4 Tahun Terisolasi, Warga Cijati Desak Pemda Cianjur Segera Bangun Jembatan Penghubung

09 Des 2025, 06:55:50 WIB Cianjur
4 Tahun Terisolasi, Warga Cijati Desak Pemda Cianjur Segera Bangun Jembatan Penghubung

Keterangan Gambar : Pemandangan yang menyedihkan sekaligus menakutkan ketika para pelajar dan warga masyarakat menaiki "bambu" di atas sungai Cibuni, Kadupandak, Cianjur, karena sudah 4 tahun jembatan penyebrangan terputus.


Pinusnews.id - Kurun waktu lebih dari empat tahun warga di perbatasan Kecamatan Cijati dan Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, hidup dalam keterisolasian akibat putusnya jembatan gantung yang menghubungkan Desa Sukamahi, Desa Neglasari, dan Desa Talagasari. Jembatan tersebut rusak parah setelah diterjang banjir bandang hebat pada tahun 2021.

Hingga saat ini, belum ada pembangunan jembatan pengganti yang memadai. Akibatnya, ratusan warga, termasuk para pelajar, terpaksa menyeberangi Sungai Cibuni menggunakan rakit sederhana yang dioperasikan secara sukarela oleh warga sekitar. Sungai yang lebarnya mencapai sekitar 125 meter itu menjadi satu-satunya jalur tercepat, meski risiko menyeberang sangat besar terutama saat debit air meningkat.

Sella, seorang siswi SMA setempat, mengaku telah tiga tahun bergantung pada rakit untuk menuju sekolahnya. Meski sudah terbiasa, ia tetap harus melepas sepatu dan menghadapi derasnya arus sungai setiap pagi. 

Baca Lainnya :

"Ada jalan lain, tapi harus muter jauh sampai 10 kilometer. Jadi kami lebih pilih rakit biar cepat," ujarnya.

Nasib serupa dialami Atep (35), warga Kampung Parabon, Desa Talagasari. Ia setiap hari menyeberang sungai sambil membawa sepeda motor untuk pergi bekerja. Meskipun takut dengan derasnya arus, ia tidak punya pilihan lain. 

“Kalau lihat arus memang seram, tapi mau bagaimana lagi, harus kerja,” kata Atep.

Wakil Kepala Madrasah Aliyah (MA) Bojong Jati, Edi Wahyu, menjelaskan bahwa banjir besar 2021 menghanyutkan material kayu dan pohon yang merusak pondasi jembatan gantung tersebut. Ia menambahkan bahwa akses siswa kini sangat terganggu, banyak yang terlambat karena harus menyeberangi sungai menggunakan rakit.

“Kadang kami beri izin siswa tidak datang saat debit air melonjak tinggi. Kami mengutamakan keselamatan mereka daripada memaksakan menunggu di rakit saat banjir sebab perjalanan bisa memakan waktu sampai satu jam,” jelas Edi.

Warga dari dua kecamatan itu berharap pemerintah kabupaten dan provinsi menunjukkan perhatian serius dengan segera membangun kembali jembatan penghubung yang vital ini. Jembatan bukan hanya menghubungkan desa-desa, tapi menjadi kunci bagi aktivitas pendidikan, perekonomian, dan mobilitas harian warga.

“Kami hidup dalam kekhawatiran setiap hari menyeberang sungai. Ini sudah terlalu lama tanpa solusi konkret. Kami hanya ingin jembatan yang layak dan aman agar semua aktivitas kami bisa berjalan normal kembali,” ungkap seorang warga dengan harap.

Dengan dukungan segera dari pemerintah daerah, pembangunan jembatan ini akan membuka akses yang lebih baik dan mengakhiri pemisahan yang selama ini membelenggu warga. Infrastruktur yang memadai juga diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi dan memperlancar pendidikan di wilayah perbatasan ini. (tim dens).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment