- Dr. Euis Latifah, M.Pd. Raih Penghargaan sebagai Dosen Inovatif dalam ToT Perma Pendis 2026
- Rektor IAI Al-Azhary Raih Perma Pendis Award 2026 sebagai Rektor Visioner di Tengah Kegiatan ToT
- BAZNAS Cianjur Apresiasi UPZ IGTKI-PGRI Sukses Tingkatkan ZIS
- Koperasi Merah Putih: Jembatan Kemandirian Ekonomi Cianjur Menuju Kesejahteraan Nyata
- Bupati Wahyu dalam Rembug Warga Cianjur: Langkah Nyata Menuju Kesejahteraan Inklusif
- Cari Solusi Agar Gaji Guru Honorer Dibayar, KDM Segera Temui Menteri PAN-RB
- Panggil Kapolri, Presiden Prabowo Bahas Keamanan Nasional dan Program Strategis Polri
- Kesuksesan Bidang SMP Disdikpora Cianjur dalam Menggelar Tes Kemampuan Akademik 2026
- Bupati Wahyu: Koperasi Pilar Utama Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Cianjur
- Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) Siap Dibangun di Jawa Barat Mulai Juni 2026
Merah Putih: One for All-Nasionalisme yang Gagal Berbahasa

Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Oleh: Torik Imanurdin, S.Pd., M.Pd.
Alumni Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Suryakancana Cianjur
Baca Lainnya :
- Peranan PT. Bukit Naga Mas Kembangkan UMKM di Cianjur
- Ini Hasil Penghitungan Suara Pilkada Cianjur 2020
- Geger, Mayat Pria Ditemukan Meninggal  dalam Rumah
- BNN RI Intip Program Desa Bersih Narkoba di Cianjur
- LPM Sindangraja Pertanyakan SK Ada Dua, Ini Penjelasan Pemdes
Pinusnews.id - Film animasi Merah Putih: One for All diposisikan sebagai persembahan menjelang HUT ke-80 Republik Indonesia. Temanya mulia: anak-anak dari berbagai suku bersatu menjaga bendera pusaka. Namun, dari sekian banyak hal yang bisa dibicarakan, saya justru tertarik pada sesuatu yang paling dasar, judulnya.
“One for All.”
Pertanyaannya sederhana: mengapa harus bahasa Inggris?
Apakah “Satu untuk Semua” terdengar kurang keren?
Apakah “Bersatu untuk Negeri” tidak cukup menjual?
Sebagai pendidik dan alumni sastra, saya melihat ini bukan sekadar urusan gaya. Ini adalah soal identitas dan konsistensi. Kita berbicara tentang Merah Putih, tentang kebanggaan nasional, tapi malu memakai bahasa Indonesia. Ironisnya, film ini ditujukan untuk anak-anak, termasuk anak di desa, di pesantren, di sekolah luar biasa. Mereka tumbuh dengan bahasa ibu, bukan idiom asing.
Judul berbahasa Inggris bukan hanya membingungkan, tapi juga memberi pesan implisit: nasionalisme baru dianggap keren jika dikemas dengan bahasa global. Padahal, bahasa Indonesia memiliki kekuatan simbolik yang tidak tergantikan. Ia adalah perekat bangsa, warisan Sumpah Pemuda, dan instrumen pembentuk imajinasi kolektif yang mempersatukan ratusan etnis dan bahasa daerah.
Ahli bahasa Joshua A. Fishman pernah menegaskan bahwa bahasa nasional adalah instrumen penting dalam membentuk dan memelihara identitas kolektif. Benedict Anderson, melalui konsep Imagined Communities, juga menunjukkan bagaimana bahasa lokal dalam media publik membentuk rasa kebersamaan suatu bangsa. Mengganti bahasa nasional dengan bahasa asing pada simbol yang seharusnya membangkitkan kebanggaan nasional sama saja dengan mengaburkan cermin yang memantulkan wajah kita sendiri.
Secara pedagogis, pilihan ini pun keliru. Anak-anak membangun ikatan emosional dengan simbol bangsa melalui bahasa yang mereka kuasai. Jika dari awal mereka diajarkan bahwa kebanggaan nasional boleh “dijual” dengan bahasa asing, maka kita sedang membangun generasi yang menganggap simbol sendiri kurang layak tampil tanpa stempel global.
Jika benar ingin membangkitkan nasionalisme, mulailah dari hal yang paling sederhana: pakailah bahasa kita sendiri di ruang publik, apalagi untuk karya yang mengusung tema kebangsaan. Sebuah judul seperti Satu untuk Semua atau Bersatu untuk Negeri akan terdengar lantang, mudah dipahami, dan sarat makna emosional bagi seluruh anak negeri.
Bahasa bukan hanya soal kata, ia adalah cara kita menyebut diri, mencintai negeri, dan membangun masa depan. Mengajarkan cinta Merah Putih lewat judul asing sama saja seperti mengibarkan bendera kita dengan tiang orang lain: tetap berkibar, tapi kehilangan makna yang seharusnya kita jaga.











