Tragedi dalam Pesta, Ketika Kemewahan Bertabrakan dengan Kenyataan
Oleh : Torik Imanurdin

19 Jul 2025, 12:08:06 WIB PERISTIWA
Tragedi dalam Pesta, Ketika Kemewahan Bertabrakan dengan Kenyataan

Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.


Pinusnews.id - Seharusnya pesta pernikahan menjadi momen sakral yang mempertemukan kebahagiaan dan harapan. Namun di Garut, kemarin, momen itu berubah menjadi mimpi buruk. Tiga warga meregang nyawa dalam kerumunan pesta rakyat pernikahan anak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dan Wakil Bupati Garut, Putri Karlina. Di antara korban, seorang anak kecil dan lansia — dua sosok yang kerap digadang sebagai "prioritas pembangunan."

Pesta ini, dengan dalih “merakyat,” memamerkan betapa jauhnya jarak antara panggung elite dan realitas rakyat. Di tengah makanan berlimpah dan dekorasi mewah, ribuan warga berdesakan demi sepiring nasi. Di mana nilai kemanusiaan saat antusiasme berubah menjadi bencana? Ketika keramaian tak terkendali karena sistem pengamanan yang tak siap, pertanyaannya bukan lagi “bagaimana ini bisa terjadi,” tetapi “mengapa kita membiarkannya terjadi?”

Pesta rakyat bukan panggung politik. Ia bukan sekadar hiburan kolektif, melainkan janji etis: bahwa rakyat tidak hanya menjadi penonton, apalagi korban, dalam sandiwara seremonial kekuasaan. Tragedi ini adalah pengingat pahit bahwa niat baik tidak cukup jika tidak dibarengi tanggung jawab dan sensitivitas sosial.

Baca Lainnya :

Mari berhenti mengukur keberhasilan pejabat dari kemeriahan acara. Mari ukur dari berapa banyak warga yang pulang dengan selamat, dengan senyum yang tak dipaksa, dan dengan harapan yang benar-benar hidup.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment