- DPPKBP3A Cianjur Raih Penghargaan Kampung KB dan Rumah Data Kependudukan
- Jejak Hilman Saukani Membawa BAZNAS Cianjur Lebih Transparan dan Dipercaya
- Menabur Kepedulian, Menuai Kesiapsiagaan: Ribuan Pelajar Cianjur Ikuti Pelatihan dan Pelantikan PMR
- DPPKBP3A Cianjur Kukuhkan SD Ibu Jenab 2 sebagai Sekolah Ramah Anak
- Syukuran dan Komitmen Disbudpar Cianjur Menumbuhkan Kampung Budaya Padi Pandanwangi
- SIROJA, Ikhtiar Camat Mande Memperkuat Ketakwaan dan Kebersamaan
- DLH Cianjur Ajak Warga Bersihkan Sampah untuk Lingkungan yang Nyaman dan Sehat
- DPRD Cianjur Sepakati Perubahan APBD 2026: Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Rakyat
- Revitalisasi SMPS Karakter Daarul Arsyad: Wajah Baru Sekolah dan Bangkitkan Semangat Belajar
- BAZNAS Cianjur dan Sholat Istisqo: Dari Doa dan Sedekah Harapkan Hujan di Cianjur
KUDA KOSONG Jalan Suryakencana 11 dan Anak-Anak yang Tak Terlihat
Oleh: Torik Imanurdin Ketua Yayasan SLB Bina Asih Cianjur
3.jpg)
Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Pinusnews.id - Di Cianjur, setiap helaran budaya menyuguhkan satu pemandangan yang tak pernah gagal memikat: seekor kuda berhias hijau melintas tanpa penunggang. Ia disebut Kuda Kosong, simbol spiritual yang dipercaya ditunggangi secara gaib oleh Eyang Suryakencana, tokoh mistis penjaga tanah Cianjur.
Nama Suryakencana kini diabadikan di berbagai ruang: dari Alun-Alun Suryakencana, Universitas Suryakancana, hingga Jalan Suryakencana yang membelah denyut kehidupan kota. Namun di Jl. Suryakencana No.11, Sawah Gede, berdiri sebuah lembaga yang justru luput dari perhatian: SLB Bina Asih Cianjur, tempat anak-anak dengan kebutuhan khusus belajar dalam senyap.
SLB ini bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah ruang perlawanan terhadap keterbatasan, tempat anak-anak menunggangi tantangan hidup dengan keberanian yang tak kalah dari legenda. Tapi perhatian publik dan kebijakan sering kali absen. Mereka yang belajar di sana, seperti Kuda Kosong, hadir tanpa sorotan, tanpa penunggang kebijakan yang berpihak.
Baca Lainnya :
- Pemdes Tanjungsari Sukaluyu Bagikan BLT
- Peranan PT. Bukit Naga Mas Kembangkan UMKM di Cianjur
- Ini Hasil Penghitungan Suara Pilkada Cianjur 2020
- Geger, Mayat Pria Ditemukan Meninggal  dalam Rumah
- BNN RI Intip Program Desa Bersih Narkoba di Cianjur
Ironisnya, kita begitu antusias mengarak simbol spiritual, namun abai terhadap realitas sosial yang ada di bawahnya. Kita menyebut nama Eyang Suryakencana dengan hormat, namun membiarkan anak-anak yang seharusnya dijaga oleh semangat beliau hidup dalam keterbatasan fasilitas, pengakuan, dan dukungan.
Sudah saatnya kita berhenti hanya mengarak simbol. Kita perlu menunggangi makna. Jalan Suryakencana bukan hanya jalur budaya, tapi harus menjadi jalur keadilan sosial. SLB di sana bukan hanya bangunan, tapi cermin dari komitmen kita terhadap inklusivitas.
Jika Eyang Suryakencana dipercaya hadir secara gaib untuk menjaga Cianjur, maka kita—yang hadir secara nyata—harus berani menjaga mereka yang tak terlihat. Karena sesungguhnya, yang paling kosong bukanlah kuda itu, melainkan hati dan kebijakan yang tak mampu melihat.











