden Prabowo: NU Institusi Bersejarah dan Berjasa Besar bagi Indonesia
- Bidang SMP Disdikpora Cianjur Gerak Cepat Antisipasi Kekurangan Guru Menjelang 2026–2027
- Disbudpar Cianjur: Strategi Promosi dan Revitalisasi untuk Menutup Kesenjangan Retribusi
- Gerakan Pramuka Diharapkan Mampu Ciptakan Indonesia Emas 2045
- Disdikpora Cianjur Setarakan Peluang Sekolah Swasta dalam SPMB 2026
- Disperkim Cianjur Tegakkan Ketertiban Lingkungan lewat Penataan dan Pelayanan
- Kepala Sekolah Diminta Wujudkan Perubahan Nyata Usai Pelatihan BCKS
- Kemenangan untuk Sesama: BAZNAS Cianjur Salurkan Donasi Karnaval untuk Korban Gempa NTT
Berhenti Bicara Mazhab Saat Penjajahan Masih Nyata Ada
Oleh: Torik Imanurdin, S.Pd., M.Pd. Anggota ICMI Orda Cianjur

Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Pinusnews.id - Dalam melihat konflik yang melibatkan Iran, Zionisme, dan Amerika, kita perlu jujur memahami bahwa ini bukanlah semata konflik mazhab. Ini bukan pertarungan antara Sunni dan Syiah. Yang sedang berlangsung di hadapan kita adalah konflik antara penjajahan dan perlawanan terhadap penjajahan.
Selama puluhan tahun, Iran hidup di bawah tekanan yang luar biasa. Mereka menghadapi sanksi ekonomi, isolasi politik, dan berbagai bentuk tekanan global. Namun, di tengah semua itu, mereka tetap berdiri. Keberadaan Iran hari ini menjadi bukti bahwa masih ada negara yang berani mengatakan “tidak” kepada dominasi Amerika. Ini bukan sekadar posisi politik, tetapi simbol bahwa hegemoni global tidaklah absolut.
Jika suatu hari Iran berhasil memukul mundur tekanan Amerika dan Israel, maka yang runtuh bukan hanya aliansi militer. Yang runtuh adalah mitos besar bahwa Amerika tidak bisa dikalahkan. Ketika mitos itu runtuh, dunia akan berubah. Negara-negara kecil akan mulai berani bersuara. Negeri-negeri Muslim akan mulai menegakkan martabatnya tanpa rasa takut terhadap tekanan global.
Sebaliknya, jika Iran dihancurkan, maka pesan yang disampaikan kepada dunia sangat jelas siapa pun yang mencoba melawan akan dilumpuhkan. Dampaknya akan jauh lebih luas. Negara-negara Muslim akan semakin takut untuk berdiri tegak. Yang tersisa hanyalah rezim-rezim yang patuh dan tunduk, yang berlomba-lomba mencari aman, bahkan dengan cara menormalisasi hubungan dengan penjajah.
Pada titik ini, kita harus jujur. Perbedaan mazhab adalah persoalan internal umat ruang diskusi, bukan alasan untuk saling melemahkan. Sementara itu, penjajahan adalah ancaman terhadap seluruh umat manusia, melampaui batas mazhab, bangsa, bahkan agama.
Karena itu, siapa pun yang berdiri melawan penjajahan layak mendapatkan dukungan, bahkan jika ia bukan bagian dari kelompok kita secara ideologis. Dalam realitas politik, tidak semua sekutu adalah sekutu akidah. Kita bisa berdiri bersama karena memiliki musuh yang sama YAITU kezaliman.
Hari ini, bentuk kezaliman yang paling nyata adalah hegemoni global yang menindas dan kolonialisme yang terus berlangsung di Palestina. Jika setiap bentuk perlawanan kita tolak hanya karena perbedaan manhaj, maka pada akhirnya yang menang bukan Sunni, bukan Syiah melainkan penjajah itu sendiri.
Adapun bagi mereka yang mengaku netral, perlu dipahami bahwa dalam konflik antara penjajah dan yang dijajah, diam bukanlah netralitas. Diam adalah sikap yang secara tidak langsung membiarkan ketidakadilan terus berlangsung. Lebih jauh lagi, ketika sikap “netral” justru menjatuhkan moral pihak yang berjuang melawan penindasan, maka itu bukan lagi netral itu adalah keberpihakan yang terselubung.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: di sisi mana kita berdiri? Karena dalam sejarah, yang dikenang bukan mereka yang memilih aman dalam diam, tetapi mereka yang berani berdiri melawan kezaliman.
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments











