- Dr. Euis Latifah, M.Pd. Raih Penghargaan sebagai Dosen Inovatif dalam ToT Perma Pendis 2026
- Rektor IAI Al-Azhary Raih Perma Pendis Award 2026 sebagai Rektor Visioner di Tengah Kegiatan ToT
- BAZNAS Cianjur Apresiasi UPZ IGTKI-PGRI Sukses Tingkatkan ZIS
- Koperasi Merah Putih: Jembatan Kemandirian Ekonomi Cianjur Menuju Kesejahteraan Nyata
- Bupati Wahyu dalam Rembug Warga Cianjur: Langkah Nyata Menuju Kesejahteraan Inklusif
- Cari Solusi Agar Gaji Guru Honorer Dibayar, KDM Segera Temui Menteri PAN-RB
- Panggil Kapolri, Presiden Prabowo Bahas Keamanan Nasional dan Program Strategis Polri
- Kesuksesan Bidang SMP Disdikpora Cianjur dalam Menggelar Tes Kemampuan Akademik 2026
- Bupati Wahyu: Koperasi Pilar Utama Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Cianjur
- Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) Siap Dibangun di Jawa Barat Mulai Juni 2026
KUDA KOSONG Jalan Suryakencana 11 dan Anak-Anak yang Tak Terlihat
Oleh: Torik Imanurdin Ketua Yayasan SLB Bina Asih Cianjur
3.jpg)
Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Pinusnews.id - Di Cianjur, setiap helaran budaya menyuguhkan satu pemandangan yang tak pernah gagal memikat: seekor kuda berhias hijau melintas tanpa penunggang. Ia disebut Kuda Kosong, simbol spiritual yang dipercaya ditunggangi secara gaib oleh Eyang Suryakencana, tokoh mistis penjaga tanah Cianjur.
Nama Suryakencana kini diabadikan di berbagai ruang: dari Alun-Alun Suryakencana, Universitas Suryakancana, hingga Jalan Suryakencana yang membelah denyut kehidupan kota. Namun di Jl. Suryakencana No.11, Sawah Gede, berdiri sebuah lembaga yang justru luput dari perhatian: SLB Bina Asih Cianjur, tempat anak-anak dengan kebutuhan khusus belajar dalam senyap.
SLB ini bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah ruang perlawanan terhadap keterbatasan, tempat anak-anak menunggangi tantangan hidup dengan keberanian yang tak kalah dari legenda. Tapi perhatian publik dan kebijakan sering kali absen. Mereka yang belajar di sana, seperti Kuda Kosong, hadir tanpa sorotan, tanpa penunggang kebijakan yang berpihak.
Baca Lainnya :
- Pemdes Tanjungsari Sukaluyu Bagikan BLT
- Peranan PT. Bukit Naga Mas Kembangkan UMKM di Cianjur
- Ini Hasil Penghitungan Suara Pilkada Cianjur 2020
- Geger, Mayat Pria Ditemukan Meninggal  dalam Rumah
- BNN RI Intip Program Desa Bersih Narkoba di Cianjur
Ironisnya, kita begitu antusias mengarak simbol spiritual, namun abai terhadap realitas sosial yang ada di bawahnya. Kita menyebut nama Eyang Suryakencana dengan hormat, namun membiarkan anak-anak yang seharusnya dijaga oleh semangat beliau hidup dalam keterbatasan fasilitas, pengakuan, dan dukungan.
Sudah saatnya kita berhenti hanya mengarak simbol. Kita perlu menunggangi makna. Jalan Suryakencana bukan hanya jalur budaya, tapi harus menjadi jalur keadilan sosial. SLB di sana bukan hanya bangunan, tapi cermin dari komitmen kita terhadap inklusivitas.
Jika Eyang Suryakencana dipercaya hadir secara gaib untuk menjaga Cianjur, maka kita—yang hadir secara nyata—harus berani menjaga mereka yang tak terlihat. Karena sesungguhnya, yang paling kosong bukanlah kuda itu, melainkan hati dan kebijakan yang tak mampu melihat.











