- Dr. Euis Latifah, M.Pd. Raih Penghargaan sebagai Dosen Inovatif dalam ToT Perma Pendis 2026
- Rektor IAI Al-Azhary Raih Perma Pendis Award 2026 sebagai Rektor Visioner di Tengah Kegiatan ToT
- BAZNAS Cianjur Apresiasi UPZ IGTKI-PGRI Sukses Tingkatkan ZIS
- Koperasi Merah Putih: Jembatan Kemandirian Ekonomi Cianjur Menuju Kesejahteraan Nyata
- Bupati Wahyu dalam Rembug Warga Cianjur: Langkah Nyata Menuju Kesejahteraan Inklusif
- Cari Solusi Agar Gaji Guru Honorer Dibayar, KDM Segera Temui Menteri PAN-RB
- Panggil Kapolri, Presiden Prabowo Bahas Keamanan Nasional dan Program Strategis Polri
- Kesuksesan Bidang SMP Disdikpora Cianjur dalam Menggelar Tes Kemampuan Akademik 2026
- Bupati Wahyu: Koperasi Pilar Utama Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Cianjur
- Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) Siap Dibangun di Jawa Barat Mulai Juni 2026
Sudah 80 Tahun Merdeka, Tapi di Cianjur Ada Murid Belajar di Sekolah Mirip Saung, DPRD Buka Suara

Keterangan Gambar : Siswa-siswi kelas jauh SDN Harapanjaya di Desa Karyabakti, Cidaun, Cianjur Selatan, masih belajar di dalam bangunan reyot seperti saung.
Pinusnews.id - Di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, potret memilukan justru terlihat di Kampung Sangkalan, Desa Karyabakti, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur.
Sebanyak 58 siswa-siswi kelas jauh SDN Harapanjaya masih harus menjalani proses belajar mengajar di bangunan reyot yang lebih mirip saung daripada ruang kelas.
Kondisi ini terungkap saat anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, Dicki Ismail, melakukan reses ke wilayah Cianjur selatan. Ia menyebutkan bahwa sekolah yang terletak di perbatasan desa tersebut, sudah beroperasi lebih dari enam tahun dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Baca Lainnya :
- BNN RI Intip Program Desa Bersih Narkoba di Cianjur
- LPM Sindangraja Pertanyakan SK Ada Dua, Ini Penjelasan Pemdes
- PLN ULP Tanggeung: Hindari Cuaca Ekstrem dan Jauhi Jaringan Listrik
- Pom Mini Hangus Terbakar dan Meledak di Sukaluyu
- Manajemen Qoha Ajak Patuhi Prokes 3M dan Konsumsi Air Minum Sehat
“Bangunannya jauh dari layak, seperti saung yang kumuh dan tanpa mebeler. Ini sangat memprihatinkan,” ujar Dicki, Selasa (5/8/2025) kemarin.
Ia menambahkan, meskipun sarana sangat terbatas, sekolah ini sudah berhasil meluluskan dua angkatan dengan hanya dibantu oleh dua guru honorer. Ini menjadi bukti semangat belajar siswa dan dedikasi guru, meskipun nyaris tanpa dukungan fasilitas dari pemerintah.
“Ironis, setelah 80 tahun Indonesia merdeka, masih ada anak-anak bangsa yang belajar di tempat yang sangat tidak layak. Ini tamparan bagi kita semua,” tegasnya.
Dicki menyatakan pihaknya akan mengawal penuh usulan pembangunan sekolah tersebut agar bisa direalisasikan di atas tanah carik desa. Ia pun telah berkoordinasi dengan Kordik Cidaun dan Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, agar pembangunan sekolah menjadi prioritas.
“Anak-anak ini adalah bagian dari masa depan bangsa. Mereka berhak mendapatkan tempat belajar yang layak dan aman,” pungkasnya. (tim dens).











