- Dr. Euis Latifah, M.Pd. Raih Penghargaan sebagai Dosen Inovatif dalam ToT Perma Pendis 2026
- Rektor IAI Al-Azhary Raih Perma Pendis Award 2026 sebagai Rektor Visioner di Tengah Kegiatan ToT
- BAZNAS Cianjur Apresiasi UPZ IGTKI-PGRI Sukses Tingkatkan ZIS
- Koperasi Merah Putih: Jembatan Kemandirian Ekonomi Cianjur Menuju Kesejahteraan Nyata
- Bupati Wahyu dalam Rembug Warga Cianjur: Langkah Nyata Menuju Kesejahteraan Inklusif
- Cari Solusi Agar Gaji Guru Honorer Dibayar, KDM Segera Temui Menteri PAN-RB
- Panggil Kapolri, Presiden Prabowo Bahas Keamanan Nasional dan Program Strategis Polri
- Kesuksesan Bidang SMP Disdikpora Cianjur dalam Menggelar Tes Kemampuan Akademik 2026
- Bupati Wahyu: Koperasi Pilar Utama Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Cianjur
- Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) Siap Dibangun di Jawa Barat Mulai Juni 2026
Tragedi dalam Pesta, Ketika Kemewahan Bertabrakan dengan Kenyataan
Oleh : Torik Imanurdin

Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Pinusnews.id - Seharusnya pesta pernikahan menjadi momen sakral yang mempertemukan kebahagiaan dan harapan. Namun di Garut, kemarin, momen itu berubah menjadi mimpi buruk. Tiga warga meregang nyawa dalam kerumunan pesta rakyat pernikahan anak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dan Wakil Bupati Garut, Putri Karlina. Di antara korban, seorang anak kecil dan lansia — dua sosok yang kerap digadang sebagai "prioritas pembangunan."
Pesta ini, dengan dalih “merakyat,” memamerkan betapa jauhnya jarak antara panggung elite dan realitas rakyat. Di tengah makanan berlimpah dan dekorasi mewah, ribuan warga berdesakan demi sepiring nasi. Di mana nilai kemanusiaan saat antusiasme berubah menjadi bencana? Ketika keramaian tak terkendali karena sistem pengamanan yang tak siap, pertanyaannya bukan lagi “bagaimana ini bisa terjadi,” tetapi “mengapa kita membiarkannya terjadi?”
Pesta rakyat bukan panggung politik. Ia bukan sekadar hiburan kolektif, melainkan janji etis: bahwa rakyat tidak hanya menjadi penonton, apalagi korban, dalam sandiwara seremonial kekuasaan. Tragedi ini adalah pengingat pahit bahwa niat baik tidak cukup jika tidak dibarengi tanggung jawab dan sensitivitas sosial.
Baca Lainnya :
- Potensi Anak Didik SSB Yudhistira Cianjur Butuh Dilirik
- Paslon Toha-Ade (Hade) : Selamat, Hasil Quick Count Versi Cyrus Network BHS-M Unggul
- Hitungan Sementara Suara Pilkada 2020 di Cianjur
- Cyrus Network: Hasil Quick Count Sementara BHS-M Unggul Disusul Pilar
- Warga Lima Kecamatan di Cianjur Keluhkan Listrik Mati, Ini Disampaikan PLN
Mari berhenti mengukur keberhasilan pejabat dari kemeriahan acara. Mari ukur dari berapa banyak warga yang pulang dengan selamat, dengan senyum yang tak dipaksa, dan dengan harapan yang benar-benar hidup.











