- Dr. Euis Latifah, M.Pd. Raih Penghargaan sebagai Dosen Inovatif dalam ToT Perma Pendis 2026
- Rektor IAI Al-Azhary Raih Perma Pendis Award 2026 sebagai Rektor Visioner di Tengah Kegiatan ToT
- BAZNAS Cianjur Apresiasi UPZ IGTKI-PGRI Sukses Tingkatkan ZIS
- Koperasi Merah Putih: Jembatan Kemandirian Ekonomi Cianjur Menuju Kesejahteraan Nyata
- Bupati Wahyu dalam Rembug Warga Cianjur: Langkah Nyata Menuju Kesejahteraan Inklusif
- Cari Solusi Agar Gaji Guru Honorer Dibayar, KDM Segera Temui Menteri PAN-RB
- Panggil Kapolri, Presiden Prabowo Bahas Keamanan Nasional dan Program Strategis Polri
- Kesuksesan Bidang SMP Disdikpora Cianjur dalam Menggelar Tes Kemampuan Akademik 2026
- Bupati Wahyu: Koperasi Pilar Utama Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Cianjur
- Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) Siap Dibangun di Jawa Barat Mulai Juni 2026
Saat PKBM Salah Arah

Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Oleh: Torik Imanurdin, M.Pd.
Pengurus Bidang Organisasi BMPS Kab. Cianjur
Pinusnews.id - Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) diharapkan menjadi solusi bagi warga, yang tidak sempat menyelesaikan pendidikan formal karena keterbatasan ekonomi, geografis, atau sosial. Namun, realita di lapangan—khususnya di Kabupaten Cianjur—menunjukkan arah yang justru menyimpang dari tujuan awal pembentukannya.
Baca Lainnya :
- Laka Tunggal, Mobil Pick Up Terjun Bebas ke Jurang di Naringgul
- Gegerkan Warga, Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Ditemukan di Sungai Cikondang Cibeber Cianjur
- BPBD Cianjur : Tebing Pasir atau Hutan Rawan Longsor di Cianjur, Sudah Terakomodir 2021
- Rustiman KPU Cianjur : 99 Persen Masyarakat Tahu 9 Desember Ada Apa?
- Perlu Perhatian Serius, Tebing Pasir Cilumping di Cibeber Rawan LongsorÂ
Sorotan Bupati Cianjur, dr Mohammad Wahyu Ferdian, terkait praktik PKBM yang merekrut peserta didik usia produktif, patut diapresiasi dan ditindaklanjuti dengan serius. Karena sejatinya, anak usia sekolah yang masih mampu menempuh pendidikan formal semestinya berada di ruang kelas sekolah, bukan di jalur pendidikan nonformal yang tidak didesain untuk kelompok usia tersebut.
Fenomena ini bukan sekadar penyimpangan administratif. Ia membawa dampak sistemik terhadap kualitas pendidikan daerah. Indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM), terutama Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS), sangat dipengaruhi oleh keberadaan dan keikutsertaan siswa dalam jalur pendidikan formal. Ketika siswa usia produktif justru didorong masuk PKBM, maka data pendidikan daerah bisa terdistorsi dan pembangunan kualitas manusia menjadi semu.
Ironisnya, di tengah ambisi daerah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, masih terdapat lembaga pendidikan nonformal yang lebih mengejar angka ketuntasan atau bahkan menjelma sebagai pabrik ijazah cepat saji. Bila hal ini dibiarkan, maka PKBM bukan lagi solusi, tetapi justru menjadi masalah baru dalam dunia pendidikan lokal.
Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Cianjur melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh PKBM yang beroperasi. Fungsi pengawasan perlu diperkuat. Jangan sampai nama besar pendidikan nonformal tercoreng oleh praktik-praktik pragmatis yang mencederai semangat mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan adalah urusan serius, bukan formalitas administratif. Dan semua jalurnya—baik formal maupun nonformal—harus dijaga tetap pada relnya.











